Kapolres Padang Panjang Atasi Banjir Bandang Dengan Menanam Ribuan Batang Pohon

Atasi Banjir Bandang Dengan Menanam Ribuan Batang Pohon


Kapolres Padang Panjang AKBP. SUGENG HARIADI, S.IK. MH. Memiliki Pengetahuan Tentang Lingkungan Alam 

    PADANG PANJANG, Pionir--Menurut analisis Aqueduct Global Flood Analyzer, Indonesia adalah negara dengan jumlah populasi terdampak bencana banjir terbesar ke-6 di dunia, yakni sekitar 640.000 orang setiap tahunnya.

    Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir merupakan bencana yang paling sering terjadi di Indonesia dengan 464 kejadian banjir setiap tahunnya.


     Ini sepertinya disadari betul oleh Kapolres Padang Panjang, AKBP. Sugeng Hariadi, S.IK. MH. Meski dia baru hitungan bulan menjadi Kapolres di daerah itu, namun batinya seolah telah menyatu dengan daerah yang bertajuk “Kota Serambi Mekah” tersebut.

     Untuk mengantisi banjir melanda daerah itu, seperti diketahu minggu pertama bulan Januari 2020 lalu, AKBP. Sugeng Hariadi, S.IK. MH bersama anggotanya dan Bhayangkari Polres Padang Panjang melakukan penanaman ribuan bibit pohon dari berbagai jenis. 

    Ketika wartawan Pionir berbincang-bincang dengan AKBP. Sugeng Hariadi pada Sabtu sore, 1 Februari 2020, ia mengatakan bahwa sebenarnya penanaman ribuan bibit pohon berbagai jenis itu dilakukan dalam rangka memperingati hari sejuta pohon se-dunia dan mendukung program pemerintah dalam tumbuh kembangkan cinta lingkungan.


     Kendati demikian pengetahuan Sugeng Haryadi terhadap lingkungan alam dan penyebab banjir cukup luas juga. Menurut Sugeng, sebenarnya ada tiga faktor utama penyebab banjir dan longsor yang paling banyak disoroti, yaitu berkurangnya tutupan pohon, cuaca ekstrem, dan kondisi topografis Daerah Aliran Sungai (DAS).

    Sugeng bukan sedang beretorika. Ia pun merujuk peristiwa banjir bandang yang terjadi beberapa hari lalu di Jorong Tanjung Sawah, Nagari Padang Laweh Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Tanah Datar dan wilayah hukum masuk wilayah kerja Polres Padang Panjang.

    Ia menyebutkan peristiwa itu bukan saja murni karena bencana alam, namun juga dipicu oleh beberapa faktor lainnya.

     Pada dasarnya kata Sugeng, tutupan pohon berperan sangat penting dalam menjaga keseimbangan hidrologis suatu DAS. Dengan terjaganya tutupan pohon, tanah mampu terus meresap air.

    Hal ini karena tingginya kandungan bahan organik yang membuat tanah menjadi gembur serta pengaruh akar yang membuat air lebih mudah diresap ke dalam tanah.

     “Nah, ketika tutupan pohon berkurang, keseimbangan hidrologis lingkungan sekitarnya juga akan mudah terganggu. Air hujan yang turun akan sulit diresap oleh tanah dan lebih banyak menjadi aliran air di permukaan, kata Sugeng Hariadi.

    Selain itu kata dia, curah hujan dengan intensitas tinggi, yang umumnya melebihi 100 mm per hari dan dalam waktu yang cukup lama kerap kali berkontribusi terhadap terjadinya banjir.

    Selain itu kata dia, bencana banjir juga banyak dipengaruhi oleh kondisi topografis wilayah atau kemiringan lereng. Artinya kata dia menambahkan, semakin curam suatu lereng, kecepatan aliran akan semakin cepat dan akan meningkatkan daya rusak saat terjadi banjir bandang.


   Lanjut Sugeng mengatakan, ada beberapa upaya dapat dilakukan untuk mengurangi risiko banjir dan longsor, salah satunya dengan mempertahankan dan menambah tutupan pohon di wilayah DAS agar fungsi hutan kembali menjadi penyimpan air yang efektif.

    “Nah...., salah satu tujuan penanaman ribuan bibit pohon beberapa waktu lalu sebagai langkah antisipasi,” kata AKBP. Sugeng Hariadi. (Firman Sikumbang)

Post a Comment

[facebook]

Author Name

{picture#YOUR_PROFILE_PICTURE_URL} YOUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.