Perempuan Tanpa Nama di Batang Tarusan

iklan adsense

Perempuan Tanpa Nama di Batang Tarusan


PESISIR SELATAN, PIONIR---Sore itu di Kanagarian Barung-Barung Balantai Kecamatan XI Koto Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan  tampak tenang. Angin turun perlahan dari perbukitan, menyusuri aliran sungai Batang Tarusan yang mengalir tanpa arus yang menantang.

Saat itu, air membawa cerita tentang hari-hari warga, tentang kerja yang sederhana, harapan yang bersahaja, dan kehidupan yang berjalan apa adanya.

Rabu, 4 Februari 2025, sore menjelang senja itu, tampak serupa dengan hari-hari sebelumnya. Hengki Mario Pander dan Riki melangkah di tepian sungai, mencari batu air yang biasa mereka kumpulkan untuk dijual. Pekerjaan kecil untuk penyambung hidup itu, dilakukan dengan sabar, di antara gemericik air dan lengangnnya sore yang bersahabat. Namun alam kadang menyimpan rahasia yang tak disangka.

Di antara batu-batu sungai yang dingin, keduanya melihat sosok yang terbaring diam. Dari kejauhan tampak seperti seseorang yang melepas lelah setelah menempuh perjalanan panjang. Setelah di dekati waktu seperti menahan napas. Sunyi yang semula tenang berubah menjadi duka yang tak bersuara.

Seorang perempuan terbaring tanpa nama. Identitasnya belum diketahui, kisahnya belum sempat diceritakan. Hanya senja yang menjadi saksi pertama, bersama aliran Batang Tarusan yang terus berjalan seperti biasa, seolah menjaga rahasia yang belum terungkap.

Kabar itu segera sampai ke pelosok nagari dan kepolisian. Warga berdatangan dengan langkah pelan, membawa rasa iba yang sama. Tak banyak kata terucap, hanya tatapan yang saling mengerti bahwa di hadapan mereka terbentang satu kenyataan tentang rapuhnya hidup manusia.

Menjelang senja datang, personel Polsek Koto XI Tarusan, Polres Pesisir Selatan, Polda Sumatera Barat (Sumbar) tiba dipimpin Kapolsek Iptu Irfan Chandra, SH. Bersama petugas Puskesmas Barung-Barung Balantai dan masyarakat sekitar, mereka bekerja dalam diam yang penuh hormat. Setiap gerak terasa seperti doa, perlahan, namun hati-hati, menjaga martabat seorang manusia yang telah pergi.

Perjalanan sunyi itu berlanjut menuju Rumah Sakit M. Zein Painan. Di sana, harapan digantungkan, semoga nama dapat ditemukan, keluarga dapat dipeluk kembali oleh kepastian, dan sebab kepergian dapat dijelaskan oleh terang kebenaran.

Bagi warga Barung-Barung Balantai, senja hari itu meninggalkan jejak yang tak mudah hilang. Sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan mendadak menghadirkan perenungan tentang batas antara hadir dan tiada. Tentang betapa singkatnya waktu, dan betapa berharganya setiap napas yang masih diberikan.

Penyelidikan masih berjalan. Pihak kepolisian terus berupaya membuka tabir peristiwa ini, mencari identitas, merangkai keterangan, dan menghadirkan kejelasan. Sebab setiap kehidupan, betapapun sunyinya ia pergi, tetap berhak dikenang dengan nama dan kebenaran.

Matahari akhirnya tenggelam di balik perbukitan Tarusan, meninggalkan cahaya keemasan yang redup di permukaan air. Batang Tarusan kembali mengalir seperti biasa, tetapi senja hari itu telah menyimpan satu cerita: tentang sunyi, tentang manusia, dan tentang doa kematian. Inna Lillahi Wa Inna Illaihi Rojiun. (Firman Sikumbang)


iklan adsense

Post a Comment

0 Comments