Perkuat Peran Bundo Kanduang dan Niniak Mamak dalam Mencegah Narkotika

iklan adsense

Perkuat Peran Bundo Kanduang dan Niniak Mamak dalam Mencegah Narkotika


PADANG, PIONIR--Maraknya peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika di Sumatera Barat, khususnya di Kota Padang, harus menjadi perhatian serius seluruh elemen masyarakat. Persoalan narkotika tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum, tetapi juga membutuhkan keterlibatan keluarga, tokoh adat, tokoh agama, sekolah dan seluruh unsur masyarakat.

Salah satu persoalan yang perlu menjadi perhatian adalah lemahnya pengawasan terhadap anak di lingkungan keluarga. Orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga harus hadir sebagai tempat anak berbagi cerita, mendapatkan perhatian, nasihat dan bimbingan.

Hal tersebut di ungkapkan Ketua Lembaga Anti Narkotika (LAN) Provinsi Sumatera Barat, Firman Sikumbang, saat memberikan materi tentang bahaya narkotika kepada puluhan Bundo Kanduang Seberang Padang di Mushala Annur, Kelurahan Seberang Padang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Rabu, 12 Agustus 2026.

Menurut Firman, dalam tatanan kehidupan masyarakat Minangkabau, Bundo Kanduang memiliki posisi yang sangat strategis dalam membentuk karakter generasi muda.

“Bundo Kanduang adalah madrasah pertama bagi anak di dalam rumah tangga. Di rumah, seorang ibu menjadi tempat pertama bagi anak untuk berbagi cerita, mendapatkan kasih sayang, nasihat dan bimbingan. Karena itu, Bundo Kanduang harus mampu membangun komunikasi yang dekat dengan anak,” ujar Firman.

Menurutnya, pengawasan terhadap anak tidak cukup hanya dengan mengetahui ke mana anak pergi dan dengan siapa mereka berteman. Orang tua juga harus memahami perkembangan pergaulan, aktivitas serta persoalan yang sedang dihadapi anak.

Di samping peran orang tua, Firman menilai peranan niniak mamak dalam membimbing anak kamanakan juga harus kembali diperkuat. Dalam tatanan adat Minangkabau, niniak mamak memiliki tanggung jawab moral untuk mengayomi, membimbing dan memberikan arah kepada anak kamanakan.

“Anak kamanakan membutuhkan figur yang dapat dijadikan tempat bertanya dan meminta petunjuk. Niniak mamak dan Bundo Kanduang harus kembali hadir di tengah-tengah anak kamanakan. Jangan sampai mereka mencari tempat bertanya di luar rumah dan lingkungan keluarga yang belum tentu memberikan pengaruh positif,” tegasnya.

Jangan Sampai Bundo Kanduang Berubah Menjadi Bundo Kapunduang

Dalam kesempatan tersebut, Firman juga menyampaikan kritik sekaligus ajakan introspeksi terhadap peran Bundo Kanduang di tengah masyarakat.

Menurutnya, menjadi Bundo Kanduang bukan sekadar menyandang nama atau gelar adat, tetapi harus diwujudkan melalui keteladanan, kepedulian dan tanggung jawab terhadap anak kamanakan.

“Sekarang yang banyak kita temui di lapangan Bundo Kapunduang. Setiap hari sibuk berkaroeke dan bergoyang-goyang di kafe live music. Sementara anak dan kamanakan tidak diawasi. Bukan menjaga anak kamanakan atau pergi ke surau melaksanakan ibadah, malah kita sering menemui Bundo yang seharusnya menjadi teladan justru sibuk bernyanyi dan bergoyang di kafe,” ungkap Firman.

Ia menegaskan, pernyataan tersebut bukan dimaksudkan untuk menyudutkan Bundo Kanduang, melainkan sebagai kritik dan bahan introspeksi bersama agar peran Bundo Kanduang kembali ditempatkan pada posisi yang kuat dalam kehidupan keluarga dan masyarakat Minangkabau.

“Kalau kita ingin anak kamanakan jauh dari narkotika, kita harus memberikan contoh. Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari,” katanya.

Firman mengajak Bundo Kanduang untuk kembali memperkuat komunikasi dengan anak, memberikan perhatian terhadap pergaulan mereka, menghidupkan kegiatan positif di lingkungan keluarga serta mendorong generasi muda dekat dengan nilai agama dan adat.

Syafri Novel, Jangan Biarkan Anak Mencari Figur di Luar Keluarga

Pemateri LAN Sumbar, Syafri Novel (Mak Ipin), dalam penyampaiannya juga mengingatkan para Bundo Kanduang agar tidak menganggap persoalan narkotika sebagai masalah yang jauh dari lingkungan keluarga.

“Anak-anak kita membutuhkan perhatian. Jangan tunggu mereka bermasalah baru kita mencari tahu apa yang terjadi. Dekati mereka, dengarkan ceritanya dan jadilah orang pertama yang mereka percaya ketika menghadapi persoalan,” ujar Syafri Novel.

Menurutnya, komunikasi yang hangat antara orang tua dan anak dapat menjadi salah satu benteng penting dalam mencegah anak terjerumus ke lingkungan yang berisiko.

“Jangan biarkan anak mencari tempat curhat dan mencari figur di luar rumah hanya karena di rumah mereka tidak mendapatkan perhatian. Orang tua harus menjadi sahabat bagi anak-anaknya,” katanya.

YP. Sefdi Roentoe: P4GN Harus Menjadi Gerakan Bersama

Sementara itu, tim P4GN LAN Sumbar, YP. Sefdi Roentoe, menekankan bahwa pencegahan narkotika harus dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan.

“P4GN bukan hanya tugas aparat. Keluarga, sekolah, niniak mamak, Bundo Kanduang, pemuda dan seluruh masyarakat mempunyai peran masing-masing. Kalau semua bergerak, maka upaya pencegahan akan semakin kuat,” ujar Sefdi.

Ia juga mengajak Bundo Kanduang untuk aktif menyampaikan edukasi tentang bahaya narkotika kepada keluarga dan lingkungan sekitar.

“Bundo Kanduang bisa menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. Mulai dari keluarga sendiri, kemudian lingkungan sekitar. Jangan takut mengingatkan jika ada sesuatu yang berpotensi membahayakan anak kamanakan,” katanya.

P4GN Harus Dimulai dari Rumah

Firman mengatakan, menghadapi ancaman narkotika membutuhkan pengawasan berlapis, mulai dari keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, pemerintah hingga aparat penegak hukum.

Karena itu, LAN Sumatera Barat terus mendorong penguatan P4GN (Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika) di seluruh lini kehidupan masyarakat.

Kegiatan edukasi P4GN tersebut diikuti puluhan Bundo Kanduang Seberang Padang. Hadir dalam kegiatan itu Lurah Seberang Padang Yovi Anggraini, SE, Ketua Bundo Kanduang Kota Padang, serta Ketua Bundo Kanduang Seberang Padang Hj. Nurmani Gani.

Kegiatan tersebut juga dihadiri tim P4GN LAN Sumbar lainnya, di antaranya Muchsin, S.Sos.

Firman menegaskan, pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah dan aparat penegak hukum. Dibutuhkan gerakan bersama dari keluarga hingga lingkungan masyarakat.

“P4GN adalah tanggung jawab kita bersama. Keluarga harus menjadi benteng pertama, Bundo Kanduang menjadi tempat anak mendapatkan pendidikan dan kasih sayang, sementara niniak mamak hadir memberikan bimbingan kepada anak kamanakan,” katanya.

Menurut Firman, jika keluarga kuat, komunikasi antara orang tua dan anak berjalan baik, serta peranan niniak mamak dan Bundo Kanduang kembali hidup di tengah masyarakat, maka ruang bagi penyalahgunaan narkotika akan semakin sempit.

“Jangan sampai kita kehilangan generasi muda hanya karena lemahnya pengawasan dan kepedulian kita. Ranah Minang harus menjadi rumah yang aman bagi anak kamanakan. Mari kita awasi, bimbing dan rangkul mereka sebelum terlambat,” pungkas Firman Sikumbang. (Tim)


iklan adsense

Post a Comment

0 Comments