Ketika Ruang Kelas Jadi Garis Depan, LAN Berpacu dengan Ancaman Narkotika
Kepala MAN 2 Kab Pessel Akhiyen Nuardi M.Pd, bersama Ketua LAN Prov. Sumatera Barat Firman Sikumbang.
Kecemasan itu berangkat dari rangkaian data, bukan sekadar prasangka. Sepanjang 2025, pengungkapan kasus oleh Polda Sumbar mencatat ratusan perkara dengan jumlah tersangka yang juga mencapai ratusan orang, sebagian di antaranya berusia muda. Barang bukti yang dimusnahkan, ganja, sabu, hingga ribuan pil ekstasi, menunjukkan satu pola yang berulang, jaringan peredaran tidak surut, hanya berpindah celah. Lingkungan yang semestinya menjadi ruang aman bagi generasi muda justru ikut terpapar bayang-bayang itu.
Di titik inilah sekolah mulai merasakan tekanan yang tak selalu tampak di permukaan. Sejumlah kepala sekolah memilih langkah pencegahan, meminta sosialisasi bahaya narkotika dilakukan lebih intensif. Permintaan datang beruntun dari berbagai daerah, Kabupaten Pesisir Selatan, Agam, hingga Kabupaten Solok, menciptakan antrean kegiatan yang tak mudah dipenuhi dalam waktu singkat.
Salah satu kegelisahan itu disampaikan Kepala MAN 2 Kabupaten Pesisir Selatan, Akhiyen Nuardi. Ia melihat perubahan pola pergaulan remaja berlangsung cepat, sementara ruang pengawasan keluarga dan sekolah kerap tertinggal. Karena itu, menurutnya, kehadiran sosialisasi bahaya narkotika bukan lagi kegiatan tambahan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga lingkungan belajar tetap aman bagi siswa.
Bagi Lembaga Anti Narkotika Provinsi Sumatera Barat, lonjakan permintaan tersebut menghadirkan dua pembacaan sekaligus. Pertama, ancaman memang kian nyata. Kedua, kesadaran kolektif mulai tumbuh. Ketua lembaga Anti Narkotila Sumatera Barat, Firman Sikumbang, menilai remaja berada pada simpul kerentanan, akses terhadap narkotika semakin mudah, pengawasan sosial melemah, sementara pengaruh pergaulan bergerak lebih cepat daripada kemampuan keluarga dan sekolah untuk mengimbanginya.
Penegasan serupa datang dari Ketua Tim P4GN LAN Provinsi Sumatera Barat, Dr. dr. Erdanela Setiawati, MM, FISPH, FISCM. Menurutnya, pencegahan harus dimulai dari ruang pendidikan dan komunitas terdekat dengan remaja. “Sekolah bukan hanya tempat belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang perlindungan. Jika edukasi, pengawasan, dan kepedulian berjalan bersama, maka peluang generasi muda terjerumus narkotika dapat ditekan sejak dini,” ujarnya.
Karena itu, pola sosialisasi perlahan berubah. Ceramah satu arah dinilai tak lagi cukup. Pendekatan dialogis, diskusi terbuka, hingga simulasi penolakan ajakan mulai digunakan untuk membangun ketahanan dari dalam diri siswa, sebuah strategi yang bertumpu pada kesadaran, bukan sekadar larangan.
“Permintaan para kepala sekolah itu, insya Allah akan kita penuhi,” kata Firman, tenang, seolah menahan beban kerja yang terus bertambah.
Namun di balik kalimat optimistis tersebut tersimpan pertanyaan yang lebih besar, seberapa jauh upaya pencegahan mampu berkejaran dengan laju peredaran? Statistik penindakan kerap datang lebih cepat daripada statistik penyelamatan.
Sekolah, pada akhirnya, menjadi garis depan tempat pertarungan berlangsung tanpa sorot lampu. Di ruang-ruang kelas itulah masa depan dipertaruhkan secara diam-diam. Setiap siswa yang berhasil dijauhkan dari narkotika bukan sekadar angka keberhasilan program, melainkan penundaan atas kemungkinan kehilangan satu generasi. (Boby)


0 Comments