KAPOLRES PARIAMAN UNGKAPKAN RASA EMPATI UNTUK KELUARGA AZWARDI

iklan adsense

KAPOLRES PARIAMAN UNGKAPKAN RASA EMPATI UNTUK KELUARGA AZWARDI 

PARIAMAN KOTA, Pionir—Azwardi (62 tahun), warga Dusun Tarok Desa Cubadak Mentawai Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman yang selama ini harus pasrah menerima kenyataan melihat tiga orang anaknya hanya bisa terbaring lantaran mengalami penyakit rapuh tulang atau istilah kedokterannya brittle bones, kini tak lagi merasa sendiri dalam menyongsong hari-harinya. 

Ia pun kini tak lagi merasa bagai elang yang terus berkulik, karena tak tahu entah kemana tempat bersarang. Sepertinya rangkaian doa-doanya telah dijabah Allah Azza Wajalla, melalui ketulusan hati Kapolres Kota Pariaman, AKBP Deny Rendra Laksmana M.Psi yang secara tulus mengatakan pihaknya akan membantu pemeriksaan kesehatan dan biaya hidup ketiga anak tersebut setiap bulannya.

Menerima fakta bahwa AKBP Deny Rendra Laksmana mengulurkan kemanusian, Azwardi yang tadinya bagai tongkang sungsang menampung malang di tengah lautan terombang ambing gelombang, merasa selaksa telah mulai berada di bibir pantai. 

Ketika kembali membolak balik lembaran cerita, ternyata awal duka yang dialami keluarga Azwardi ini berawal dari kabar yang dibawa seorang Bhabinkamtibmas Desa Cubadak Mentawai Bripka Subur Prayitno, bahwa ada warga yang tiga orang anaknya mengalami rapuh tulang. 

Mendapat kabar itu pada Rabu siang 21 Oktober 2020, AKBP Deny Rendra Laksmana bersama Kasat Binmas AKP Sumiarti, Kasat Lantas Iptu Muhammad Sugindo, SIK, Paurkes Polres Pariaman Penda Syahbirin, Bhabinkamtibmas Desa Cubadak Mentawai Bripka Subur Prayitno serta personil Sat Lantas Polres Pariaman langsung mengunjungi 3 bersaudara penderita tulang rapuh tersebut, yaitu Iqbal (19 tahun), Ridwan (17 tahun), dan Dila (15 tahun). 

Sekuat-kuatnya mental Deny Rendra Laksmana sebagai Perwira Polisi, namun nuraninya luluh jua menerima fakta melihat anak ke 4, 5 dan 6 dari enam orang bersaudara ini tertidur lunglai tanpa daya. 

Dengan wajah sabak, Deny Rendra Laksmana mencoba menjalin komunikasi dengan tiga bersaudara yang telah berusia belasan tahun, namun hanya memiliki tinggi antara 50-70 cm, dengan berat 15-20 kg itu. “Ternyata, ketiga orang bersaudara ini bisa berbicara lancar, cuma kondisi fisiknya saja yang berbeda dengan anak-anak seumurnya,” kata Deny. 

Hari itu Deny pun menemukan fakta bahwa ketiga anak itu hanya bisa menggerakkan badannya dalam kondisi tidur telentang, sementara kedua tangan dan kakinya tidak bisa di gunakan sama sekali. 

Hati Deny pun merasa hancur manakala mendengar cerita Azwardi bila waktu memandikan sang buah hati telah tiba saatnya. Sepintas memang terdengar tidak manusiawi, namun fakta itu harus dilakukan Azwardi. 

Menurut Azwardi pada Kapolres Kota Pariaman ini, apabila ketiga anaknya ingin mandi, ia terpaksa menyeret kepala anak-anaknya ke kamar mandi, karena hanya bagian susunan tulang leher punggung dan panggul saja yang bisa digerakkan. 

Hal itu terpaksa dilakukan Azwardi, karena tulang tangan dan kaki ke tiga orang buah hatinya itu sangat mudah patah bila bergerak. 

Bahkan katannya, kedua tangan dan kaki ketiga orang anaknya itu telah beberapa kali patah, sehingga telah berbentuk seperti ruas-ruas bengkok. (Firman Sikumbang)

iklan adsense

Post a Comment

0 Comments