Polisi Peduli dan Humanis itu Ada di Polda Sumbar

Polisi Peduli dan Humanis itu Ada di Polda Sumbar

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo meminta jajaran Polri agar mereformasi diri secara total dan berupaya memperbaiki diri untuk menuju Polri Presisi (prediktif, responsibilitas, transparasi, dan berkeadilan). Ternyata Polisi seperti yang diharapkan presiden itu banyak terdapat di jajaran Polda Sumatera Barat (Sumbar).

Padang, Pionir--Kalaulah Jenderal Polisi (Purn) Drs. Hoegeng Iman Santoso, salah seorang tokoh Kepolisian Republik Indonesia (Polri), yang pernah menjabat sebagai Kapolri ke-5, yang terkenal jujur dan berpihak pada kepentingan rakyat masih hidup, tentu ia bangga melihat perubahan sikap para personel Polisi di jajaran Kepolisian Dareh (Polda) Sumatera Barat (Sumbar).

Hoegeng yang memang sejak masih sekolah di akademi kepolisian dikenal menjunjung tinggi integritas sebagai personel Kepolisian Republik Indonesia (Polri), bahkan hingga ia wafat di Jakarta pada tanggal 14 Juli 2004 dalam usia 82 tahun, integritasnya itu tak pernah luntur, dan masih memendam cita-cita Polri mampu menjadi sandaran rakyat.

Perlahan namun pasti, cita-cita Hoegeng itu mendekati kepastian dalam wujud nyata ! Jajaran Polda Sumbar melalui ujung tombak Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) yang disebar hingga ke pelosok desa, guna membina keamanan dan keteriban desa atau kelurahan binaannya serta menjalankan tugas secara pre-emtif dengan cara bermitra dengan masyarakat, mulai mendapat tempat dan bersemayam di hati masyarakat.

Melalui program kemasyarakatan, adat dan tradisi hingga empati sepontan para Bhabinkamtibmas mulai mendapat tempat di hati masyarakat. Ini pun telah dibuktikan oleh Kasat Lantas Polres Solok Selatan Iptu Ade Saputra, SH MH.

Wartawan Pionir menemui fakta, saat sebahagian para orang tua larut dalam suka menjalani masa tuanya, namun tak demikian dengan pasangan Kamis (79 tahun) dengan Nurtian (67 tahun), warga Pasir Putih, Kelurahan Lubuk Gadang Selatan, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan.

Di masa tuanya, pasangan suami istri yang hidup dalam hari-hari yang tiada lagi “bernyanyi” ini dipaksa keadaan harus merawat cucunya bernama Muhammad Andra (5 tahun) yang mengalami penyakit pembesaran kepala (hidrosefalus).

Kenyataan yang dihadapi itu membuat sang kakek merasa hidupnya bak mumbang alit di tangkai mayang, basah kuyup direnyai hari. Sebab, ia harus merangkai waktu yang resah di hari tuanya dan bersemayan dalam “rumah” yang gelisah. Karena, ia tak mampu menopang kehidupan keluarga dan tak dapat berbuat apa-apa. Apalagi dua orang anaknya yang masih hidup juga tak mampu berbuat banyak untuk menolong upaya kesembuhan sang cucu.

Kendati demikian, ia bersama istri tercinta tak mau menumpahkan tangisnya, karena ia merasa malu untuk melakukan itu. Walau begitu, rangkaian doa-doa terus dipanjantkannya keharibaan Allah Al Mu`iid (yang maha mengembalikan kehidupan) agar memberikan kesembuhan pada cucunya. 

Sang kakek mengaku hanya itu yang mampu dilakukan. Sebab, kalau mengobati cucunya dengan jalan operasi, mustahil untuk dilakukan. Karena saat ini kehidupannya pun tak obahnya bagai merangkuh perahu dari tiang tenggelam dan terancam gelombang serta letih berkepanjangan.

Ternyata Allah Al Muhaimin (yang Maha Mengatur) menjabah rangkaian doa-doa sang kakek dan nenek. Allah Al Baari' (yang Maha Melepaskan, Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan) pun meniupkan kabar duka sang kakek dan nenek ini ke telinga seorang Bhabinkamtibmas yang bertugas di daerah tempat tinggal mereka. Kabar lara itu segera ia teruskan ke Kasat Lantas Polres Solok Selatan Iptu Ade Saputra. 

Mendapat kabar itu Ade Saputra segera menunjukan empatinya, ia pun langsung datang bertandang ke rumah kakek Kamis dan nenek Nurtian yang masih terbengkalai pembangunannya, di Pasir Putih, Kelurahan Lubuk Gadang Selatan. 

Saat itu sehelai kenangan pun menyatu dalam sebuah pertemuan dengan perwira pertama kepolisian ini. Kedatangan Ade Saputra bersama beberapa orang personelnya yang di dampingi Wali Jorong, Eko Aprianto itu bermaksud hendak maliekan hati nan suci sarato muko nan janiah untuk menunjukan empati terhadap Muhammad Andra yang mengalami penyakit pembesaran kepala. 

Kepada Ade Ade Saputra, sang kakek bercerita bahwa duka yang dialami bocah malang ini berawal saat ia masih berusia 7 bulan mengalami kecelakaan lalulintas bersama kedua orang tuanya tahun 2017 lalu. Dalam peristiwa kecelakaan itu, ibu dari Muhammad Andra bernama Sisri Yuyanti (20 tahun) nyawanya tidak dapat diselamatkan.

Pasca musibah yang merenggut nyawa anak dan menantunya itu, sang kakek bersama nenek harus merawat dan mengasuh Muhammad Andra dengan segala keterbatasan, baik keterbatasan fisik maupun ekonomi.

Hari berganti, tahun pun berbilang menggenapkan hitungannya. Ternyata dalam menjalani hari-harinya kondisi kesehatan Muhammad Andra terus menurun. Berbarengan dengan itu lingkar kepala sang bocah pun menunjukan gejala tak lazim. Sebab makin hari kepalanya terus membesar.

"Menurut analisa dokter cucu kami mengalami penyakit pembesaran kepala atau secara medis disebut hidrosefalus. Padahal saat cucu kami ini lahir, ia dalam keadaan normal,” kata sang kakek.

Kini senja telah berangkat perlahan, tinggalah Muhammad Andra bersama sang kakek dan nenek dalam kehidupan yang timbul tenggelam, dan harus tidur dalam mimpi nan sansai. Ladang mimpinya untuk meraih kesembuhan pun seolah punah terbakar karena harus rela hidup dalam hari-hari yang tiada lagi berseri. Kini mereka hanya berharap kebaikan para dermawan untuk kesembuhan bagi cucunya.

Tak hanya Iptu Ade Saputra sikap terpuji juga ditunjukan personel Polisi lainnya di jaran Polda Sumbar. Ia adalah Bhabinkamtibmas Polsek Batipuh Selatan, Polres Padang Panjang, Bripka Ready Kurniawan.

Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, baru-baru ini Bripka Ready Kurniawan berupaya menolong Nuzuwar (84 tahun), salah seorang warga nagari Sumpur, Kecamantan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar yang terlihat letih sendirian mengayuh biduk kehidupannya. 

Sebagai seorang suami yang terpisah jauh dari anak dan istri yang saat ini berada di kabupaten Lubuklinggau, Provinsi Sumatra Selatan, tetap menjalankan hari-harinya sendiri di daerah yang secara hukum masuk wilayah Polres Padang Panjang dan secara administrasi masuk wilayah Kabupaten Tanah Datar itu. 

Beruntung, duka pak tua ini secara tak sengaja sempat terpantau Bripka Ready Kurniawan. Meyakini pak tua ini bagai tongkang di tengah lautan, sunsang dalam menampung malang karena sedang tidur beralasakan terpal di teras rumah warga, Ready dengan ketulusan yang mengalir dari jiwanya yang wangi berusaha mencari tahu tentang siapa pak tua itu sebenarnya. 

"Setelah mendapat informasi terkait keluarga Pak Nuzuwar, saya sangat prihatin dengan kondisi beliau yang ternyata jauh dari istri dan anaknya yang berada di daerah Linggau. Sementara untuk keponakannya di daerah ini usianya juga sudah tua dan mengalami keterbelakangan mental,” kata Ready Kurniawan yang dihubungi Pionir, Selasa 25 Januari 2022.

Air mata Ready seolah jatuh ke dalam begitu mendapat kabar bahwa pak tua itu sudah 8 tahun tidur beralasakan terpal di teras rumah warga. 

Meski penghasilannya sebagai seorang Brigadir Polisi tidaklah seberapa besar, namun ia telah menanamkan tekad dalam hatinya untuk membawa pak tua itu berada dalam “sebuah ruang”, yang memberikan ketenangan di sisa usianya. 

Jantung dan hati Ready semakin terasa tersayat-sayat begitu mendapat kabar bahwa selama ini Nuzuwar tidak bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah nagari dan kabupaten setempat lantaran pak tua ini tidak memiliki KK dan KTP. 

Berbekal uang Rp3.620.000 yang diperoleh dari tetes keringat yang mengalir sebagai anggota Polisi, Bripka Ready selaku Bhabinkamtibmas bersama warga berinisiatif untuk membuatkan pondok layak huni untuk pak tua ini. 

Meyakini uang sejumlah itu tidaklah cukup untuk membangun sebuah hunian yang layak, Bripka Ready Kurniawan memberanikan diri mendatangi toko bangunan Kurnia17 untuk menalangi bahan material bangunan yang diperlukan dengan jalan hutang. 

"Alhamdulilah dengan niat baik dan suport dari warga, saya selaku Bhabinkamtibmas memberanikan diri untuk datang kepada pemilik toko bangunan Kurnia17 agar bisa menalangi bahan bangunan yang diperlukan dalam pembuatan rumah layak huni bagi Nuzuwar dengan jaminan saya sendiri selaku Bhabinkamtibmas di daerah ini," jelas Ready. 

Untuk membangun hunian bagi pak tua itu, Ready dibantu Ketua Pemuda Jorong, Hamdi Asrul bersama warga sekitar untuk bergotong royong dalam pembuatan rumah sederhana layak huni tanpa mengeluarkan biaya upah tukang. 

Rumah layak yang lebih manusiawi akhirnya mampu dipersembahkan untuk Nuzuwar. Di sisi lain Ready pun berharap pak tua itu akan bersemangat menyongsong hari-harinya dalam mengarungi kehidupan yang tak kenal tawar menawar ini. 

Tak hanya para Polisi memiliki kepedulian tinggi, jajaran Polda Sumbar juga banyak memiliki Polisi dan Polwan yang humanis dan mampu berkomunikasi untuk merangkul masyarakat untuk ikut berpartisipasi menyuksekan program vaksinasi Covid-19, sehingga mampu membawa Sumbar menuju capaian target nasional 70 persen. (Firman Sikumbang)

Post a Comment

0 Comments