Ketika Pagi Dijaga dengan Amanah
Deru mesin kendaraan bersahutan, langkah kaki berkejaran dengan waktu, dan harapan kecil berbaris rapi di pundak para pelajar yang hendak menimba ilmu.
Di persimpangan itu, para personel Dalmas Direktorat Samapta Polda Sumatera Barat berdiri. Tegak. Diam. Namun sesungguhnya, merekalah yang pertama kali menyapa pagi dengan pengabdian. Peluit yang mereka tiup bukan sekadar tanda lalu lintas, melainkan seruan sunyi agar manusia saling menjaga, saling memberi ruang, dan saling menghormati kehidupan.
Bagi mereka, pengaturan pagi, gatur pagi bukanlah rutinitas tanpa makna. Ia adalah amanah. Sebab setiap langkah anak sekolah yang menyeberang jalan, setiap orang tua yang menggenggam harapan, adalah titipan yang harus diselamatkan.
Di hadapan laju kendaraan dan kesibukan kota, keselamatan manusia menjadi ibadah yang nyata. Tangan-tangan berseragam itu terangkat, menghentikan arus yang bergegas.
Di sela-sela kebisingan, beberapa pelajar melangkah ragu. “Silakan,” isyarat itu berbicara tanpa kata. Dan di setiap langkah yang selamat hingga seberang, ada pahala yang mungkin tak terlihat, tetapi dicatat dengan teliti oleh Yang Maha Menjaga, Allah Azza Wa Jalla.
Kasubdit Dalmas Direktorat Samapta Polda Sumatera Barat, Kompol Maman Rosadi, S.H., menyadari benar bahwa tugas ini bukan hanya soal ketertiban, melainkan tentang tanggung jawab moral dan spiritual.
"Keselamatan pejalan kaki kita dahulukan, terutama anak-anak yang hendak ke sekolah. Mereka adalah amanah masa depan,” tuturnya lirih namun penuh makna.
Pelaksanaan gatur pagi di kawasan Veteran pada Kamis, 15 Januari 2026 itu, menjadi saksi bahwa pengabdian tak selalu lahir dari mimbar atau kata-kata besar. Ia tumbuh dari kesediaan berdiri di bawah matahari pagi, menahan letih, demi orang lain melangkah tanpa rasa takut.
Arahan Direktur Samapta Polda Sumbar, Kombes Pol Akhmadi, tentang kehadiran polisi di jam-jam rawan, bukan sekadar instruksi kedinasan. Ia adalah pengingat bahwa tugas menjaga keselamatan sesama adalah jalan sunyi menuju keberkahan.
Ketika pagi beranjak siang, para personel itu perlahan meninggalkan persimpangan. Namun jejak mereka tak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal dalam rasa aman, dalam doa orang tua, dalam langkah ringan para pelajar yang sampai ke sekolah dengan selamat.
Sebab menjaga pagi, pada hakikatnya, adalah menjaga amanah Tuhan agar hidup terus berjalan, dengan selamat dan bermartabat. (Firman Sikumbang)


0 Comments