KOMPOL MAMAN ROSADI SH MENUJU SUMATERA BERMODAL NAMA SAUDARA

KOMPOL MAMAN ROSADI. SH
Menuju Sumatera Bermodal Nama Saudara

Maman Rosadi adalah seorang pria biasa terlahir dari keluarga sederhana dari ayah dan ibu berprofesi sebagai penjahit di Sumedang, Jawa Barat. Dalam usia yang masih muda ia nekad merantau ke Sumatera untuk mencari saudara kandungnya yang sama sekali tidak ia kenal wajahnya. 

PADANG, Pionir--Selama melakoni kehidupan bersama ayah (alm) Eeng Suba’i, ibu (almh) Ujun di Sumedang Jawa Barat kehidupan ekonomi kedua orang tua Maman Rosadi sangat sederhana, pasangan suami isteri ini harus menghidupi 11 orang anaknya. Tak mengherankan bila mereka seolah melangkah dalam meraba yang maya, untuk berjuang mengukir nasib mengurai duka.

Walau pendakian hidup yang dilalui Maman Rosadi bersama ayah, ibu dan 10 orang kakaknya terasa teramat tinggi, namun ia terlihat tabah menyusuri hidupnya dengan senyuman tulus yang mengalir dari jiwa yang wangi.

Begitu pria kelahiran Sumedang 6 Juni 1968 ini menamatkan pendidikannya di STM YP Geusan Ulun jurusan Listrik tahun 1987, ia mulai bekerja serabutan. Tak banyak yang diharap Maman muda kala itu, hanya satu yaitu ingin membantu meringankan beban ekonomi kedua orang tuanya. 

Dengan memegang teguh pesan orang tuanya, “Hirup ieu kedah dimimitian ku kalawan du’a sarta ditutup ku rasa sukur” (Hidup haruslah dimulai dengan do’a serta diakhiri dengan rasa syukur) Maman Rosadi muda bekerja apa saja yang bisa ia kerjakan, seperti menjadi kuli bangunan dan lainnya.

Di balik kerja keras Maman kala itu, orang tuanya terus memompa semangatnya dengan pesan-pesan bijak,  “Sangkan ari aya kahayang lamun teu bari dibarengan ku usaha mah, sarua wéh atuh jeung ngabodor” (Apabila memiliki sebuah keinginan yang tidak dibarengi dengan usaha artinya sama dengan melucu).

Karena itu pulalah berbekal ijazah STM jurusan Listrik orang tuanya menyarankan Maman muda untuk merantau ke Pulau Sumatera, tepatnya ke Kota Padang. Sebab, salah seorang kakaknya bernama Zainal Arifin BE yang merupakan pegawai PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat Bidang Niaga mendapat tugas sebagai Kepala Unit Gardu Induk (GI) dan Transmisi Solok Sektor Padang pada tahun 1988. 
Maman pun menuruti saran orang tuanya, tapi persoalannya ia tak mengenal wajah kakanya yang lama tugas di PLN di Jakarta itu.

Ia pun sempat sekali bertemu, itu pun saat dirinya masih kelas V SD Negeri Sukahayu, kecamatan Rancakalong, kabupaten Sumedang. Kendati itu fakta yang harus dihadapinya, namun Maman muda tak pernah gamang.

Kendati seolah menyongsong nyala fajar yang tak tampak, namun sebungkah keyakinan pun ia tanamkan dalam jiwanya untuk mengadu peruntungan di rantau orang. Dengan Bismilah Maman pun melangkah menuju Kota Padang tahun 1989.

Saat itu tak banyak bekal materi yang dibawanya dari kampung halamannya. Modal yang paling besar yang dibawanya dan masih dipegang hingga saat ini adalah pituah ibunya, “Ulah gampil nyerah, sabab urang sabenerna teh tacan tangtu eleh, sateuacan bejoang sarta ngarasa cape jeung nyerah” (Menyerah itu hanya untuk mereka yang lemah, sebab seharusnya dalam menjalani hidup itu tidak ada kata menyerah).

Sesaat Maman Rosadi sempat tersenyum sendiri ketika mengisahkan hidup yang dilaluinya pada Pionir, Jumat 1 Mai 2020. “Sampai di Bengkulu saya sempat ditinggal bus. Sebab saya mengira sudah sampai di Kota Padang. 

Saya baru tahu ketika diumumkan ada salah seorang penumpang Bus ANS yang masih belum menaiki mobil,” kata Maman mengingat kisah lucu yang dilaluinya. 

Begitu sampai di Kota Padang, Maman Rosadi mengaku mulai kebingungan, sebab sama sekali ia tidak mengetahui wajah kakak yang akan dicarinya. “Untung saat itu ada dua orang yang mengangkat kertas bertuliskan UJANG panggilan kecil saya,” kata Maman sambil tersenyum. 

Begitu sampai di rumah kakaknya di Sawahan Dalam, kelurahan Sawahan, kecamatan Padang Timur, kota Padang ternyata Maman tak langsung bertemu dengan kakaknya Zainal Arifin, sebab saat itu sang kakak sedang menjalankan tugas sebagai Kepala Unit Gardu Induk (GI) dan Transmisi Solok Sektor Padang yang sedang memasang jaringan tegangan tinggi di kelurahan Tanah Garam, kecamatan Lubuk Sikarah, kota Solok. 

Manakala telah melalui hari-hari dengan kakaknya, agar tidak dianggap sebagai benalu dan menjadi beban bagi sang kakak, kala itu Maman meminta pada kakaknya bisa bekerja sebagai buruh di proyek jaringan tegangan tinggi di kelurahan Tanah Garam, kecamatan Lubuk Sikarah yang sedang dikerjakan saat itu. (F. Fahlevi/ F. Sikumbang) 

Post a Comment

[facebook]

Author Name

{picture#YOUR_PROFILE_PICTURE_URL} YOUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.