Firman Sikumbang, Jangan Coreng Adat dan Marwah Minang
Firman Sikumbang
Menurut Firman, pernyataan tersebut tidak hanya memicu polemik, tetapi juga berpotensi menyinggung perasaan masyarakat di Ranah Minang yang selama ini menjaga kehormatan dan nilai-nilai budaya dengan penuh tanggung jawab.
“Pernyataan itu sudah membuat gaduh di tengah masyarakat. Jangan coreng adat kami, jangan coreng kampung kami. Kami di Minangkabau baik-baik saja, aman-aman saja. Jangan rusak marwah adat kami,” tegas Firman.
Ia menilai bahwa adat Minangkabau memiliki tatanan dan mekanisme yang jelas dalam setiap persoalan, termasuk yang berkaitan dengan penghormatan adat maupun pemberian gelar. Karena itu, menurutnya, hal-hal yang berkaitan dengan adat tidak semestinya disampaikan secara sembarangan di ruang publik tanpa mempertimbangkan sensitivitas masyarakat Minang.
Firman juga mengingatkan bahwa marwah adat Minangkabau merupakan simbol kehormatan bersama yang telah dijaga secara turun-temurun oleh para niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, serta seluruh anak nagari.
“Sudah saatnya tokoh muda Minangkabau dan para dubalang bangkit. Jangan biarkan marwah tanah kita diinjak atau dipermainkan oleh kepentingan apa pun. Marwah nagari adalah harga diri kita bersama,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh generasi muda Minangkabau untuk tidak bersikap apatis terhadap persoalan yang menyangkut adat dan kehormatan nagari. Menurutnya, anak nagari memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga nilai-nilai adat agar tetap dihormati.
“Jangan biarkan marwah tanah kita diacak-acak orang lain. Mari kita perjuangkan dan pertahankan bersama, dengan cara yang bermartabat dan tetap berpegang pada falsafah adat Minangkabau,” kata Firman.
Ia pun berharap polemik yang muncul dapat menjadi pengingat bagi semua pihak untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan yang berkaitan dengan adat dan budaya, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. (tim)


0 Comments