Kisah Nyata: Hidupku Hampir Tenggelam

iklan adsense

Kisah Nyata: Hidupku Hampir Tenggelam 

                                     Foto Ilustrasi

Namaku Luca. Itu bukan nama sebenarnya. Aku sengaja menggunakan nama samaran agar tidak semua orang tahu siapa sosok di balik cerita ini. Sebab, sebagian orang yang ada di dalam kisah ini adalah teman kampusku sendiri. Aku hanya ingin menceritakan apa yang pernah kualami tanpa harus membuka identitas siapa diriku sebenarnya.

Aku berusia 19 tahun dan sedang menjalani kehidupan sebagai mahasiswa semester dua di Kota Payakumbuh. Banyak orang mengenalku sebagai pribadi yang ceria, aktif, mudah bergaul, dan selalu terlihat bahagia. Aku memang tipe orang yang mudah berteman. Di mana pun berada, aku selalu bisa mencairkan suasana dan mengenal orang baru. Bahkan di kampus, hampir semua orang mengenalku karena aku cukup aktif dalam berbagai kegiatan.

Tetapi tidak ada yang tahu bahwa di balik tawa dan keramahan itu, aku sedang berjuang melawan tekanan hidup yang perlahan menghancurkan mentalku.

Semester satu menjadi masa yang sangat menyenangkan. Dunia perkuliahan terasa begitu indah. Aku memiliki lingkaran pertemanan yang menurutku sangat sempurna. Kami berjumlah sembilan orang dan selalu bersama dalam banyak hal. Kami makan bersama, belajar bersama, bercanda bersama, bahkan ketika salah satu dari kami ulang tahun, semuanya ikut merayakan dengan sederhana tetapi penuh kebahagiaan.

Saat itu aku merasa menemukan keluarga baru di tanah perantauan.

Aku percaya bahwa pertemanan di dunia kuliah akan selalu hangat seperti itu. Aku merasa hidupku mulai berjalan baik. Aku menikmati suasana kampus, aktif dalam berbagai kegiatan, dan semakin dikenal oleh banyak orang. Tidak sedikit dosen yang mempercayaiku menjadi penyampai informasi kepada mahasiswa lain. Bahkan aku beberapa kali dipercaya menjadi perwakilan kampus dalam kegiatan di luar.

Aku tidak pernah berpikir bahwa semua itu justru akan menjadi awal dari kehancuran mentalku.

Memasuki semester dua, hidupku mulai berubah drastis.

Tugas kuliah datang bertubi-tubi tanpa ampun. Hampir setiap hari dipenuhi deadline dan tekanan akademik. Di saat yang sama, kondisi ekonomi keluargaku tiba-tiba menurun drastis. Keadaan itu membuatku takut tidak bisa melanjutkan kuliah. Aku tidak ingin membebani orang tua lebih jauh, sehingga aku memutuskan untuk bekerja part time sambil kuliah.

Awalnya semuanya terasa sangat berat.

Pagi aku harus mengikuti perkuliahan, sore hingga malam bekerja, lalu pulang dalam keadaan tubuh lelah tetapi masih harus menyelesaikan tugas. Hari-hariku berubah menjadi rutinitas yang melelahkan. Aku hampir tidak punya waktu istirahat. Namun aku tetap mencoba bertahan karena aku tidak ingin menyerah pada keadaan.

Di tengah tekanan hidup itu, masalah lain mulai muncul dari lingkungan pertemananku sendiri.

Orang-orang pernah berkata bahwa semester satu di dunia kuliah hanyalah masa indah sementara. Katanya, ketika memasuki semester berikutnya, sifat asli setiap orang akan mulai terlihat. Awalnya aku menganggap itu hanya omongan biasa. Tetapi ternyata aku benar-benar mengalaminya sendiri.

Dari sembilan orang dalam lingkaran pertemananku, ada dua orang yang perlahan membuat hidupku terasa sesak. Sebut saja FH dan HN.

Awalnya aku tidak pernah merasa mereka membenciku. Aku tetap memperlakukan mereka seperti teman biasa. Tetapi semakin lama, sikap mereka mulai berubah. Mereka sering menyindir keaktifanku di kampus. Mereka mempermasalahkan hal-hal kecil tentang diriku. Bahkan ketika aku dipercaya dosen atau terlibat dalam kegiatan kampus, mereka selalu membahasnya dengan nada sinis.

Banyak orang di sekitarku mengatakan bahwa mereka iri padaku.

Namun aku selalu menolak anggapan itu. Aku tidak suka menilai orang buruk. Lagi pula, menurutku mereka adalah orang-orang yang hidupnya jauh lebih mudah dibanding diriku. Jika mereka menginginkan sesuatu, mereka bisa mendapatkannya dengan cepat. Sedangkan aku, untuk membeli sesuatu saja harus bekerja dan menabung terlebih dahulu.

Tetapi ternyata aku salah.

Sindiran demi sindiran mulai berubah menjadi tekanan mental yang serius.

Hal yang paling menyakitkan adalah karena mereka tinggal di lingkungan yang sama denganku. Hampir setiap malam aku mendengar mereka berbicara keras sambil menyindir diriku. Mereka membahas keaktifanku di kampus, membicarakan diriku dengan nada mengejek, seolah sengaja ingin memastikan aku mendengarnya.

Malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat justru berubah menjadi waktu paling menyiksa bagiku.

Bayangkan pulang kerja dalam keadaan lelah, kepala penuh tugas kuliah, kondisi ekonomi keluarga sedang sulit, lalu masih harus mendengar sindiran hampir setiap hari. Sedikit demi sedikit aku mulai kehilangan kekuatan.

Aku mulai sering mengurung diri. Aku tidak lagi sebahagia dulu. Aku menjadi lebih sensitif dan mudah overthinking. Aku mulai mempertanyakan diriku sendiri. Apa salahku? Mengapa aku diperlakukan seperti itu padahal aku tidak pernah mengganggu mereka?

Tetapi semakin dipikirkan, aku semakin hancur.

Aku mulai menjauh dari Tuhan. Aku yang dulu rajin beribadah perlahan menjadi lalai. Aku merasa hidupku kosong. Senyum yang kulihat di depan orang lain hanyalah topeng agar tidak ada yang tahu betapa hancurnya diriku sebenarnya.

Sampai akhirnya aku mengalami depresi berat.

Aku tidak pernah bercerita kepada siapa pun pada awalnya. Aku memendam semuanya sendiri. Aku takut dianggap lemah. Aku takut orang lain menganggap aku berlebihan. Padahal setiap malam pikiranku dipenuhi rasa sesak dan kelelahan mental yang sulit dijelaskan.

Suatu hari aku mencoba bercerita kepada rekan kerjaku. Mereka menyarankan sesuatu yang katanya bisa membuat pikiran tenang. Aku yang tidak pernah tahu tentang dunia obat-obatan mulai penasaran. Aku berpikir, memang ada benda yang bisa membuat seseorang melupakan rasa sakitnya?

Saat itu media sosialku juga dipenuhi berbagai konten tentang obat-obatan terlarang. Karena mental yang sedang hancur, untuk pertama kalinya muncul keinginan dalam diriku untuk mencoba barang haram tersebut.

Aku hanya ingin tenang.

Aku hanya ingin berhenti merasa sakit.

Tetapi untungnya aku tidak tahu bagaimana cara mendapatkannya. Aku juga bukan orang yang suka mencari tahu hal-hal seperti itu. Dan hari ini aku bersyukur karena ketidaktahuanku justru menjadi penyelamat terbesar dalam hidupku.

Karena aku sadar, jika saat itu aku benar-benar menyentuh narkoba, mungkin hidupku sudah hancur sekarang.

Perlahan aku mulai bangkit.

Aku memberanikan diri untuk bercerita kepada orang tua tentang apa yang sebenarnya terjadi. Aku mulai kembali mendekatkan diri kepada Tuhan. Aku belajar beribadah lagi, belajar menenangkan hati, dan mencoba menerima kenyataan bahwa tidak semua orang akan menyukaimu meskipun kamu sudah berbuat baik kepada mereka.

Aku juga memilih pindah dari lingkungan toxic tersebut demi kesehatan mentalku sendiri.

Keputusan itu menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupku.

Hari demi hari aku mulai mengenal diriku kembali. Aku belajar bahwa menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga fisik. Aku belajar bahwa tidak semua luka harus dibalas dengan kebencian. Dan yang paling penting, aku belajar bahwa tidak semua orang yang terlihat ceria benar-benar sedang baik-baik saja.

Hari ini aku masih menjalani kehidupan sebagai mahasiswa biasa. Aku masih bekerja sambil kuliah. Aku masih memiliki banyak kekurangan dan masalah hidup yang belum selesai. Tetapi setidaknya sekarang aku jauh lebih kuat dibanding diriku yang dulu.

Aku tidak membenci FH dan HN. Aku juga tidak ingin membalas semua perlakuan mereka. Aku hanya berharap mereka bisa menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya dan tidak lagi menyakiti orang lain hanya karena rasa iri atau ketidaksukaan.

Aku percaya bahwa hidup memiliki caranya sendiri untuk membalas setiap perbuatan manusia.

Melalui kisah ini aku ingin menyampaikan satu pesan kepada siapa pun yang sedang berada di titik terendah hidupnya.

Jangan pernah mencoba lari kepada narkoba.

Barang itu tidak akan menyelesaikan masalahmu. Ia hanya akan menghancurkan hidupmu perlahan. Jangan memendam semuanya sendirian. Ceritakan kepada keluarga, sahabat, atau orang yang benar-benar peduli padamu. Dan sejauh apa pun kamu merasa tersesat, jangan pernah jauh dari Tuhan.

Karena terkadang, yang menyelamatkan seseorang bukanlah hidup yang sempurna, melainkan keberanian kecil untuk tetap bertahan meski dunia terasa sangat berat.

iklan adsense

Post a Comment

0 Comments