UNGKAP PENYEBAB KEMATIAN Polres Solsel Ambil Langkah Ekshumasi Kubur Korban

 UNGKAP PENYEBAB KEMATIAN 

Polres Solsel Ambil Langkah Ekshumasi Kubur Korban

Solok Selatan, Pionir—Guna memastikan kematian tiga saudara yang awalnya diduga meninggal akibat keracunan di Nagari Pasir Talang Selatan, Kecamatan Sungai Pagu, Solok Selatan (Solsel), Sumbar, Senin (30/8/2021), Polres daerah setempat mengambil langkah melalukan ekshumasi atau pembongkaran makam salah satu dari ketiga anak tersebut, yang sebelumnya sempat mengalami muntah darah, pada Rabu 15 September 2021.

Pembongkaran dan otopsi juga disaksikan oleh orang tua kandung ketiga anak tersebut. Selanjutnya sampel dari jenazah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Padang.

Kata Kapolres Solok Selatan AKBP Teddy Purnanto SIK melalui Kasat Reskrim AKP Dwi Purwanto yang dihubungi Khazanah, Kamis (16/9), pembongkaran makam itu dilakukan untuk kepentingan penyelidikan, mengetahui penyebab kematian ketiga anak tersebut.

Dikatakannya, setelah otopsi nanti akan semakin terang penyebab kematian tiga orang anak tersebut. Karena kata dia, sebelumnya saat dinyatakan meninggal dunia, orang tua ketiga anak tersebut menolak untuk dilakukan otopsi. Namun setelah hasil uji sampel negatif, orang tua anak tersebut akhirnya menyetujui dilakukan autopsi.

"Alhamdulillah saat olah TKP di lapangan, bahwa orang tua kandung korban setuju untuk membuat laporan dan juga setuju dilakukan otopsi. Dengan syarat hanya satu orang anaknya yang diotopsi. Nah, kita bongkar satu makam anak yang sempat mengalami muntah darah. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa kita ungkap penyebab kematiannya," ujarnya. 

Dwi Purwanto mengatakan, sebelum melakukan pembongkaran tersebut, Kapolres Solok Selatan bersama jajarannya telah berkordinasi dengan Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sumbar untuk mendatangkan dokter dan tim ahli dalam proses pembongkaran makam salah satu korban dan melakukan otopsi. 

"Kita berharap setelah ini akan bisa diketahui apakah anak ini diracun atau keracunan. Ini perkara besar harus diatensi dan diproses secepatanya," jelas Dwi Purwanto.

Dikatakan, sebelumnya, tiga anak yang merupakan adik kakak ini meninggal dunia secara mendadak. Uji sampel terhadap makanan yang dicurigai juga telah dilakukan BBPOM di Padang. Hasil uji sampel menunjukkan makanan itu tidak mengandung racun atau arsen dan sianida. Sampel yang diperiksa yaitu makanan ringan, kerupuk Palembang dan kerupuk ubi.

Sementara itu Kabid Dokkes Polda Sumbar, Kombes Pol drg. Lisda Cancer, M. Biotech pada Khazanah pernah mengatakan, menentukan saat kematian dan penyebab kematian penting  dilakukan baik pada kasus kriminal atau sipil.  

Untuk itu kata perwira menengah yang merupakan ahli forensik ini, langkah ekshumasi atau penggalian mayat atau pembongkaran kubur perlu dilakukan demi keadilan oleh yang berwenang dan berkepentingan dimana selanjutnya mayat tersebut diperiksa secara ilmu kedokteran forensik.

“Dari hasil ekshumasi dapat dilihat temuan pemeriksaan pada mayat yang dapat menentukan atau memperkirakan lama kematian dan penyebab kematian,” kata wanita putra asli Nagari Sulit Air, Kecamatan X Koto Diatas, Kabupaten Solok ini.

Ia mengatakan, kematian  adalah  suatu proses yang dapat dikenali secara klinis pada seseorang melalui tanda kematian yaitu perubahan yang terjadi pada mayat.  Memperkirakan  saat  kematian  yang  mendekati ketepatan mempunyai arti penting khusunya bila dikaitkan dengan proses penyidikan. 

Dengan demikian penyidik  dapat  lebih terarah  dan  selektif  di  dalam melakukan pemeriksaan terhadap para tersangka pelaku tindak pidana,” kata Kombes Lisda berbagi ilmu pengetahuan.

Dikatakannya, dibanding proses autopsi jenazah yang masih baru dan lengkap, autopsi rangka jauh lebih rumit. Jenazah yang utuh masih memiliki jaringan lunak dan organ dalam. Penyebab kematian seperti karena luka-luka, kehabisan darah, diracun, atau kehabisan napas, dapat ditelusuri lewat banyak petunjuk. Petunjuk-petunjuk itulah yang sukar ditelusuri dalam autopsi rangka karena jaringan lunak sudah membusuk bahkan lenyap. 

Namun begitu, kata Kombes Lisda menjelaskan, berkat perkembangan keilmuan dan teknologi, para ahli forensik bisa memperoleh informasi sebanyak mungkin dari rangka manusia. Yang paling utama adalah identifikasi seperti menentukan ras, jenis kelamin, usia, dan perawakan dari rangka tersebut. Selanjutnya, menelusuri bukti cedera yang bisa diduga sebagai penyebab kematian. (Firman Sikumbang)


Post a Comment

0 Comments