Puisi Religi Ramadhan 1447 H
Cah Angon
Di antara nisan yang sunyi
di bawah langit Tunggul Hitam yang redup
malam berjalan pelan
seperti tasbih yang dilantunkan bumi kepada Tuhan.
Pukul satu lewat tiga puluh malam,
ketika lampu-lampu masjid memanggil jiwa pulang,
ketika jamaah berkumpul bertadarus Al-Qur'an
membasuh dosa dengan melantunkan bacaan Al-Qur'anul karim yang khusyuk.
Tak jauh dari sana,
di tanah yang menyimpan cerita kematian,
dua anak manusia
lelaki dan perempuan
datang dengan langkah tergesa—
bukan untuk mendoakan yang telah pergi,
bukan pula untuk mengingat fana hidup ini.
Mereka datang melampiaskan nafsu birahi,
bagai sepasang suami isteri
yang lebih nyaring dari adzan hati.
Kuburan terdiam.
Angin menahan napas.
Nisan-nisan menatap dengan bisu.
Di tempat yang seharusnya mengajarkan manusia
tentang akhir dari semua keinginan,
tentang sunyi liang lahat,
tentang tubuh yang kembali menjadi tanah—
justru mereka menyalakan api nafsu berahi
yang memalukan bahkan bagi malam.
Dan konon,
di antara pohon-pohon yang tua itu
sesuatu makhluk astral bergerak.
Bukan manusia.
Bukan pula sekadar bayangan.
Ia berdiri dengan rambut panjang yang tergerai,
seorang perempuan cantik dari cerita lama
yang sering ditakuti orang kampung—
kuntilanak, kata mereka.
Namun malam itu
ia tidak datang untuk menakut-nakuti.
Ia justru terlihat heran.
“Manusia…,”
bisiknya pada angin.
“Bukankah kalian yang sering menyebut kami makhluk seram?
Bukankah kalian yang mengaku beriman,
yang mengerti dosa dan pahala?”
Ia menatap dua sosok manusia yang tak peduli pada langit,
tak peduli pada kuburan di sekeliling mereka.
“Aku ini hantu,” katanya lirih,
“katanya makhluk dari dunia gelap.
Namun bahkan aku tahu
kuburan adalah tempat untuk mengingat mati.”
Angin berdesir lebih dingin.
“Aku hanya bayangan dari cerita manusia,
tapi kalian…
kalian adalah makhluk yang diberi akal,
diberi kitab Al-Qur'an,
diberi hikmah Ramadhan.”
Suara dari masjid
mengalun pelan ke arah kuburan—
imam membaca ayat tentang ampunan.
Dan kuntianak itu
konon menghela napas panjang.
“Aneh,” katanya.
“Yang mati justru tahu menghormati kematian.
Yang hidup
malah lupa bahwa mereka akan menyusul.”
Di tanah yang penuh nisan itu
malam terasa lebih berat.
Bukan karena hantu.
Tetapi karena sepasang manusia
lelaki dan perempuan
yang lupa malu kepada Tuhan.
Dan jika benar makhluk-makhluk ghaib
dapat melihat dunia manusia,
mungkin malam itu
bukan manusia yang takut pada kuntianak—
melainkan kuntianak
yang sedih melihat perbuatan sepasang manusia.
Sebab bahkan makhluk yang dianggap menakutkan
masih tahu
bahwa kuburan adalah tempat sunyi
untuk mengingat pulang.
Sedangkan sepasang manusia…
kadang perlu diingatkan
oleh bayangan malam.


0 Comments