Menjaga Negara dari Ujung Samudra

iklan adsense

Menjaga Negara dari Ujung Samudra

Penggalan Kisah Pengabdian AKP Januar di Pulau Terluar.


Ia kerap menjelma menjadi sosok polisi yang berjalan kaki di jalan berlumpur, menyeberang laut dengan perahu kayu, dan bermalam di rumah warga demi satu tujuan, memastikan masyarakat tetap merasa di lindungi.

Sosok itu bernama AKP Januar.

Jauh sebelum menyandang pangkat AKP, Januar telah menjalani hari-hari panjang pengabdian sebagai Waka Polsek Sikakap, Polres Kepulauan Mentawai, dengan pangkat Ipda. 

Bertugas di wilayah pulau terluar Indonesia, ia menghadapi kenyataan yang berbeda dari daerah daratan: keterbatasan infrastruktur, minimnya sarana transportasi, hingga komunikasi yang kerap terputus.

Di Sikakap dan sekitarnya, jalan rusak bukan cerita luar biasa. Penerangan terbatas dan jaringan komunikasi sering tak bersahabat. Namun justru di wilayah dengan segala keterbatasan itulah, tugas polisi menemukan maknanya yang paling hakiki.

Salah satu perjalanan yang membekas terjadi pada 7 Desember 2020. Pagi itu, Ipda Januar bersama AKP Yon Surna selaku Pamatwil Selatan, Bripka Silvester, dan Bripka Taufik Hidayat, memulai perjalanan dari Sikakap menuju Desa Bulasat, Kecamatan Pagai Selatan.

Perjalanan dimulai dengan perahu penyeberangan menuju Polaga. Dari sana, rombongan melanjutkan dengan sepeda motor. Jalan rusak parah memaksa mereka menempuh perjalanan hampir tiga jam, melewati lintasan berlumpur dan berbatu.

Setibanya di Bulasat, mereka langsung mengikuti rapat bersama Camat Pagai Selatan, Andar Sabelau. Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB saat rapat selesai. Kembali ke Sikakap bukan pilihan aman. Malam itu, Ipda Januar dan rombongan bermalam dengan menumpang di rumah warga di Km 37.

Keesokan harinya, perjalanan dilanjutkan menuju Dusun Limu. Jalur sempit, licin, dan dikelilingi hutan belantara kembali harus dilalui. Dari Mapinang, Ipda Januar bahkan harus menggunakan jasa ojek menuju Dusun Maonai, menyusuri jalan ekstrem dengan ongkos yang bagi warga setempat tidak kecil.

“Banyak kisah berat yang kami lalui untuk mencapai TPS-TPS di pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Tapi semua itu adalah bagian dari tanggung jawab dan pengabdian,” ujar Ipda Januar

Pengabdian itu tak berhenti di darat.

Pada 19 April 2022, laut di sekitar Pulau Ragi tampak tenang. Namun di balik ketenangan itu, seorang nelayan bernama Polipus Sarooinan (47) dilaporkan tenggelam saat mencari gurita. Laporan warga masuk ke Polsek Sikakap. Ipda Januar segera bergerak.

Tanpa upacara dan tanpa peralatan canggih, pencarian dilakukan bersama personel dan warga. Armada seadanya, perahu kayu, mesin tua, dan pengetahuan lokal tentang arus laut menjadi andalan. 

Di wilayah kepulauan, waktu adalah segalanya, dan kehadiran aparat di lapangan sering kali menjadi harapan terakhir. Ipda Januar berdiri di buritan perahu, menyisir perairan, mengatur pencarian agar tetap aman. Di darat, keluarga korban menunggu dalam diam. Tak ada sorotan kamera. Tak ada panggung. Yang ada hanyalah upaya dan ketekunan.

Peristiwa di Pulau Ragi mungkin tak tercatat sebagai operasi besar. Namun bagi masyarakat Sikakap dan Pagai Utara, kehadiran Ipda Januar adalah bukti bahwa negara tetap hadir, bahkan di batas terluar yang bersentuhan langsung dengan Samudra Hindia.

Di pulau-pulau kecil Mentawai, pengabdian tidak selalu terdengar nyaring. Ia hadir dalam langkah yang perlahan namun pasti, dalam kesediaan bermalam di rumah warga, dalam keberanian menantang laut dan hutan demi satu tugas. Di sanalah, di ujung samudra, AKP (Purn) Januar menjaga negara dengan sepenuh hati. (*)

Penulis : Firman Sikumbang


iklan adsense

Post a Comment

0 Comments