KESADARAN BERKURBAN PERSONEL MASIH ADA

KESADARAN BERKURBAN PERSONEL MASIH ADA

Polres Mentawai Sembelih Satu Sapi dan Satu Kambing



MENTAWAI, Pionir—Umat Islam kembalimendapat “tantangan” pada tahun kedua pandemi Covid-19, karena kondisi masyarakat di lapangan lebih “darurat” pada tahun 2021 dibanding 2020. 

Meski diprediksi jumlah hewan kurban yang akan disemblih menurun, namun kesadaran umat Islam untuk berkurban diprediksi masih menunjukkan angka yang cukup baik.  

Fakta itu juga terjadi di wilayah hukum Polres Kepulauan Mentawai, Polda Sumatera Barat (Sumbar). Kata Kapolres Kepulauan Mentawai, AKBP Mu'at SH MM yang dihubungi Pionir, Selasa (20/7), kendati demikian keikhlasan mengabdi sebagai insan Bhayangkara di wilayah kepulauan itu masih tetap ada.

“Tahun 2021 ini memang tantangannya luar biasa karena daya beli masyarakat lebih rendah dibanding tahun lalu 2020 lalu. Namun kesadaran insan Bhayangkara yang beragama Islam masih menunjukkan angka yang baik," kata Mu'at.

Kata Mu’at menambahkan, pada Hari Raya Idul Adha 1442 Hijriah keluarga besar Polres Kepulauan Mentawai masih bisa menyembelih satu ekor sapi serta satu ekor kambing  dan membagikan dagingnya pada masyarakat.

“Alhamdulillah seluruh daging hewan kurban diperuntukan bagi masyarakat yang kurang mampu yang berada di sekitar Mapolres Mentawai, termasuk sebagian disalurkan kepada anggota Polres sendiri,” ungkap Mu'at.

Muat mengatakan, pemotongan hewan kurban itu dilakukan usai melaksanakan Shalat Id di Masjid Sabulushalam Mako Polres Kepulauan Mentawai, dengan Khatib Idul Adha, Ustad Yoko Suprianto.

Sementara itu Ustad Yoko Suprianto dalam khutbahnya mengatakan, di tengah situasi pandemi saat ini kita harus memiliki hubungan sosial yang baik dengan keluarga, saudara, tetangga maupun karib kerabat lainnya. 

“Sebagai makhluk sosial, manusia harus hidup bermasyarakat dengan saling memberi manfaat antara satu dengan lainnya. Jika tidak, maka kita akan ditimpa kehinaan dan keresahan dimana pun kita berada. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Surat Ali-Imran ayat 112, yang artinya ; Mereka ditimpa kehinaan dimana saja berada, kecuali jika mereka menjalin hubungan baik kepada Allah dan menjalin hubungan baik kepada manusia,” kata Ustad Yoko Suprianto mengingatkan jamaah Shalat Id

Dikatakan Ustad Yoko, di tengah pandemi Covid-19 ini, masyarakat merasakan dampak sosial dan ekonomi yang dahsyat. KDRT meningkat, kriminalitas merajalela, dan keuangan pun sangat bermasalah. Jangankan beli paket data untuk anaknya yang sekolah online, untuk makan keseharian pun mereka kepayahan. Banyak juga anggota keluarga, karib kerabat dan tetangga kita dirundung kesusahan, dan serba sendirian menghadapi cobaan. Al-hasil, mereka pun merasa hidup terasing di tengah kerumunan banyak orang. Sungguh memprihatinkan !.

“Di tengah kehidupan bermasyarakat dibutuhkan kelekatan sosial yang bisa saling mengisi, berbagi dan melengkapi satu sama lain. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, cepat kaki, ringan tangan, ringan sama dijinjing berat sama dipikul adalah pribahasa-pribahasa yang menggambarkan pentingnya kelekatan sosial,” kata Ustad Yoko.

Ia mengatakan, dalam Islam kelekatan sosial ini dikenal dengan kata qaraba (dekat) yang kemudian diserap dalam bahasa Indonesia menjadi akrab, karib dan kerabat yang menunjukkan kedekatan yang istimewa. 

Untuk menciptakan kelekatan sosial ini kata Ustad Yoko menambahkan,  ibadah kurban menjadi sarana ampuh untuk mewujudkannya, baik untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarub ilallah) maupun  kedekatan kepada manusia (taqarub ilannas). Sehingga ibadah kurban mengandung dua dimensi yakni dimensi spiritual-transendental sebagai konsekwensi dari kepatuhan kepada Allah dan dimensi sosial humanis yang nampak dalam pola pendistribusian hewan kurban untuk mereka yang berhak (mustahiq).  (Firman Sikumbang)


Post a Comment

0 Comments