Ketika Kota Padang Terjaga oleh Tangan-Tangan Pengabdian

iklan adsense

Ketika Kota Padang Terjaga oleh Tangan-Tangan Pengabdian

Dalmas Ditsamapta Polda Sumbar Hadir di Setiap Persimpangan Jalan


Padang, Pionir----Pagi itu embun belum sepenuhnya sirna, deru kendaraan yang perlahan memadati jalan, dan langkah-langkah warga yang bergegas menuju sekolah, kantor, serta tempat penghidupan. Di antara denyut itu, ada sosok-sosok yang lebih dulu hadir berdiri di tengah persimpangan, menjaga agar pagi tak berubah menjadi petaka.

Mereka adalah personel Subdit Dalmas Direktorat Samapta Polda Sumatera Barat.

Sejak fajar belum sepenuhnya terang, para anggota Dalmas telah menempati titik-titik rawan kemacetan dan kecelakaan lalu lintas. Jalan S. Parman Ulak Karang, Jalan Veteran, Ujung Gurun, hingga Jalan Ahmad Yani menjadi saksi bagaimana tangan-tangan berseragam mengatur laju kota, memberi ruang bagi pejalan kaki, dan memastikan pelajar menyeberang dengan selamat.

Udara pagi masih dingin, sisa hujan malam menyisakan lembap yang merambat ke tulang. Namun tak satu pun dari mereka beranjak. Dengan sikap tegap dan wajah tenang, personel Dalmas menjalankan tugas yang kerap luput dari sorotan, tetapi menentukan keselamatan banyak orang.

Kasubdit Dalmas Ditsamapta Polda Sumbar, Kompol Maman Rosadi, S.H., menyebutkan bahwa kegiatan Gatur Pagi merupakan bagian dari komitmen pelayanan Polri yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

“Pengaturan lalu lintas pagi ini kami fokuskan di simpul-simpul jalan, kawasan sekolah, dan perkantoran. Tujuannya sederhana, masyarakat merasa aman, lalu lintas lancar, dan potensi kecelakaan bisa ditekan,” ujarnya.

Lebih dari sekadar mengurai kemacetan, Gatur Pagi adalah upaya preventif yang mengandalkan kehadiran manusia, bukan hanya rambu dan marka. Di balik setiap isyarat tangan, ada kepekaan membaca situasi. Di balik setiap peluit yang ditiupkan, ada tanggung jawab besar agar tak ada nyawa yang melayang sia-sia.

Bagi para personel Dalmas, berdiri berjam-jam di tengah arus kendaraan bukan perkara mudah. Namun tugas ini dijalani sebagai bentuk pengabdian. Ada pelajar yang tersenyum saat dibantu menyeberang, ada pengendara yang melambat dan memberi anggukan hormat. Isyarat kecil, namun cukup menjadi penyemangat.

Di tengah hiruk-pikuk kota yang terus berlari, mereka hadir sebagai penyangga ketertiban. Tanpa panggung, tanpa sorotan kamera, mereka memastikan setiap pagi berjalan sebagaimana mestinya tenang, aman, dan manusiawi.

Ketika matahari mulai meninggi dan lalu lintas berangsur stabil, para penjaga pagi itu perlahan bergeser. Tugas belum usai, hanya berganti rupa. 

Namun jejak pengabdian mereka tertinggal di jalan-jalan yang kembali tertib, di langkah masyarakat yang sampai ke tujuan dengan selamat. Di sanalah makna sebuah tugas kepolisian menemukan hakikatnya. (Firman Sikumbang)


iklan adsense

Post a Comment

0 Comments