Kapolres Pariaman Ungkapkan Empati pada Satu Keluarga yang Mengalami Lumpuh

Kapolres Pariaman Ungkapkan Empati pada Satu Keluarga yang Mengalami Lumpuh


Kampung Dalam, Pionir—Saat sebahagian besar keluarga di seluruh dunia larut dalam kebahagian bersama anak-anak bahkan dengan menantu dan cucu mereka, namun tak demikian dengan anak-anak dari pasangan suami istri (pasutri) Ajo Anaih (Almarhum) dan Uniang Kamisah (Almarhumah).

Entah memang sudah menjadi suratan takdir dari Allah Azza Wajalla, atau memang pasutri ini tak memahami persoalan kesehatan dalam mengurus ke tujuh anak-anaknya saat masih bayi, sehingga lima orang dari ketujuh anaknya mengalami kelumpuhan permanen, bahkan saat ini mereka telah berusia tua dan ada yang telah berusia 62 tahun.

Kini lima orang anak dari pasangan Alm Ajo Anaih dan Almh Uniang Kamisah yang mengalami lumpuh permanen tersebut bagaikan elang yang tersesat di rimba raya, yang tak tahu entah kemana tempat bersarang dan hanya bisa bekulik ketika senja tiba.

Duka yang dilalui satu keluarga ini akhirnya sampai jua ke telinga Kapolres Pariaman, Polda Sumatera Barat (Sumbar), AKBP Abdul Aziz SIK. Berawal dari laporan Bripka Del Harianto, Bhabinkamtibmas Nagari Campago Barat, yang mengatakan salah seorang warga di daerah binaanya bernama Irwan (45 tahun), warga Korong Sei.Jilatang, Nagari Campago Barat, yang mengalami lumpuh perlu mendapatkan perhatian dan bantuan sembako.

Irwan mengaku, sejumlah program bantuan yang digulirkan pemerintah kepadanya belum sepenuhnya diterima. Meski, sempat menerima, tapi itupun hanya beberapa kali. “Sempat ada bantuan beras dua kali, namun sekarang tak ada lagi,” katanya. 

Kepada Bripka Del Harianto selaku Bhabinkamtibmas Nagari Campago Barat, Irwan pun mengaku, hingga kini masih sering minum obat penghilang rasa nyeri yang menyerang kedua kakinya yang sudah mengecil tersebut.

“Kalau lagi ingin keluar kamar dan duduk di depan rumah, saya gunakan tongkat kayu buatan saya itu,” kata Irwan sambil menunjuk ke arah pintu.

Sebuah pengakuan mengejutkan dan sempat membuat Bripka Del Harianto terdiam sambil mengela nafas panjang tiba-tiba meluncur daru mulut Irwan.

“Sebenarnya bukan saya saja yang mengalami derita ini. Dari tujuh orang bersaudara, lima orang keluarga kami mengalami lumpuh,” kata Irwan sambil menegadah menahan rasa haru.

Ia pun menyebutkan nama-nama saudara yang mengalami nasib yang sama dengannya. Mereka adalah Indrawan (47 tahun), Ismawarni (50 tahun) dan Yuanisdar (62 tahun). Semua kakak saya itu tinggal satu rumah di Air Cama, Korong Sungai Jilatang, Nagari Campago Barat, Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman,” kata Irwan.

Mendengar kabar miris tersebut, Kapolres Pariaman, Polda Sumbar, AKBP Abdul Aziz SIK bersama Wakapolres Kompol Jon Hendri, SH, Kabag Ops AKP Rahmat, Kasat Intelkam AKP Harmon, SH, Kasat Samapta Hijrul Aswad, SH, Kasat Narkoba Iptu Nofridal, SH, MH, Kapolsek Kampung Dalam Iptu Jafri, SH dan personel Polres Pariaman langsung menuju ke kediaman keluarga malang ini, untuk memberikan bantuan sembako.

Ketika menatap wajah satu keluarga yang mengalami lumpuh itu, perasaan AKBP Abdul Aziz seolah hanyut hingga ke luar batas dinding. Kemudian, mengendap dan menyatu dalam kata-kata yang bisu.

Secuil pengertian, kemudian mempertalikan jiwa dan menyalakan kasih bak antara ibu dan anak. Perbincangan pun mengalir antara Kapolres Pariaman ini dengan Yusnidar yang sudah berusia 62 tahun itu.

Ketika wanita yang terlihat lebih tua dari usia sesungguhnya itu disapa Kapolres Pariaman, ia pun berusaha untuk tersenyum. Sebuah senyuman tulus yang mengalir dari jiwa yang wangi ! 

Perbincangan santai perlahan pun dimulai. Saat itu AKBP Abdul Aziz berupaya duduk disamping Yusnidar untuk mendengarkan keluhan yang dialami wanita yang harus hidup sendiri manakala usianya sudah beranjak tua tersebut.

“Almarhum dan Almarhumah kedua orang tua kami sebenarnya sudah membawa berobat ke sana, ke sini, hingga ke pengobatan dukun kampung, namun kami tak kunjung sembuh,” ujar Yusnidar dengan mata mulai berkaca-kaca.

Yusnidar mengaku bahwa ia bersama empat orang saudaranya terlahir normal, namun ketika mulai tumbuh besar kaki mereka mulai mengecil bahkan melengkung. Kenyataan itu katanya, seolah membuat mereka bagai tersedu di depan pintu dalam mengais bahagia.

Mendengar pernyataan itu, perasaan AKBP Abdul Aziz bersama rombobongan langsung terenyuh, dan berjanji akan berkoordinasi dengan Forkopimda untuk mencarikan solusi terbaik untuk keluarga tersebut, yang diharap dapat mengantarkan keluarga ini pada “sebentuk ruang” yang dapat memberikan ketenangan dan kedamaian pada keluarga tersebut dalam menjalani hari-hari tuanya. (Firman Sikumbang)

Post a Comment

0 Comments