Jejak Bhayangkara Muda di Pantai Air Manis
Pagi yang hangat menyapa pesisir Pantai Air Manis, saat 129 Bintara Remaja mengikuti upacara penutupan orientasi dan tradisi pembaretan.
Upacara berlangsung khidmat. Barisan tegap para peserta berdiri dalam formasi rapi, memantulkan disiplin yang telah ditempa selama masa orientasi. Prosesi tersebut dipimpin langsung oleh Wakapolda Sumbar, Brigjen Pol Solihin, S.I.K., M.H., CSPHR, yang bertindak sebagai pimpinan apel. Sejumlah pejabat utama turut hadir, di antaranya Dirsamapta Polda Sumbar Kombes Pol Akhmadi, S.I.K., Kabid TIK Kombes Pol Petrus Canisius Elva Setyasto, S.I.K., serta Kabag Binopsnal Ditsamapta Kompol Dedy Indrawan, A.Mk.
Dalam rangkaian upacara, Kasubdit Dalmas Kompol Maman Rosadi, S.H. dipercaya sebagai komandan upacara. Ia memimpin jalannya prosesi dengan penuh ketegasan, diikuti para Pamen, Pama, serta personel Bintara Ditsamapta Polda Sumbar yang memenuhi kawasan pantai.
Bagi para Bintara remaja, pembaretan bukan sekadar seremoni. Ia adalah penanda lahirnya tanggung jawab baru, sebuah janji sunyi untuk setia menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Semangat itu terasa kuat di tengah suasana pantai yang terbuka, seolah alam pun ikut merestui langkah pengabdian mereka.
Dirsamapta Polda Sumbar, Kombes Pol Akhmadi, S.I.K., mengatakan bahwa tradisi pembaretan merupakan bagian penting dalam membentuk karakter personel muda kepolisian.
“Pembaretan ini bukan hanya simbol, tetapi momentum pembentukan mental, disiplin, dan loyalitas. Kami berharap seluruh Bintara remaja dan Polwan yang telah melalui proses ini mampu menjalankan tugas dengan profesional, humanis, serta menjunjung tinggi kehormatan institusi Polri,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa tantangan tugas ke depan semakin kompleks, sehingga dibutuhkan kesiapan fisik, kecerdasan emosional, serta integritas yang kuat dalam setiap pelaksanaan tugas di lapangan.
Senada dengan itu, Komandan Upacara Kompol Maman Rosadi, S.H., menyampaikan bahwa proses orientasi hingga pembaretan dirancang untuk menanamkan nilai kedisiplinan dan kebersamaan sejak dini.
“Kami ingin memastikan para Bintara remaja memiliki ketangguhan mental, kekompakan, serta rasa tanggung jawab sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Tradisi ini adalah awal perjalanan panjang pengabdian mereka,” tuturnya.
Di balik ketegasan barisan dan komando yang menggema, tersimpan harapan besar masyarakat Sumatera Barat terhadap generasi Bhayangkara yang baru. Mereka bukan hanya aparat penegak hukum, tetapi juga wajah pelayanan publik yang diharapkan hadir dengan empati dan keadilan.
Ketika upacara berakhir dan baret kebanggaan telah tersemat, langkah para Bhayangkara muda itu seakan menyatu dengan garis pantai yang memanjang, melambangkan perjalanan panjang yang baru saja dimulai. Dari Pantai Air Manis, semangat pengabdian itu dibawa menuju berbagai penjuru Sumatera Barat, menjaga keamanan, merawat ketertiban, dan mengabdi tanpa henti kepada negeri. (Firman Sikumbang)


0 Comments