Maksiat Mengundang Bencana
Dari Penyalahgunaan Narkotika hingga Rapuhnya Sendi Kehidupan
Oleh : Uwo Piai
Bencana ternyata tidak selalu hadir dalam bentuk gempa bumi atau banjir bandang. Ada bencana yang datang tanpa suara, merayap pelan melalui kebiasaan buruk, lalu menjelma menjadi kerusakan yang lebih luas. Penyalahgunaan narkotika adalah salah satu penyebab awalnya. Zat yang merusak kesadaran itu bukan hanya menghancurkan tubuh, tetapi juga memadamkan akal sehat, menumpulkan nurani, dan meretakkan hubungan keluarga.
Ketika seseorang terjerat narkotika, dampaknya tidak berhenti pada diri sendiri. Lingkaran kerusakan melebar, kriminalitas meningkat, kekerasan muncul, tanggung jawab ditinggalkan, dan nilai agama serta adat mulai diabaikan. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat perlahan kehilangan raso jo pareso, yang selama ini menjadi penuntun hidup orang Minang.
Kegelisahan inilah yang juga disuarakan oleh Firman Sikumbang, Ketua Lembaga Anti Narkotika Provinsi Sumatera Barat. Ia melihat penyalahgunaan narkotika bukan sekadar persoalan hukum, melainkan tanda melemahnya benteng moral masyarakat.
Menurutnya, pemberantasan narkotika tidak cukup hanya mengandalkan aparat penegak hukum. Perlu kebangkitan bersama, keluarga yang kembali mengawasi, ninik mamak yang menguatkan peran adat, alim ulama yang meneguhkan nilai keimanan, serta masyarakat yang saling menjaga. Tanpa gerakan kolektif, kerusakan akan terus menemukan ruang.
Dalam pandangan keagamaan, maraknya maksiat sering dipahami sebagai sebab datangnya berbagai kesulitan hidup. Bukan semata hukuman, melainkan peringatan agar manusia kembali ke jalan yang benar. Karena itu, upaya menyelamatkan generasi dari narkotika sesungguhnya adalah ikhtiar menjaga masa depan nagari.
Nilai “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” yang diwariskan leluhur Minangkabau sejatinya telah menyediakan arah yang jelas, kehidupan yang bertumpu pada keseimbangan adat dan agama. Ketika nilai ini dihidupkan kembali, pintu maksiat dapat dipersempit, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik kembali terbuka.
Perjuangan melawan narkotika pada akhirnya bukan hanya soal menolak zat terlarang, tetapi tentang merawat kemanusiaan, menjaga keluarga tetap utuh, melindungi generasi muda, dan memastikan nagari tetap berdiri di atas nilai kebaikan. Sebab ketika maksiat dihentikan dan kesadaran tumbuh bersama, rahmat dan keberkahan diyakini akan kembali menyapa kehidupan. Dan dari sanalah, harapan selalu menemukan jalannya.


0 Comments