Adat Jangan Sekadar Slogan: Wahai Pemerintah, Majulah Bersama Kami

iklan adsense

Adat Jangan Sekadar Slogan: Wahai Pemerintah, Majulah Bersama Kami

Oleh : Firman Sikumbang

Teh Talua RM. Talago Biru

Kegelisahan publik di Sumatera Barat belakangan ini bukan tanpa alasan. Di tengah derasnya arus globalisasi dan kebebasan digital, sebagian masyarakat menilai nilai-nilai adat di Minangkabau mulai kehilangan daya jangkarnya. Ungkapan “adat tinggal di atas kertas” pun ramai berseliweran di ruang-ruang diskusi dan media sosial.

Berbagai persoalan sosial seperti penyalahgunaan narkotika, degradasi moral generasi muda, hingga melemahnya pengawasan lingkungan menjadi sorotan. Sebagian masyarakat menilai pemerintah belum cukup sigap menjawab keresahan yang kian terasa di tengah kehidupan sehari-hari. Sementara itu, adat dan norma yang selama ini menjadi benteng sosial seolah hanya digaungkan dalam slogan tanpa penguatan nyata di lapangan.

Adat tidak akan hidup hanya dengan seruan. Ia hidup jika dijalankan. Ia kuat jika diteladani. Dan ia akan tetap relevan jika mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri. 

Filosofi “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” bukan sekadar kalimat indah, melainkan pedoman hidup yang menuntut implementasi.

Tokoh pegiat sosial kemasyarakatan, Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Sumatera Barat, dan Ketua Lembaga Anti Narkotika (LAN) Provinsi Sumatera Barat, Firman Sikumbang, menyampaikan kritik sekaligus ajakan terbuka kepada semua pihak.

“Adat jangan hanya jadi slogan di spanduk. Kalau kita sepakat menjaga marwah Ranah Minang, maka semua unsur, pemerintah, tokoh adat, alim ulama, dan orang tua, harus bergerak bersama. Jangan biarkan generasi kehilangan arah karena kita lalai menjaga nilai yang diwariskan.”

Seruan itu bukan sekadar kritik, melainkan panggilan untuk bersatu. Wahai pemerintah, majulah bersama kami. Kami menunggu jawaban. Duduklah bersama masyarakat. Dengarkan kegelisahan yang tumbuh dari bawah. Wujudkan kebijakan yang berpihak pada perlindungan generasi muda. Perkuat pendidikan karakter, tegakkan aturan secara adil, dan hadirkan program nyata yang menyentuh akar persoalan.

Menjaga marwah Ranah Minang bukan tugas satu pihak. Pemerintah memiliki kewenangan, masyarakat memiliki kekuatan moral, dan adat memiliki fondasi nilai. Jika ketiganya berjalan beriringan, maka tantangan sebesar apa pun dapat dihadapi.

Ranahminang ini besar karena adatnya kuat Namun jika adat hanya menjadi simbol, ia akan kehilangan makna. Seperti teh talua tamba gula. 

Kita berharap pemerintah hadir bersama masyarakat, maka marwah itu tidak akan pernah pudar. 

iklan adsense

Post a Comment

0 Comments