Ketika Gelar Menjadi Amanah, Rajo Magek Dilewakan, Adat Diteruskan

iklan adsense

Ketika Gelar Menjadi Amanah, Rajo Magek Dilewakan, Adat Diteruskan.

Rumah Gadang Kaum Sikumbang

Padang, Pionir----Sabtu, 17 Januari 2026, Gedung Rohana Kudus di kawasan GOR Haji Agus Salim, Padang, tidak hanya akan menjadi ruang berkumpulnya para pemangku adat. Di tempat itu, satu rangkaian peristiwa penting akan terajut rapi dimulai dari doa pernikahan, lalu berujung pada peneguhan amanah adat. 

Sebelum prosesi malewakan gala dilangsungkan, terlebih dahulu akan digelar resepsi pernikahan Bima Govaroli, kemenakan Firman Sikumbang yang dikenal sebagai Uda Kota Padang Tahun 2018. Resepsi ini bukan sekadar pesta, melainkan pembuka jalan adat, sebab dalam Minangkabau, pernikahan adalah pintu kedewasaan, tempat seorang anak kemenakan ditegakkan martabatnya sebagai bagian utuh dari kaum.

Baru setelah doa pernikahan dipanjatkan dan restu keluarga disematkan, adat akan mengambil alih. Para niniak mamak, mamak kaum, dan kemenakan akan duduk bersama dalam satu barisan nilai, untuk melangsungkan prosesi melewakan gelar Rajo Magek kepada Firman Sikumbang, yang dijadwalkan akan dikukuhkan sebagai Rang Tuo Adat Suku Sikumbang.

Gelar Rajo Magek bukanlah gelar yang datang tiba-tiba. Ia adalah amanah yang diwariskan. Sebelumnya, gelar ini disandang oleh almarhum H. Musawir. Seiring wafatnya beliau, tonggak kepemimpinan kaum tidak boleh kosong.  Adat Minangkabau mengajarkan bahwa yang patah harus disambung, yang hilang harus diganti, agar kaum tetap tegak dan terarah.

Firman Sikumbang dinilai sebagai sosok yang layak memikul amanah itu. Ketokohannya diuji bukan hanya dalam forum resmi, tetapi juga dalam keseharian dalam keberpihakan pada kaum, kesediaan mengabdi, dan kesetiaannya menjaga nilai adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

Menariknya, rangkaian adat hari itu juga akan dilengkapi dengan batagak gala untuk Bima Govaroli. Setelah dipersatukan dalam ikatan pernikahan, kemenakan Firman Sikumbang ini akan ditegakkan pula identitas adatnya, sebuah pesan simbolik bahwa kedewasaan, tanggung jawab keluarga, dan kewajiban adat berjalan seiring.

Dalam satu hari, dua peristiwa penting akan bersatu, pernikahan yang mengikat dua insan, dan adat yang mengikat sebuah kaum. Firman Sikumbang akan melangkah sebagai pemimpin kaum, sementara Bima Govaroli akan melangkah sebagai generasi penerus yang telah ditegakkan martabat dan tanggung jawabnya.

Gedung Rohana Kudus pada hari itu bukan sekadar tempat pesta dan prosesi. Ia akan menjadi ruang pertemuan antara cinta dan amanah, antara doa dan adat, antara masa kini dan masa depan Minangkabau.

Karena dalam adat, setiap tahapan kehidupan tidak berdiri sendiri. Pernikahan adalah pintu, gelar adalah tanggung jawab, dan kaum adalah rumah tempat semua nilai itu bermuara. Pada Sabtu nanti, semuanya akan disatukan dalam doa, dalam adat, dan dalam amanah yang kelak harus dijaga hingga akhir hayat. (*)

iklan adsense

Post a Comment

0 Comments