Adat Minang Kian Tergerus Zaman

iklan adsense

ABS-SBK Kian Melemah, Narkotika Mengancam Sendi Adat Minangkabau

Pengurus LAN Sumbar, bersama Ketua LKAAM Prof. DR. H. Fauzi Bahar, M.Sc Datuak Nan Sati (Doc. LAN)

PADANG, PIONIR----Filosofi “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” (ABS-SBK) kini dinilai kian tergerus dalam praktik kehidupan masyarakat Minangkabau. Hal itu disampaikan oleh Ketua Lembaga Anti Narkotika LAN) Provinsi Sumatera Barat Firman Sikumbang, SE saat berdiskusi dengan Ketua LKAAM Sumatera Barat, Prof. DR H Fauzi Bahar, M.Sc Datuak Nan Sati di Damar Shaker Alai Parak Kopi, Kota Padang, Selasa 31 Maret 2026.

Menurut Firman Sikumbang, yang juga Ketua Forum Anak Nagari (FKAN) Sumatera Barat, nilai-nilai luhur ABS-SBK tidak lagi melekat kuat di sanubari sebagian masyarakat Minang. Ia mengibaratkan kondisi tersebut dengan pepatah “lah lapuak dek hujan, lah lakang dek paneh”, yang menggambarkan lunturnya nilai adat akibat derasnya arus perubahan zaman.

Ia menilai, modernisasi yang tidak di imbangi dengan penguatan nilai adat dan agama telah memicu pergeseran perilaku sosial. Mulai dari gaya hidup generasi muda yang dinilai tidak lagi sejalan dengan norma adat dan syariat, hingga meningkatnya berbagai fenomena sosial yang mengkhawatirkan di Ranah Minang.

Lebih jauh, Firman juga menyoroti persoalan serius yang kini kian meresahkan, yakni maraknya peredaran narkotika di tengah masyarakat. Ia menyebut, penyalahgunaan narkoba telah merambah berbagai lapisan, termasuk generasi muda, yang sejatinya menjadi harapan masa depan Minangkabau. Kondisi ini dinilai sebagai ancaman nyata terhadap keberlangsungan nilai adat dan moral masyarakat.

“Orang Minang dikenal sebagai masyarakat yang beradab dan religius. Namun realitas hari ini menunjukkan adanya ketimpangan antara nilai yang diajarkan dengan praktik kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menghadapi bahaya narkotika yang semakin merajalela,” ujarnya.

Firman menegaskan, kondisi ini harus menjadi perhatian serius seluruh elemen, mulai dari ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, hingga pemerintah daerah untuk bersama-sama memperkuat kembali nilai ABS-SBK sebagai benteng moral masyarakat.

Sementara itu, Sekretaris Lembaga Anti Narkotika Provinsi Sumatera Barat, Afrialdi Masbiran juga menegaskan bahwa peredaran narkotika di Sumatera Barat saat ini sudah berada pada tahap yang sangat mengkhawatirkan. Menurutnya, narkoba tidak hanya merusak individu, tetapi juga menggerus sendi-sendi adat dan nilai keagamaan yang selama ini menjadi kekuatan utama masyarakat Minangkabau.

Afrialdi menyebut, lemahnya benteng nilai ABS-SBK turut membuka celah masuknya pengaruh negatif, termasuk penyalahgunaan narkotika di kalangan generasi muda. Oleh karena itu, ia mendorong adanya sinergi yang kuat antara lembaga adat, tokoh agama, pemerintah, serta masyarakat dalam upaya pencegahan dan pemberantasan narkoba.

“Perang terhadap narkotika tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Ini harus menjadi gerakan bersama. Penguatan adat dan agama harus berjalan seiring dengan upaya pencegahan narkoba agar generasi muda kita tidak kehilangan arah,” tegasnya.

Menanggapi hal tersebut, Fauzi Bahar mengakui bahwa tantangan penerapan ABS-SBK di era globalisasi memang semakin kompleks. Namun ia menegaskan, nilai tersebut sejatinya tidak hilang, melainkan melemah dalam pengamalannya.

“Nilai adat dan syarak itu tidak hilang, yang melemah adalah praktiknya. Ini menjadi tugas bersama seluruh unsur masyarakat adat dan pemerintah untuk menguatkannya kembali,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa penguatan nilai adat tidak cukup hanya melalui wacana, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan nyata, terutama melalui pendidikan dalam keluarga, peran nagari, serta keteladanan para pemimpin.

Selain itu, pendekatan kepada generasi muda harus dilakukan secara persuasif dan edukatif. Menurutnya, nilai adat dan agama harus dipahami sebagai pedoman hidup yang memuliakan, bukan sebagai batasan yang mengekang.

“Generasi muda perlu dirangkul, bukan dihakimi. Kita harus hadir memberi contoh, membuka ruang dialog, serta membentengi mereka dari pengaruh negatif, termasuk bahaya narkotika yang kini menjadi ancaman serius di Minangkabau,” tambahnya.

Ia berharap, diskusi dan refleksi seperti ini terus digalakkan sebagai upaya menjaga jati diri serta marwah Minangkabau di tengah derasnya arus perubahan zaman. (tim)

iklan adsense

Post a Comment

0 Comments