Padang Macet Parah, Pemerintah Jangan Tutup Mata, Flyover Bukan Lagi Pilihan, Tapi Kewajiban!

iklan adsense

Padang Macet Parah, Pemerintah Jangan Tutup Mata, Flyover Bukan Lagi Pilihan, Tapi Kewajiban!


Diskusi pagi, Meja 1 RM. Talago Biru

PADANG, PIONIR-- Kota Padang hari ini tidak lagi bisa bersembunyi di balik label “kota berkembang”. Realitas di lapangan berbicara lain, kemacetan semakin menjadi-jadi, jalanan kian sesak, dan penataan kota terlihat berjalan di tempat.

Setiap pagi dan sore, masyarakat dipaksa “berdamai” dengan kemacetan yang seolah sudah dianggap hal biasa. Padahal, ini adalah tanda nyata bahwa tata kelola transportasi kota sedang tidak baik-baik saja.

Sorotan keras datang dari Rudi Patola yang secara blak-blakan menilai pemerintah daerah terlalu lamban membaca situasi.
“Ini bukan lagi soal macet biasa. Ini sudah darurat. Kalau dibiarkan, Padang bisa lumpuh total dalam beberapa tahun ke depan,” tegasnya.

Rudi menilai, wacana pembangunan flyover tidak boleh lagi diperlakukan sebagai opsi tambahan, melainkan harus menjadi prioritas utama. Menurutnya, solusi setengah hati seperti tambal sulam jalan hanya akan memperpanjang daftar masalah, bukan menyelesaikannya.

“Jangan lagi bicara solusi kecil untuk masalah besar. Flyover itu kebutuhan mendesak, bukan proyek gengsi,” katanya dengan nada tegas.

Pernyataan ini mencuat dalam diskusi yang dihadiri sejumlah tokoh di kawasan Simpang Haru, yang memperlihatkan satu kesamaan pandangan, Kota Padang sedang berada di titik kritis.

Ketua Bakorkan Kota Padang Zubardi Koto Datuak Angkat Dirajo menegaskan bahwa wajah kota saat ini tidak mencerminkan kota besar yang menjadi pusat Sumatera Barat.

“Padang ini seharusnya jadi kebanggaan, bukan jadi contoh kemacetan. Penataan kota harus serius, bukan sekadar wacana,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Syaiful Pong yang menilai bahwa persoalan ini bukan sekadar teknis, tetapi juga menyangkut keberanian dalam mengambil keputusan.

Sementara itu, Firman Sikumbang menyoroti dampak jangka panjang jika kemacetan terus dibiarkan.
“Kalau hari ini kita diam, besok kita akan menyesal. Kemacetan ini bukan hanya soal jalan, tapi soal masa depan kota,” katanya.

Dukungan terhadap urgensi penataan kota juga disampaikan oleh Fauzi, M.Pd dan Arsin, S.Pd yang menilai pemerintah harus segera mengambil langkah konkret, bukan sekadar wacana.

Menurut mereka, kemacetan yang terus terjadi menunjukkan perlunya kebijakan besar yang berani dan terukur agar Kota Padang tidak semakin tertinggal dalam pembangunan infrastruktur perkotaan.

Semua mata kini tertuju pada kepemimpinan Fadly Amran dan Maigus Nazir. Publik menunggu, apakah akan ada gebrakan nyata atau justru kembali pada pola lama, banyak rencana, minim eksekusi.
Karena jika kemacetan terus dianggap hal biasa, maka yang sebenarnya terjadi adalah pembiaran.

Dan ketika kota mulai kehilangan kendali atas lalu lintasnya sendiri, itu bukan lagi sekadar masalah teknis, itu adalah kegagalan dalam mengelola masa depan, tukasnya (tim)

iklan adsense

Post a Comment

0 Comments