Ketika Pencitraan Lebih Penting Dari Menyelamatkan Generasi Muda
"Pemerintah seolah menutup mata terhadap fenomena sosial yang sedang menyelimuti Ranah Minang hari ini"
Oleh : Firman Sikumbang
Namun ironisnya, di saat persoalan itu semakin nyata, banyak pihak justru lebih sibuk membangun pencitraan daripada membangun solusi. Yang lebih diutamakan adalah bagaimana terlihat peduli, bukan benar-benar peduli. Yang lebih penting adalah bagaimana tampak bekerja di depan kamera, bukan bekerja sungguh-sungguh menyelamatkan masyarakat.
Pemerintah seolah menutup mata terhadap fenomena sosial yang sedang menyelimuti Ranah Minang hari ini. Berbagai kegiatan seremonial terus dilakukan, baliho dipasang di mana-mana, publikasi dibuat sedemikian megah, tetapi kerusakan moral generasi muda terus berjalan tanpa penanganan yang serius dan menyentuh akar masalah.
Narkotika hari ini bukan lagi ancaman kecil. Barang haram itu sudah masuk ke lingkungan pelajar, kampus, bahkan ke nagari-nagari. Banyak generasi muda kehilangan masa depan karena penyalahgunaan narkoba. Tetapi perhatian terhadap pencegahan masih kalah dibanding perhatian terhadap pencitraan program.
Begitu juga dengan praktik prostitusi terselubung yang semakin marak melalui media sosial dan aplikasi digital. Ditambah lagi munculnya perilaku LGBT yang semakin terbuka, seolah ingin mengubah sesuatu yang selama ini dijaga kuat oleh falsafah Minangkabau, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Fenomena ini bukan sekadar persoalan pribadi, tetapi sudah menjadi persoalan sosial yang akan mempengaruhi arah moral generasi mendatang.
Yang lebih menyedihkan, banyak pihak takut berbicara jujur tentang kondisi ini. Takut dianggap tidak modern, takut diserang opini, atau takut merusak citra tertentu. Akibatnya, persoalan terus dibiarkan berkembang sampai menjadi ancaman nyata bagi masa depan daerah.
Padahal masyarakat Minangkabau sejak dahulu dikenal sebagai masyarakat yang kuat memegang nilai agama, adat, dan etika sosial. Ranah Minang dibangun bukan hanya dengan kemajuan fisik, tetapi juga dengan kekuatan moral dan karakter masyarakatnya. Kalau generasi mudanya rusak karena narkotika, kehilangan arah moral, dan terjebak dalam pergaulan menyimpang, maka yang hancur bukan hanya individu, tetapi masa depan daerah itu sendiri.
Kritik ini bukan lahir karena kebencian kepada pemerintah atau pihak tertentu. Kritik ini lahir karena rasa cinta terhadap kampung halaman dan rasa takut melihat generasi muda kehilangan arah. Sebab kalau hari ini semua hanya sibuk menjaga citra, sementara kerusakan sosial terus dibiarkan, maka suatu saat masyarakat akan sadar bahwa yang dibangun selama ini hanya tampilan luar, sementara pondasi sosialnya perlahan runtuh.
Hari ini Ranah Minang tidak hanya membutuhkan pembangunan jalan dan gedung. Ranah Minang juga membutuhkan keberanian untuk menyelamatkan moral generasi muda. Butuh tindakan nyata memberantas narkotika, memperkuat pendidikan agama, membina keluarga, menjaga pergaulan anak-anak muda, dan menghadirkan kebijakan yang benar-benar melindungi masyarakat dari kerusakan sosial.
Karena sejatinya pemimpin yang baik bukan yang paling pandai membangun citra, tetapi yang berani menghadapi kenyataan dan bekerja sungguh-sungguh menyelesaikan masalah rakyat.


0 Comments