iklan adsense

Firman Sikumbang, Jangan Hanya Berdiskusi, Harus Ada Aksi Nyata


Firman Sikumbang


PADANG, PIONIR---Fenomena LGBT yang berkembang di Minangkabau kembali menjadi perhatian berbagai kalangan. Di tengah arus globalisasi dan perubahan sosial yang begitu cepat, persoalan ini dinilai sebagai tantangan serius bagi masyarakat yang selama ini dikenal kuat memegang falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.”

Ketua Forum Anak Nagari (FKAN) Sumatera Barat sekaligus Ketua Lembaga Anti Narkotika (LAN) Provinsi Sumatera Barat, Firman Sikumbang, menyampaikan sikap tegasnya terhadap fenomena tersebut. Menurutnya, kondisi ini tidak bisa dipandang sebelah mata dan tidak cukup hanya dibahas dalam forum diskusi atau seminar semata.

“Tidak ada gunanya berdiskusi kalau tidak ada aksi nyata untuk memberantasnya,” tegas Firman.

Ia menilai, pemerintah daerah di Sumatera Barat harus mengambil langkah konkret melalui kebijakan yang jelas dan terukur. Firman mendorong penguatan regulasi daerah, peningkatan pengawasan, serta program pembinaan generasi muda yang berlandaskan nilai agama dan adat Minangkabau.

Berdasarkan data yang pernah dirilis Perhimpunan Konselor VCT HIV Indonesia pada 2018, terdapat ribuan individu yang terdata dalam kategori LGBT di Sumatera Barat. Sementara itu, Dinas Kesehatan Kota Padang mencatat ratusan kasus HIV dan AIDS sepanjang 2024. Fakta tersebut, menurut Firman, menjadi alarm bagi seluruh elemen masyarakat untuk lebih serius dalam menjaga moral dan ketahanan sosial generasi muda.

Namun demikian, ia menekankan bahwa langkah yang diambil harus tetap mengedepankan pendekatan pembinaan dan edukasi. Peran keluarga dinilai sangat penting sebagai benteng pertama dalam membentuk karakter anak. Selain itu, niniak mamak, bundo kanduang, alim ulama, dan cadiak pandai diharapkan kembali mengambil peran aktif dalam membimbing masyarakat.

Firman Sikumbang juga mengingatkan bahwa Minangkabau memiliki sistem sosial yang khas, termasuk sistem kekerabatan matrilineal yang diwariskan turun-temurun. Menurutnya, menjaga keberlangsungan nilai adat dan budaya merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah, tetapi seluruh lapisan masyarakat.

Ia berharap sinergi antara pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat dapat diwujudkan dalam bentuk program nyata di nagari-nagari. Sosialisasi nilai agama, pendidikan karakter di sekolah, serta kegiatan positif bagi generasi muda harus diperkuat agar tidak terpengaruh oleh arus globalisasi yang dinilai bertentangan dengan norma setempat.

“Ini bukan sekadar isu sosial, tetapi soal menjaga marwah adat dan masa depan generasi Minangkabau,” ujar Firman.

Dengan seruan tersebut, ia mengajak seluruh pihak untuk tidak hanya menjadi penonton atas perubahan zaman, melainkan menjadi pelaku yang aktif dalam menjaga identitas dan nilai luhur Minangkabau. Bagi Firman Sikumbang, diskusi adalah langkah awal, namun aksi nyata adalah kunci utama dalam mempertahankan jati diri masyarakat yang religius, santun, dan berbudaya, tukasnya (Boby)

iklan adsense

Post a Comment

0 Comments