Pernyataan Djamaris Chaniago Dinilai Lecehkan Marwah Minangkabau
PADANG, PIONIR---Api polemik kini benar-benar menyala di Ranah Minang. Pernyataan Djamaris Chaniago yang membandingkan dirinya dengan Teddy Minahasa Putra, bahkan menyeret kasus narkotika dalam narasi gelar adat, dinilai bukan sekadar keliru, tapi sudah menyentuh batas penghinaan terhadap marwah Minangkabau.
Di tanah yang menjunjung tinggi falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”, gelar adat bukanlah mainan opini, bukan pula bahan sindiran murahan di ruang publik. Ia adalah simbol kehormatan, hasil musyawarah sakral para pemangku adat yang tidak bisa dipelintir seenaknya.
Perlu ditegaskan, gelar Tuanku Bandaro Alam Sati yang disematkan kepada Teddy Minahasa diberikan melalui mekanisme adat yang sah, jauh sebelum persoalan hukum yang kini menyeret namanya. Artinya, tidak ada satu pun benang merah antara gelar adat dengan kasus yang terjadi di kemudian hari.
Ketua Forum Anak Nagari Sumatera Barat sekaligus Ketua Lembaga Anti Narkotika Provinsi Sumatera Barat, Firman Sikumbang, angkat suara dengan nada keras. Ia menilai pernyataan Djamaris bukan hanya tidak tepat, tetapi telah mencederai rasa hormat masyarakat Minangkabau terhadap adatnya sendiri.
“Jangan seret adat ke dalam lumpur persoalan pribadi! Gelar adat itu lahir dari kehormatan, bukan untuk dijadikan bahan pembenaran atau pembanding dalam polemik sesaat,” tegas Firman, Jumat (27/3/2026).
Lebih jauh, Firman menilai pernyataan tersebut seharusnya tidak diumbar ke publik, apalagi sampai berseliweran di media sosial tanpa kendali. Baginya, ini bukan sekadar salah ucap, ini soal sensitivitas budaya yang diabaikan.
“Kalau tidak paham adat, jangan bicara adat. Ini bukan ruang bebas tanpa batas. Ada nilai, ada etika, ada marwah yang harus dijaga,” lanjutnya dengan nada geram.
Minangkabau tidak pernah main-main dalam memberi gelar. Limbago Adat, baik itu Pucuak Adat Kerajaan Pagaruyuang, Pucuk Adat Sapiah Balahan, hingga para Datuak dan penghulu kaum, memiliki mekanisme yang ketat dan penuh pertimbangan dalam menetapkan siapa yang layak menerima kehormatan tersebut.
Maka ketika gelar adat diseret ke dalam narasi yang tidak proporsional, yang terluka bukan hanya individu, melainkan harga diri kolektif orang Minang.
Pernyataan Djamaris Chaniago kini menjadi pengingat keras, bahwa satu kalimat yang salah di ruang publik bisa menjadi api yang membakar kehormatan sebuah budaya besar. "Adat bukan untuk diperdebatkan secara serampangan, apalagi direndahkan," tukasnya (tim)


0 Comments