Firman Sikumbang dan Suara Warga di Tengah Puing Puing Rerentuhan
Langkah kaki itu berhenti di hadapan rumah yang kini tinggal pondasi. Di sekelilingnya, warga berkumpul, saling menyela dengan cerita yang tak sempat disimpan. Firman Sikumbang, Ketua Lembaga Anti Narkotika (LAN) Provinsi Sumatera Barat, berada di tengah mereka, menyerap satu per satu luka yang ditinggalkan bencana di Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang.
Padang, Pionir-- Senin, 12 Januari 2026, Firman Sikumbang, Ketua Lembaga Anti Narkotika (LAN) Provinsi Sumatera Barat, melakukan survei pascabencana di Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Di jalan sempit itu, langkahnya terhenti berkali-kali karena melihat langsung warga terdampak bencana sedang berjuang bertahan di tengah kehilangan.
Warga mengerumuninya. Seorang ibu dengan mata sembab menggenggam tangannya erat. “Rumah kami hancur, Pak. Tapi yang paling berat itu rasa takut anak-anak kami,” ucapnya lirih, sembari menunjuk puing rumah yang masih basah oleh hujan.
Kedatangannya disambut Ketua RW dan Ketua RT setempat, yang sejak awal mendampingi proses peninjauan. Di hadapan para warga, Firman Sikumbang menegaskan bahwa kehadirannya bukan sekadar formalitas. “Saya datang ke sini bukan hanya untuk melihat kerusakan bangunan, tapi untuk mendengar langsung apa yang dirasakan masyarakat,” katanya.
Di sudut lain, Rizal (47), seorang buruh harian, berdiri dengan wajah letih. Ia kehilangan tempat tinggal sekaligus sumber penghasilan. “Kami bingung mau mulai dari mana. Kerja tidak ada, rumah tidak ada. Yang kami takutkan, anak-anak melihat kami menyerah,” ujarnya dengan suara tertahan.
Tak jauh dari situ, Nurhayati (52), ibu rumah tangga yang kini mengungsi di rumah kerabat, mengusap air matanya. “Malam itu kami lari tanpa sempat membawa apa-apa. Sampai sekarang anak saya masih sering terbangun karena takut hujan,” katanya pelan.
Cerita-cerita itulah yang membuat Firman berkali-kali menghentikan langkahnya. Ia menyadari, bencana tidak hanya merobohkan bangunan, tetapi juga mengguncang ketahanan mental dan sosial masyarakat.
“Saat ekonomi terhimpit dan mental terguncang, masyarakat menjadi sangat rentan. Di titik inilah kita harus hadir, agar mereka tidak jatuh pada pilihan-pilihan yang merusak masa depan,” tegas Firman Sikumbang.
Ia mengingatkan, bahwa trauma pascabencana sering kali membuka celah bagi berbagai persoalan sosial, termasuk penyalahgunaan narkotika.
“Pemulihan tidak boleh berhenti pada membangun rumah. Yang jauh lebih penting adalah membangun kembali rasa aman, harapan, dan lingkungan sosial yang sehat,” ujarnya.
Firman Sikumbang menegaskan, komitmen LAN Sumatera Barat untuk terlibat aktif dalam pendampingan sosial pascabencana. “Kami siap bekerja sama dengan tokoh masyarakat, pemuda, dan keluarga-keluarga di sini. Anak-anak kita harus tetap berada di jalur yang benar meski sedang diuji keadaan,” katanya di hadapan Ketua RW dan RT.
Menjelang sore, kunjungan itu berakhir. Sepatu Firman berlumur lumpur, namun catatannya penuh. Ia menutup survei dengan satu pesan sederhana namun bermakna, “Bencana ini berat, tapi Bapak dan Ibu tidak sendirian. Kita akan bangkit bersama.” katanya.
Di Kelurhan Kapalo Koto, bencana memang telah meruntuhkan banyak hal. Namun di antara puing-puing itu, masih tumbuh harapan, lahir dari pertemuan antara kepedulian, keberanian warga, dan kemanusiaan yang saling menguatkan, tukasnya. (Boby)


0 Comments