PADANG, Pionirnews.com, – Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat(Sumbar), Drs.H.Muhidi,M.M, menunjukkan sikap bersahaja dan penuh kepedulian dengan menggelar open house Idul Fitri 1447 H di rumah dinasnya.
Sebenarnya, open house digelar selama dua hari. Hari pertama pada Sabtu, 21 Maret 2026, khusus untuk menyambut tamu penting, seperti para pejabat.
Baru pada hari kedua, Minggu, 22 Maret 2026 khusus menerima masyarakat umum. Namun masyarakat umum tidak tahu itu, mareka ada juga yang datang hari ini. Security dan petugas dengan penuh keramahan berbalut kesabaran memberi penjelasan pada warga yang datang.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut menjadi ajang silaturrahmi antara pimpinan daerah dengan masyarakat dari berbagai kalangan.
Warga yang hadir tidak hanya bersalaman, tetapi juga berbincang santai hingga berfoto bersama dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.
Muhidi bersama isteri menyambut setiap tamu dengan ramah, tanpa membedakan latar belakang.
Ia menegaskan bahwa, kegiatan ini merupakan bagian dari pelayanan kepada masyarakat serta upaya mempererat hubungan emosional antara pemimpin dan rakyat.
Selain masyarakat umum, unsur Forkopimda juga turut hadir bersilaturrahmi. Dalam kesempatan tersebut, Muhidi menekankan pentingnya menjaga keharmonisan dan sinergi antar pimpinan daerah guna menghadapi berbagai tantangan pembangunan di Sumatera Barat ke depan.
Momentum Idul Fitri 1447H ini memperlihatkan bahwa kepemimpinan tidak hanya diukur dari kebijakan, tetapi juga dari kedekatan dan ketulusan dalam melayani masyarakat. Sikap rendah hati dan dermawan yang ditunjukkan menjadi nilai tersendiri di tengah kehidupan sosial masyarakat Sumbar.
Namun lebih dari sekadar seremonial tahunan, open house ini memiliki makna yang lebih dalam bagi masyarakat Sumatera Barat. Bagi sebagian warga, kesempatan untuk bertemu langsung dengan Ketua DPRD Sumbar bukanlah hal yang datang setiap hari.
Oleh karena itu, momen ini dimanfaatkan tidak hanya untuk bersilaturrahmi, tetapi juga untuk menyampaikan harapan, aspirasi, bahkan keluh kesah yang selama ini dirasakan.
Seorang warga yang hadir, Teuku Husaini mengungkapkan bahwa dirinya merasa dihormati, karena bisa berbicara langsung dengan pimpinan daerah tanpa ada batasan yang kaku.
Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan humanis yang dilakukan Muhidi bukan sekadar simbolik, tetapi benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Di tengah kondisi sosial yang sering kali diwarnai dengan jarak antara pejabat dan rakyat, kehadiran pemimpin yang membuka diri menjadi angin segar. Masyarakat merindukan sosok yang tidak hanya hadir saat kampanye, tetapi juga tetap dekat ketika sudah memegang amanah.
Dalam konteks ini, apa yang dilakukan Muhidi menjadi contoh bahwa jabatan bukanlah penghalang untuk tetap merakyat.
Kegiatan ini juga menjadi cerminan nilai-nilai budaya Minangkabau yang menjunjung tinggi silaturahmi, kebersamaan, dan rasa saling menghormati.
Tradisi open house bukan hanya sekadar menerima tamu, tetapi juga memperkuat ikatan sosial yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat di Sumatera Barat.
Selain itu, suasana Idul Fitri 1447H yang penuh dengan semangat saling memaafkan menjadi momentum yang tepat untuk membangun kembali kepercayaan antara masyarakat dan pemimpin.
Dalam suasana yang cair dan penuh kehangatan, sekat-sekat formalitas seakan hilang, digantikan oleh dialog yang lebih jujur dan terbuka.
Tidak sedikit warga yang datang dari berbagai daerah di Sumbar, bahkan rela menempuh perjalanan jauh demi bisa bersilaturahmi.
Hal ini menunjukkan bahwa figur Muhidi memiliki daya tarik tersendiri di mata masyarakat.
Kesederhanaan sikap dan keterbukaan dalam menerima siapa saja menjadi nilai yang semakin langka, namun sangat dirindukan.
Dalam beberapa kesempatan, Muhidi juga terlihat mendengarkan langsung berbagai persoalan yang disampaikan warga, mulai dari infrastruktur, ekonomi, hingga kesejahteraan sosial.
Meskipun tidak semua permasalahan dapat diselesaikan secara instan, namun sikap mendengar ini sudah menjadi langkah awal yang penting dalam membangun kepercayaan publik.
Sebagai Ketua DPRD Sumbar, posisi Muhidi tentu memiliki peran strategis dalam menentukan arah kebijakan daerah. Namun, di balik peran besar tersebut, ia tetap menunjukkan bahwa kekuasaan tidak harus menciptakan jarak. Justru dengan mendekatkan diri kepada masyarakat, kebijakan yang dihasilkan akan lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan warga.
Nilai religius juga terasa kuat dalam kegiatan ini, Idul Fitri 1447H sebagai momentum kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa menjadi pengingat bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab moral, tidak hanya kepada sesama, tetapi juga kepada Allah SWT.
Dalam konteks kepemimpinan, hal ini berarti bahwa setiap keputusan yang diambil harus dilandasi oleh kejujuran, keadilan, dan niat untuk kebaikan bersama.Kedermawanan yang ditunjukkan Muhidi juga menjadi bagian dari nilai tersebut.Berbagi dengan sesama, membuka pintu bagi siapa saja, dan menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat merupakan bentuk nyata dari implementasi nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
"Sebenarnya tujuan kami datang hanya untuk bersilaturrahmi dan bersalaman, eh bisa berfoto pula rupanya dengan Ketua DPRD Sumbar. Senangnya hati kami," kata Zamri Yahya warga dari Pauh.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi daerah, mulai dari persoalan ekonomi hingga sosial, masyarakat tentu berharap adanya pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan spiritual. Sosok seperti inilah yang diyakini mampu membawa perubahan yang lebih baik.
Open house yang digelar ini juga menjadi simbol bahwa, kepemimpinan tidak harus selalu ditampilkan dalam ruang-ruang formal. Justru dalam suasana yang sederhana dan penuh kehangatan, nilai-nilai kepemimpinan yang sesungguhnya dapat terlihat dengan lebih jelas.
Bagi generasi muda, kegiatan ini juga memberikan pelajaran berharga tentang arti kepemimpinan. Bahwa menjadi pemimpin bukan hanya tentang kekuasaan, tetapi tentang pengabdian. Bahwa jabatan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk memberikan manfaat bagi orang banyak.
Dalam konteks Sumatera Barat yang dikenal dengan falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”, kepemimpinan yang ideal adalah yang mampu menyelaraskan nilai adat dan agama.
"Ini adalah bagian pelayanan kepada masyarakat," kata Muhidi.
"Apa yang kita tunjukkan dalam kegiatan ini setidaknya memberikan gambaran bahwa nilai-nilai tersebut masih hidup dan terus dijaga,"ujarnya.
Ke depan, masyarakat tentu berharap agar kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga diikuti dengan langkah nyata dalam menjawab berbagai persoalan yang ada. Kedekatan yang telah terjalin diharapkan dapat menjadi modal untuk membangun komunikasi yang lebih baik antara pemerintah dan masyarakat.
Dengan demikian, open house yang digelar oleh Ketua DPRD Prov. Sumbar ini bukan hanya sekadar perayaan Idul Fitri, tetapi juga menjadi refleksi tentang bagaimana seharusnya seorang pemimpin hadir di tengah masyarakat. Hadir dengan hati, mendengar dengan tulus, dan bertindak dengan penuh tanggung jawab. (Reporter : Tb Mhd Arief Hendrawan)


0 Comments