Ketika Ranah Minang Diuji Zaman, Adat Tak Boleh Diam

iklan adsense

Ketika Ranah Minang Diuji Zaman, Adat Tak Boleh Diam

Ketua Forum Anak Nagari Sumatera Barat, Firman Sikumbang saat memimpin rapat bersama para Bundo Kanduang di Kantor LKAAM Sumbar (Doc. FKAN)


Padang, Pionir--Ruang rapat Kantor LKAAM Sumatera Barat di kawasan Masjid Raya Sumbar siang itu terasa sarat makna. Deretan bundo kanduang duduk berbalut busana adat, wajah mereka memancarkan kegelisahan yang sama, kegelisahan akan arah generasi Minangkabau di tengah derasnya perubahan zaman.

Sorotan nasional terhadap Sumatera Barat yang disematkan sebagai salah satu daerah dengan angka perilaku seksual menyimpang lima tertinggi menjadi luka batin bagi ranah yang selama ini dikenal kokoh memegang falsafah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

Ketua Forum Anak Nagari (FKAN) sekaligus Ketua Lembaga Anti Narkotika Provinsi Sumatera Barat, Firman Sikumbang, menyampaikan sikap tegas di hadapan para bundo kanduang dan tokoh adat yang hadir.

“Orang Minang seharusnya malu. Kita ini hidup di atas adat dan agama. Kalau kondisi ini kita biarkan, berarti kita sedang mengkhianati marwah ranah sendiri,” tegas Firman.

Menurut Firman, persoalan ini tidak bisa hanya dibicarakan di ruang rapat atau menjadi wacana sesaat. Ia menegaskan bahwa niniak mamak dan bundo kanduang harus kembali menjalankan fungsi adatnya sebagai penjaga nilai, pendidik moral, dan pelindung anak kemenakan.

"Jangan diam. Diam itu tanda kelalaian. Ketika adat tidak bersuara, maka penyimpangan akan merasa mendapat ruang,” ujarnya.

Seruan tersebut mendapat tanggapan langsung dari Bundo Mainur, salah seorang tokoh Bundo Kanduang Forum Anak Nagari Sumatera Barat, yang menyampaikan suara keprihatinan kaum ibu Minangkabau.

"Kami sebagai bundo kanduang merasa terpanggil. Kalau bukan kami yang mengingatkan anak kemenakan, siapa lagi? Adat Minangkabau menempatkan perempuan sebagai limpapeh rumah nan gadang, penyangga nilai dalam kaum,” ujar Bundo Mainur.

Ia menegaskan, meningkatnya praktik prostitusi dan merosotnya moral generasi muda tidak boleh dianggap sebagai aib yang disembunyikan, tetapi sebagai peringatan keras agar seluruh unsur adat kembali bergerak.

"Adat bukan sekadar pakaian saat acara. Adat itu tuntunan hidup. Kalau bundo kanduang diam, maka rusaklah rumah gadang. Kalau ibu tidak bicara, maka anak akan kehilangan arah,” tutur Bundo Mainur dengan nada tegas namun penuh keibuan.

Bundo Mainur menyatakan kesiapan bundo kanduang FKAN Sumatera Barat untuk turun langsung ke tengah masyarakat. Edukasi berbasis adat, pendekatan kekeluargaan, serta penguatan nilai agama akan menjadi fokus utama dalam menyikapi tingginya angka prostitusi dan perilaku menyimpang di Tanah Minang.

Forum Anak Nagari Sumatera Barat pun sepakat menyusun langkah strategis bersama niniak mamak, alim ulama, dan unsur pemuda, agar adat tidak hanya hidup dalam pidato, tetapi hadir nyata dalam keseharian masyarakat.

"Menyelamatkan marwah Minangkabau adalah amanah adat, bukan pilihan. Di ranah yang menjunjung tinggi nilai agama dan budaya, suara Bundo Kanduang menjadi penegas bahwa adat masih hidup, dan tidak akan tinggal diam, tuturnya ( Boby)

iklan adsense

Post a Comment

0 Comments