Firman Sikumbang Geram, Prostitusi Tumbuh, Niniak Mamak Membisu

iklan adsense

Firman Sikumbang Geram, Prostitusi Tumbuh, Niniak Mamak Membisu


Ketua Forum Anak Nagari (FKAN) Sumatera Barat, Firman Sikumbang


PADANG, PIONIR--Mencuatnya kembali dugaan praktik prostitusi di Pondok Minang, kawasan Pondok, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, memantik reaksi keras dari Ketua Forum Anak Nagari (FKAN) Sumatera Barat, Firman Sikumbang. Ia mengaku geram melihat fakta bahwa praktik maksiat diduga masih berlangsung meski aparat telah melakukan operasi besar-besaran.

Menurut Firman, persoalan ini bukan semata urusan penegakan hukum. Ini menyangkut marwah adat dan masa depan generasi muda di Padang.

“Kita tidak bisa pura-pura tidak tahu. Kalau prostitusi masih bergerak diam-diam, itu artinya ada celah yang belum ditutup. Tapi yang lebih menyakitkan, di mana suara niniak mamak?” tegasnya.

Firman menilai, selama ini reaksi terhadap praktik prostitusi lebih banyak bertumpu pada aparat. Padahal dalam tatanan Minangkabau, niniak mamak memiliki tanggung jawab moral terhadap anak kemenakan dan lingkungan sosialnya.

“Jangan hanya tampil ketika ada persoalan pusaka atau gelar adat. Ketika moral generasi runtuh, niniak mamak harus berdiri paling depan. Kalau tidak, siapa lagi yang menjaga marwah nagari?” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah bukan sekadar simbol budaya. Falsafah itu, kata Firman, menuntut keberanian untuk menegur, membina, dan jika perlu mendesak tindakan tegas terhadap tempat-tempat yang diduga menjadi sarang maksiat.

Firman mendesak adanya langkah konkret: pengawasan melekat dari pemerintah daerah, evaluasi izin usaha, serta keterlibatan aktif tokoh adat dalam mengawasi lingkungan masing-masing.

“Kalau kita diam, praktik ini akan terus mencari celah. Hari ini tiarap, besok hidup lagi. Jangan sampai Kota Padang dikenal bukan karena adat dan budayanya, tapi karena pembiaran,” katanya.

Bagi Firman, ini momentum pembuktian. Apakah niniak mamak masih memegang teguh fungsi sosialnya sebagai penjaga moral kaum, atau hanya menjadi simbol tanpa daya. “Marwah nagari tidak boleh ditukar dengan sikap diam,” pungkasnya. (Boby)

iklan adsense

Post a Comment

0 Comments