Namun hari ini, kenyataan yang kita hadapi sungguh memprihatinkan. Peredaran gelap narkotika semakin marak, bahkan menyusup hingga ke nagari-nagari yang selama ini dikenal kuat memegang adat dan agama.
Sebagai anak daerah, hati saya menjerit. Ini bukan sekadar keprihatinan sebagai Ketua Lembaga Anti Narkotika Provinsi Sumatera Barat, tetapi sebagai pribadi yang tumbuh dan dibesarkan di tanah ini.
Saya tumbuh besar di Lubuk Pasing, Nagari Talaok, Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan. Saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang kuat memegang nilai adat dan agama. Ibu saya, Jasna, seorang bundo kanduang yang sangat disegani di tengah masyarakat, mendidik saya dengan penuh kebijaksanaan, mengajarkan etika, adab, serta nilai-nilai peradaban sejak dini.
Ayah saya, almarhum Rusdi Rasyid, adalah seorang guru agama yang teguh memegang prinsip adat dan syarak. Dari beliau, saya belajar tentang keteguhan, keikhlasan, dan tanggung jawab moral dalam kehidupan. Lingkungan keluarga kami juga dipenuhi oleh figur-figur panutan. Kakak saya, Akhiyen Nuardi, S.Pd., M.Pd., seorang ustaz sekaligus Kepala MAN 2 Kabupaten Pesisir Selatan yang memiliki nama di daerah. Sementara adik-adik saya, Medi Rusdi dan Yuni Hendriza, juga dikenal sebagai pribadi yang menjadi panutan dan dihormati oleh masyarakat.
Dari lingkungan keluarga seperti itulah saya tumbuh, lingkungan yang sarat dengan nilai agama, adat, dan keteladanan. Daerah yang membekali saya dengan ilmu agama, yang menanamkan pemahaman adat secara mendalam, dan yang melahirkan ulama-ulama besar.
Namun hari ini, saya melihat kenyataan yang berbeda. Ancaman narkotika telah masuk dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat kita.
Kita harus jujur, ancaman narkotika telah berubah wajah Ranah Pesisir. Ia bukan lagi kejahatan biasa. Jaringannya terorganisir, bergerak senyap, dan memanfaatkan setiap celah yang ada. Ketika sistem sosial kita tidak lagi sekuat dulu dalam melakukan pengawasan, maka benteng yang selama ini kita banggakan perlahan bisa ditembus.
Terjadi pergeseran dalam fungsi kontrol sosial. Peran niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, serta tokoh masyarakat yang dahulu begitu kuat dalam mengawasi anak kemenakan, kini di beberapa tempat mulai melemah. Generasi muda hidup dalam arus globalisasi yang begitu deras, sementara pendekatan yang kita gunakan seringkali masih bertumpu pada pola lama.
Di sisi lain, tekanan ekonomi dan gaya hidup instan juga menjadi faktor pendorong. Narkotika tidak hanya merusak dari sisi kesehatan, tetapi juga menawarkan ilusi jalan pintas yang menjerumuskan. Ditambah lagi, posisi geografis wilayah pesisir yang rentan menjadi jalur masuk peredaran gelap narkotika, membuat tantangan ini semakin kompleks.
Sebagai Ketua Lembaga Anti Narkotika Provinsi Sumatera Barat, saya menegaskan bahwa kami tidak tinggal diam. Kami memiliki langkah dan strategi yang terukur untuk memutus mata rantai peredaran narkotika di ranah pesisir. Mulai dari penguatan program berbasis nagari, pembentukan satgas anti narkotika hingga ke tingkat paling bawah, peningkatan peran keluarga sebagai benteng utama, sampai pada kolaborasi aktif dengan aparat penegak hukum dalam upaya pencegahan dan penindakan.
Namun harus kita akui dengan jujur, sekuat apa pun strategi yang di susun, semaksimal apa pun gerakan yang dilakukan, tanpa dukungan penuh dari pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat, upaya ini akan sulit mencapai hasil yang diharapkan. Bahkan bisa dikatakan mustahil untuk berhasil secara menyeluruh.
Perang melawan narkotika bukanlah tugas satu lembaga, bukan pula tanggung jawab segelintir orang. Ini adalah panggilan bersama. Pemerintah harus hadir dengan kebijakan yang berpihak pada penguatan pencegahan dan pemberdayaan masyarakat. Aparat harus tegas dalam penindakan. Sementara masyarakat harus kembali menghidupkan nilai kepedulian dan kontrol sosial di lingkungannya masing-masing.
Falsafah adat basandi syarak harus kembali kita jadikan sebagai kekuatan nyata, bukan sekadar kebanggaan simbolik. Niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, pemuda, dan seluruh elemen nagari harus bersatu dalam satu barisan melawan ancaman ini.
Hari ini, hati saya menjerit. Tapi jeritan ini bukan tanda menyerah. Ini adalah seruan untuk kita semua agar tidak lagi abai. Karena masa depan generasi kita sedang dipertaruhkan.
Jika kita bergerak bersama, saya yakin kita mampu. Namun jika kita berjalan sendiri-sendiri, maka yang kita hadapi bukan hanya ancaman, tetapi kehancuran yang perlahan.
Saatnya kita buktikan bahwa Ranah Pesisir tidak hanya kuat dalam adat, tetapi juga tangguh dalam menjaga generasinya dari ancaman narkotika.


0 Comments