Cita Rasa Rumah Makan Talago Biru Melegenda
Rumah Makan Talago Biru Pasar Simpang Haru, kota Padang
Menjaga Rasa, Merawat Kenangan di Rumah Makan Talago Biru. Di tengah gempuran kafe estetik dan restoran modern, rumah makan legendaris tetap memiliki tempat istimewa di hati para pencinta kuliner. Aroma masakan yang khas, resep turun-temurun, serta suasana sederhana nan hangat membuat pengunjung rela mengantre demi sebungkus nasi.
Bagi sebagian orang, rumah makan legendaris bukan sekadar tempat mengisi perut, melainkan ruang untuk mengulang kenangan, tentang sarapan pagi bersama keluarga, obrolan ringan di meja kayu, hingga rasa masakan yang tak pernah berubah meski zaman berganti.
Keistimewaan rumah makan legendaris terletak pada konsistensi rasa. Nasi rendang, pangek masin, kalio dagiang tetap hadir dengan cita rasa orisinal yang sulit ditandingi restoran kekinian.
Tak heran, generasi muda pun ikut berburu pengalaman mencicipi menu klasik yang dulu menjadi favorit orang tua mereka.
Di saat tren kuliner datang dan pergi, rumah makan legendaris justru menunjukkan kekuatannya. Kesetiaan pelanggan dan kekhasan rasa menjadi bukti bahwa keaslian selalu punya tempat. Mereka bukan hanya menjual makanan, tetapi juga menghadirkan cerita dan tradisi yang terus hidup dari waktu ke waktu.
Salah satu rumah makan yang menjadi saksi perjalanan rasa itu adalah Rumah Makan Talago Biru, yang terletak di kawasan Pasar Simpang Haru, Kota Padang.
Rumah makan ini telah berdiri sejak tahun 1971 dan sejak awal sudah mendapat tempat di hati para pelanggannya, salah satu nya Bastian (75), pelanggan setia Talago Biru sejak tahun 1971 yang lalu, mengenang masa awal berdirinya rumah makan tersebut.
“Dulu bentuknya masih los panjang, posisinya di belakang, tepat di dalam area pasar,” ujar Bastian.
Pada tahun 1973, Rumah Makan Talago Biru kemudian direnovasi dan berpindah ke bagian depan pasar, seperti posisi yang dikenal masyarakat hingga hari ini. Seiring waktu, namanya semakin dikenal, bahkan hingga ke luar negeri.
“Masakannya lamak bana. Randang jariang, pangek masin, sampai rendang daging, rasanya dari dulu sampai sekarang tidak berubah,” katanya.
Bastian (75 thn) dan Wirman (65 thn), Pelanggan setia Rumah makan Talago Biru“Sudah banyak pelanggan Talago Biru yang mangkat. Dulu, rumah makan ini dikenal sebagai tempat sarapan pagi para pejabat. Salah satunya Komisaris PT Semen Padang, Zal One,” ujarnya.
Menurut Wirman, pergantian generasi tak terelakkan. Banyak pelanggan lama yang telah tiada, dan kini hanya tersisa beberapa orang yang masih setia datang sejak puluhan tahun lalu.
“Generasi lama sudah banyak yang berpulang. Tinggal beberapa orang saja, seperti Pak Bastian dan saya,” tuturnya lirih.
Meski zaman telah berubah, Rumah Makan Talago Biru tetap bertahan. Di era sekarang, rumah makan yang berdiri sejak awal 1970-an ini masih mendapat tempat di hati masyarakat, termasuk kalangan pejabat.
Tak jarang, Rumah makan Talago Biru menjadi ruang diskusi, berseloroh, dan bertukar pikiran, terutama di meja satu, yang seolah menjadi saksi bisu perjalanan waktu.
Di Talago Biru, rasa bukan sekadar soal lidah. Ia adalah ingatan, tradisi, dan cerita tentang Padang yang terus hidup di setiap suapan.
Penulis: Firman Sikumbang



0 Comments