Syafril, SE : Mari kita renungan bencana yang terjadi. Siapa yang salah, dan apa yang salah!
Padang, Pionir--Dibalik bencana yang terjadi di tanah minang saat ini, disinyalir penyebnya karna maksiat meraja lela, imbasnya musibah banjir dimana mana. Ulah perbuatan mereka masyarakat banyak yang menanggung derita.
Ungkapan ini disampaikan Syafril, SE Ketua Divisi Soial dan agama Lembaga Anti Narkotika (LAN) Provinsi Sumatera Barat, saat melakukan koordinasi program kerja LAN bersama Ketua Lembaga Anti Narkotika Provinsi Sumatera Barat, Firman Sikumbang, di Sekretariat LAN Provinsi Sumatera Barat, di kawasan Pasar Raya Padang Tahap III Lantai III, Kamis 8 Januari 2026.
Syafril mengatakan, Allah. SWT tidak akan diam selagi persolan ini belum teratasi. Ia pun mengimbau para tokoh agama dan adat untuk melakukan pengawasan terhadap lingkungan di masing-masing nagari.
"Wahai pemilik negeri, wahai ulama kami, dan para santri, kulimahkan lah ranah minang dengan ayat-ayat suci Alquran, agar mara bahaya menjauhi kami. Ingat, ulah mereka, orang-orang yang tidak berdosa ikut menjadi korban," katanya.
Kata, Syafril, para pelaku maksiat kita imbau agar tidak melanjutkan perbuatan mereka, jauahi tanah kami, jauhi negeri kami, jangan engkau rusak tanahminang dengan perlakuan anda, ulah anda masyarakat ikut menanggung derita, tuturnya.
Dikatakan, Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah sebagai landasan hidup orang Minang, tidak lagi melekat erat di sanubari mereka, agama di abaikan, adat di tinggalkan. Imbasnya, Allah murka, dengan cara mendatangkan bencana. Mari merenungkan atas musibah ini, ujarnya.
Lanjut Syafril mengatakan, ranahminang telah menjadi salah satu destinasi penting di Sumatera karena keindahan alam dan kekayaan budayanya. Namun, di balik panorama yang mempesona itu, Sumatera Barat menyimpan sisi lain sebagai salah satu daerah rawan bencana di Indonesia.
Posisinya yang bersisian langsung dengan zona subduksi Lempeng Indo-Australia dan Eurasia, keberadaan Sesar Sumatera (Sesar Semangko), serta deretan gunung api aktif seperti Marapi, Singgalang, dan Talang, menjadikan ranahminang salah satu wilayah dengan sejarah bencana paling panjang di nusantara. Dari gempa besar abad ke-18, letusan gunung api, hingga banjir bandang yang terus berulang, semuanya meninggalkan jejak dalam memori masyarakat ranahminang.
Lebih lanjut Syafril mengatakan, Falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” seharusnya tak berhenti sebagai slogan, tetapi diterjemahkan ke dalam tindakan, etos kerja yang bersih, solidaritas sosial yang kuat, dan tanggung jawab kolektif menghadapi bencana


0 Comments