Setetes Darah, Jejak Pengabdian Bintara Remaja
Kegiatan donor darah ini menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-18 Partai Gerindra Provinsi Sumatera Barat. Di tengah kesibukan tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, para personel muda Polri itu menyempatkan diri menegaskan bahwa pengabdian tidak selalu hadir dalam bentuk seragam dan operasi lapangan, tetapi juga melalui setetes darah yang memberi harapan hidup bagi sesama.
Di bawah kendali Kasubdit Dalmas Kompol Maman Rosadi, S.H., kegiatan berlangsung tertib dan penuh semangat. Ia didampingi Danton Ipda Rasul Hamidi, S.H., M.H., serta Danton Ipda Riki Novialdi, S.H., M.H., bersama 50 personel Bintara Remaja Angkatan 54 yang secara bergiliran mengikuti proses donor. Wajah-wajah muda itu tampak tenang, sebagian tersenyum ringan, seolah memahami bahwa tindakan kecil yang mereka lakukan hari itu memiliki arti besar bagi orang lain yang membutuhkan.
Direktur Samapta Polda Sumatera Barat, Kombes Pol Akmadi, S.I.K., menegaskan bahwa kegiatan sosial seperti donor darah merupakan bagian penting dari nilai kemanusiaan yang harus terus tumbuh di lingkungan Polri. Menurutnya, kepedulian terhadap sesama menjadi fondasi pengabdian yang tidak terpisahkan dari tugas menjaga keamanan.
Melalui kegiatan ini, Polri tidak hanya hadir sebagai penjaga ketertiban, tetapi juga sebagai sahabat masyarakat yang siap membantu dalam berbagai situasi. Donor darah menjadi simbol nyata bahwa hubungan antara aparat dan masyarakat dibangun bukan semata oleh kewenangan, melainkan oleh empati dan rasa kemanusiaan.
Bagi para Bintara Remaja Angkatan 54, momen tersebut juga menjadi ruang pembelajaran. Di awal perjalanan karier mereka sebagai anggota Polri, nilai solidaritas dan kepedulian sosial ditanamkan melalui tindakan nyata. Setiap kantong darah yang terkumpul bukan hanya menambah stok di PMI, tetapi juga menegaskan komitmen generasi muda Polri untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat.
Di penghujung kegiatan, suasana hangat terasa menyelimuti ruangan. Percakapan ringan, tawa kecil, dan rasa lega setelah berbagi menjadi penutup yang sederhana. Dari Gedung Beladiri itu, tersirat pesan kuat, pengabdian tidak selalu harus terlihat besar. Terkadang, ia cukup hadir dalam setetes darah, yang diam-diam menyelamatkan kehidupan. Dan di situlah, jejak kemanusiaan para Bintara Remaja mulai ditorehkan. (Firman Sikumbang)


0 Comments