Perang Melawan Narkotika Harus Dimulai dari Pencegahan, Bukan Menunggu Korban Berjatuhan
Sekretaris LAN Provinsi Sumatera Barat, Afrialdi Masbiran, SH, M.Hum, mengatakan bahwa angka kasus narkotika yang selama ini tercatat oleh aparat penegak hukum belum menggambarkan kondisi yang sebenarnya di lapangan. Menurut mantan Camat Lubuk Kilangan, Kota Padang tersebut, data yang dipublikasikan hanyalah sebagian kecil dari persoalan yang sesungguhnya.
"Angka narkotika itu ibarat nelayan menangkap ikan di lautan. Yang dihitung hanyalah ikan yang berhasil ditangkap dan dibawa ke darat. Sementara itu, masih banyak ikan lain yang tetap berenang bebas di lautan dan tidak pernah masuk dalam hitungan. Begitu pula dengan narkotika. Yang tercatat hanyalah kasus yang berhasil diungkap, sedangkan masih banyak penyalahguna, pengedar, dan jaringan peredaran gelap yang belum terdeteksi," ujar Afrialdi.
Ia menjelaskan bahwa keberhasilan aparat dalam mengungkap berbagai kasus narkotika tentu patut diapresiasi. Namun, masyarakat tidak boleh merasa aman hanya karena melihat angka statistik yang tersedia. Masih banyak penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika yang belum terungkap sehingga membutuhkan kewaspadaan dan kepedulian semua pihak.
Menurut Afrialdi, pemberantasan narkotika tidak mungkin hanya dibebankan kepada aparat penegak hukum. Keluarga, sekolah, perguruan tinggi, tokoh agama, tokoh adat, Bundo Kanduang, organisasi kemasyarakatan, media massa, hingga pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam membangun benteng pencegahan sejak dini.
"Narkotika adalah kejahatan luar biasa yang mengancam masa depan generasi bangsa. Jangan menunggu ada anggota keluarga yang menjadi korban baru kita peduli. Pencegahan harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga," tegasnya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Anti Narkotika Provinsi Sumatera Barat, Firman Sikumbang, SE, menegaskan bahwa strategi LAN Sumbar lebih mengedepankan langkah-langkah preventif melalui penguatan Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).
Firman mengibaratkan gerakan LAN Sumbar seperti petugas pemadam kebakaran ketika menghadapi kobaran api.
"LAN Sumbar bergerak seperti Dinas Pemadam Kebakaran saat memadamkan kobaran api. Ketika terjadi kebakaran, petugas tidak hanya menyiram titik api, tetapi juga menyiram rumah-rumah yang berada di sekitar kobaran api agar tetap dingin dan tidak mudah tersambar api. Dengan cara itu, kebakaran tidak meluas dan kerugian dapat diminimalkan," ujarnya.
Menurut Firman, filosofi tersebut menjadi dasar gerakan LAN Sumbar dalam melaksanakan P4GN. Sasaran utama adalah kelompok usia produktif, khususnya pelajar, mahasiswa, dan generasi muda, karena kelompok ini paling rentan menjadi sasaran jaringan pengedar narkotika.
"Begitu pula cara Lembaga Anti Narkotika bekerja. Kami memberikan penguatan P4GN kepada usia produktif agar mereka memiliki benteng diri yang kuat, sehingga tidak mudah terhasut, dipengaruhi, maupun dibujuk rayu oleh para pengedar narkotika. Pencegahan harus dilakukan sebelum mereka menjadi korban, bukan setelah mereka terjerumus," tegas Firman.
Ia menjelaskan bahwa penguatan tersebut dilakukan melalui berbagai kegiatan edukasi, penyuluhan, sosialisasi, dialog interaktif, seminar, serta program LAN Go To School, LAN Go To Campus, dan LAN Go To Nagari. Melalui program-program tersebut, LAN Sumbar berupaya membangun kesadaran masyarakat tentang bahaya narkotika sekaligus membentuk karakter generasi muda yang berani mengatakan tidak terhadap narkotika.
Firman menambahkan, perang melawan narkotika bukan semata-mata menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum maupun Badan Narkotika Nasional. Seluruh elemen masyarakat harus mengambil peran sesuai kapasitasnya masing-masing.
"Kita harus membangun gerakan bersama. Jika seluruh unsur masyarakat bersatu, mulai dari keluarga, sekolah, kampus, tokoh agama, tokoh adat, Bundo Kanduang, organisasi kepemudaan, media massa, dunia usaha hingga pemerintah daerah, maka ruang gerak jaringan narkotika akan semakin sempit. Sebaliknya, jika masyarakat bersikap acuh, para bandar akan terus mencari celah untuk merusak generasi muda kita," katanya.
Firman juga mengajak masyarakat Sumatera Barat untuk kembali memperkuat nilai-nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) sebagai benteng moral dalam menjaga generasi muda dari ancaman narkotika. Menurutnya, perpaduan nilai agama, adat, pendidikan, dan ketahanan keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun generasi yang sehat, berkarakter, dan bebas dari penyalahgunaan narkotika.
"Kami tidak ingin hanya menghitung jumlah korban. Yang lebih penting adalah bagaimana mencegah agar korban baru tidak terus bertambah. Itulah semangat LAN Sumbar dalam bergerak, yaitu membangun benteng pertahanan masyarakat sebelum narkotika merusak generasi penerus bangsa. Harapan kami, Ranah Minang tetap menjadi daerah yang kuat, bermartabat, dan bebas dari ancaman narkotika," pungkasnya. (tim)


0 Comments