Melawan Narkotika dari Meja Lapau
Sejak dahulu, lapau telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan masyarakat. Di sanalah laki-laki Minangkabau duduk berhadap-hadapan, menyamakan pandangan, atau justru mempertajam perbedaan.
Obrolan di lapau sering kali dimulai dari hal sepele, cuaca, hasil sawah, atau kabar perantau, namun perlahan mengalir menjadi diskusi serius yang menyentuh persoalan nagari.
Dalam adat Minangkabau, musyawarah adalah ruh kehidupan sosial. Jika di kampung ada balai adat sebagai simbol resmi, maka lapau adalah balai adat rakyat. Tempat di mana egalitarianisme hidup tanpa harus diumumkan. Tak peduli jabatan, gelar, atau kedudukan, semua duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.
“Duduak samo randah, tagak samo tinggi,” bukan sekadar pepatah, melainkan laku hidup yang dijalani.
Kebiasaan berkumpul di lapau lazim terjadi pada pagi hari, ketika aktivitas belum sepenuhnya dimulai, dan pada malam hari, saat lelah seharian mencari nafkah dilepas bersama secangkir kopi. Pada momen-momen itulah, informasi menyebar, opini dibentuk, dan kesadaran sosial tumbuh.
Lapau dan Ancaman Zaman
Namun zaman terus bergerak. Minangkabau yang dahulu dikenal dengan adat dan surau, kini dihadapkan pada tantangan besar, narkotika.
Ancaman ini tidak datang dengan suara gaduh, melainkan perlahan, senyap, dan mematikan. Ia menyasar generasi muda, usia produktif yang seharusnya menjadi tulang punggung nagari.
Di tengah situasi itulah, nilai-nilai lama kembali diuji relevansinya. Apakah lapau masih punya peran? Ataukah ia hanya tinggal romantisme masa lalu.?
Bagi Lembaga Anti Narkotika (LAN) Provinsi Sumatera Barat, jawabannya jelas, lapau tetap relevan. Bahkan, justru di sanalah denyut kesadaran kolektif bisa dibangkitkan kembali. Sebab melawan narkotika tidak cukup hanya dengan pendekatan formal dan seremonial. Ia membutuhkan sentuhan budaya, pendekatan emosional, dan komunikasi yang membumi. Lapau menyediakan semua itu.
Diskusi yang Bersahaja, Gagasan yang Besar
Pada Selasa, 20 Januari 2026, di Rumah Makan Talago Biru, Pasar Simpang Haru, Kota Padang, kembali menjalankan fungsinya yang hakiki. Tidak ada spanduk, tidak ada mimbar, apalagi pidato panjang. Yang ada hanyalah meja sederhana, beberapa piring, dan obrolan yang mengalir hangat.
Di sana, Ketua LAN Kota Padang, Afrialdi Masbiran, SH, M.Hum, tampak menyampaikan teknis pelaksanaan Ikrar Anti Narkotika kepada Dewan Penasehat LAN Sumbar, Dr. Firdaus. Penjelasan disampaikan dengan bahasa yang lugas, sesekali diselingi canda khas lapau. Namun di balik kesan santai itu, tersimpan keseriusan yang mendalam.
Ikrar anti narkotika bukan sekadar formalitas. Ia adalah pernyataan moral, sebuah komitmen bersama untuk menjaga generasi muda dari bahaya laten narkotika. Di lapau, gagasan itu tidak terasa menggurui. Ia hadir sebagai ajakan, sebagai panggilan nurani.
Tak jauh dari perbincangan itu, Ketua LAN Provinsi Sumatera Barat, Firman Sikumbang, ikut menyimak. Sesekali ia menimpali, memperkaya diskusi dengan pandangan yang lebih luas.
Di lapau, Firman tidak tampil sebagai pejabat organisasi, melainkan sebagai anak nagari yang gelisah melihat masa depan generasi Minang.
“Di lapau, kita bicara dari hati,” begitu kira-kira semangat yang terasa. Sebab pesan yang lahir dari hati, akan sampai pula ke hati.
Kearifan Lokal sebagai Benteng
Minangkabau memiliki kekayaan nilai adat yang luar biasa. Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah bukan slogan kosong. Ia adalah filosofi hidup yang menempatkan moral dan agama sebagai pondasi. Lapau, sebagai ruang budaya, menjadi tempat nilai-nilai itu dibicarakan, diperdebatkan, dan diwariskan.
Ketika narkotika masuk, ia bukan hanya merusak tubuh, tetapi juga merobek tatanan adat dan sosial. Maka melawannya tidak cukup dengan hukum semata. Ia perlu pendekatan budaya, menghidupkan kembali ruang-ruang dialog seperti lapau.
Apa yang dilakukan LAN Sumatera Barat menunjukkan bahwa kearifan lokal bukan penghambat kemajuan, melainkan benteng pertahanan. Dari lapau, pesan anti narkotika bisa menyebar secara alami, dari mulut ke mulut, dari hati ke hati.
Matahari sudah mulai meninggi di Rumah Makan Talago Biru. Obrolan perlahan mereda, namun maknanya masih tinggal. Lapau kembali membuktikan dirinya bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang strategis dalam membangun kesadaran sosial.
Di tengah arus modernisasi dan derasnya informasi digital, lapau tetap bertahan dengan caranya sendiri, sederhana, jujur, dan membumi. Dari sana, ikhtiar menyelamatkan anak nagari dari narkotika dimulai. Tidak gegap, tetapi konsisten. Seperti filosofi Minangkabau yang selalu relevan, alam takambang jadi guru. Lapau adalah bagian dari alam mengajarkan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari percakapan kecil.
Dari segelas teh talua Talago Biru harapan untuk Sumatera Barat bersih dari narkotika kembali dirajut. (Boby)



0 Comments