Di Pagi yang Sibuk, Tangan Dalmas Menjadi Penjaga Keselamatan
Di tengah kepadatan itu, sosok-sosok berseragam Dalmas Direktorat Samapta Polda Sumatera Barat berdiri tegak, menjadi penanda bahwa keselamatan tetap harus diutamakan.
Inilah Pengaturan Pagi atau gatur pagi sebuah rutinitas yang mungkin tampak sederhana, namun menyimpan makna besar.
Bagi personel Dalmas, gatur pagi bukan sekadar mengurai kemacetan. Lebih dari itu, ia adalah wujud kehadiran negara dalam melindungi warganya sejak matahari baru terbit.
Dengan isyarat tangan yang tegas namun bersahabat, seorang personel Dalmas menghentikan laju kendaraan. Di hadapannya, beberapa pelajar berseragam putih abu-abu melangkah ragu. “Silakan,” ucapnya singkat, sambil memastikan setiap langkah mereka aman hingga ke seberang jalan.
Senyum kecil mengiringi langkah para pelajar itu, sebuah senyum yang mungkin tak pernah tercatat dalam laporan resmi, namun nyata dirasakan.
Kasubdit Dalmas Direktorat Samapta Polda Sumatera Barat, Kompol Maman Rosadi, S.H., menyebut bahwa keselamatan pejalan kaki menjadi perhatian utama dalam setiap pelaksanaan gatur pagi.
Terutama bagi anak-anak sekolah, yang setiap pagi harus berhadapan dengan risiko lalu lintas di jam-jam tersibuk.
“Pejalan kaki yang hendak menyeberang jalan kita prioritaskan keselamatannya. Pelajar yang menuju sekolah adalah tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.
Pelaksanaan gatur pagi di kawasan Veteran pada Kamis, 15 Januari 2026, menjadi potret kecil dari kerja besar yang dilakukan setiap hari. Di balik peluit, gerakan tangan, dan langkah tegap para personel, ada komitmen untuk menjaga denyut kehidupan kota tetap berjalan dengan aman.
Menurut Maman, kegiatan ini sejalan dengan arahan Direktur Samapta Polda Sumbar, Kombes Pol Akhmadi, yang menekankan pentingnya kesiapsiagaan personel di lapangan, khususnya pada jam rawan kemacetan dan kecelakaan.
Di saat sebagian orang masih mengeluh tentang macetnya pagi, para personel Dalmas telah lebih dulu hadir berdiri di persimpangan, menahan panas, menepis lelah demi satu tujuan sederhana namun mulia, memastikan setiap warga tiba di tujuannya dengan selamat.
Dan ketika pagi benar-benar beranjak siang, peluit itu pun terdiam. Namun jejak pengabdian tetap tertinggal, menyatu dalam ritme kota yang kembali bergerak. (Firman Sikumbang)


0 Comments