SUMBAR DARURAT MORAL! Firman Sikumbang: 80 Persen Prostitusi Lahir dari Narkotika, Adat dan Niniak Mamak Dibiarkan Mati

iklan adsense

SUMBAR DARURAT MORAL! Firman Sikumbang: 80 Persen Prostitusi Lahir dari Narkotika, Adat dan Niniak Mamak Dibiarkan Mati

Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari dan LAN Provinsi Sumatera Barat Firman Sikumbang, bersama Kerua Bakorkan Kota Padang Datuak Zubardi Koto Angkat Dirajo


Padang, Pionir--Meningkatnya praktik prostitusi dan maraknya perilaku penyimpangan sosial di Sumatera Barat menjadi alarm keras bagi masa depan generasi Minangkabau. 

Ketua Forum Anak Nagari Sumatera Barat sekaligus Ketua Lembaga Anti Narkotika (LAN) Provinsi Sumatera Barat, Firman Sikumbang, bersama Datuak Zubardi Koto Datuak Angkat Rajo di Rajo, Ketua BakorKAN Kota Padang, menyatakan sikap tegas atas kondisi yang mereka sebut sebagai darurat moral.

Pertemuan dua tokoh tersebut berlangsung di Rumah Makan Talago Biru, Pasar Simpang Haru, Kota Padang, Senin (19/1/2026). 

Diskusi itu mengerucut pada satu kesimpulan, narkotika adalah pintu awal runtuhnya marwah masyarakat Sumatera Barat.

Firman Sikumbang melontarkan pernyataan keras tanpa tedeng aling-aling. Ia menyebut, sekitar 80 persen praktik prostitusi berakar dari penyalahgunaan narkotika.

“Ini bukan angka karangan. Ini jeritan lapangan. Delapan dari sepuluh kasus prostitusi berawal dari narkotika. Begitu candu menguasai tubuh, iman lumpuh, akal mati, dan harga diri pun dijual. Inilah wajah paling kejam narkotika,” tegas Firman Sikumbang.

Ia bahkan menyebut narkotika sebagai pembunuh senyap adat dan agama. “Narkotika bukan sekadar merusak badan, tapi membunuh adat secara perlahan. Ia menghabisi iman, merobohkan rasa malu, dan memaksa manusia hidup seperti binatang. Kalau ini terus dibiarkan, jangan lagi kita bangga menyebut Sumatera Barat sebagai ranah beradat,” katanya dengan nada tinggi.

Firman juga menyentil keras peran sosial yang dinilainya mulai lumpuh. “Hari ini adat kita hanya ramai saat baralek dan batagak gala. Tapi saat anak kamanakan tenggelam dalam narkotika dan prostitusi, semua memilih diam. Diam itu dosa, dan dosa itu sedang kita wariskan kepada anak cucu,” ucapnya lantang.

Sementara itu, Datuak Zubardi Koto Datuak Angkat Rajo di Rajo menegaskan bahwa akar solusi harus dimulai dengan menghidupkan kembali fungsi niniak mamak di tengah nagari.

“Kalau niniak mamak tidak lagi menjadi penuntun, maka nagari kehilangan arah. Maksiat tumbuh karena pagar adat runtuh. Ini bukan salah anak kamanakan semata, tapi kegagalan kita sebagai pemangku adat,” tegasnya.

Di akhir pertemuan, suasana berubah menjadi ratok adat yang penuh keprihatinan. Firman Sikumbang menutup dengan ungkapan yang mengguncang kesadaran.

“Nagari kito kini ibarat rumah gadang yang bocor atapnya. Hujan maksiat masuk dari segala arah, tapi penghuni rumah saling diam. Anak kamanakan basah kuyup, niniak mamak mancaliek jo mata taduah. Kalau rumah gadang roboh, ka mano kito barlindung?”

Ia menegaskan, jika narkotika tidak diperangi dari hulu dan adat terus dibiarkan lemah, maka Sumatera Barat hanya akan menjadi nama tanpa marwah.

“Adat basandi syarak bukan slogan. Kalau syarak ditinggalkan dan adat dimatikan, maka yang lahir adalah generasi tanpa arah dan nagari tanpa harga diri.” ujarnya.

Pertemuan tersebut menjadi seruan keras agar seluruh elemen masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat, segera bangkit. Sebab jika hari ini peringatan diabaikan, esok yang rusak bukan hanya generasi, tetapi seluruh marwah Minangkabau, tukasnya (Boby)

iklan adsense

Post a Comment

0 Comments