Puti Singgalang Melangkah, Jejak Pengabdian Polwan dari Ranah Minang
Di tubuh Kepolisian Republik Indonesia, peran Polwan kini semakin luas dan strategis. Mereka tidak lagi dipandang sebagai pelengkap di unit tertentu, melainkan hadir di garis depan transformasi Polri.
Dari tugas operasional, penegakan hukum, pelayanan masyarakat, hingga jabatan struktural seperti Kapolres—Polwan terus menegaskan kapasitasnya sebagai penjaga keamanan yang humanis sekaligus profesional.
Semangat itu terpancar dari para Polwan yang tergabung dalam Tim Puti Singgalang Ditsamapta Polda Sumatera Barat. Dalam waktu dekat, puluhan Polwan ini akan ditempatkan di berbagai Polres jajaran Polda Sumbar.
Penugasan tersebut bukan sekadar rotasi organisasi, melainkan langkah pengabdian yang membawa wajah Polri semakin dekat dengan masyarakat.
Sebelum berangkat menuju daerah tugas masing-masing, mereka berkumpul dalam suasana sederhana namun penuh makna. Hadir di tengah kebersamaan itu Ketua Lembaga Anti Narkotika (LAN) Sumbar, Firman Sikumbang, sosok yang selama ini dikenal aktif menyuarakan gerakan pencegahan narkotika sekaligus konsisten mempublikasikan aktivitas positif Polwan kepada masyarakat.
Pertemuan tersebut juga dihadiri Kasubdit Dalmas Ditsamapta Polda Sumbar, Kompol Maman Rosadi, S.H., Kasi Pasdal Ditsamapta AKP Sainol Saprianto, S.H., M.H., serta Ketua Tim P4GN LAN Kota Padang, Dr. Desri Nora, M.Pd. Kehadiran mereka menegaskan bahwa pengabdian Polwan tidak berdiri sendiri, melainkan bertumpu pada sinergi banyak pihak, kepolisian, pegiat sosial, hingga insan pers.
Bagi Kompol Maman Rosadi, undangan kepada Firman Sikumbang bukan tanpa alasan. Selama ini, Firman dinilai memiliki perhatian besar terhadap perjalanan Puti Singgalang. Melalui tulisan dan publikasinya, berbagai aktivitas Polwan tersampaikan kepada publik sebagai inspirasi tentang dedikasi perempuan dalam seragam cokelat.
Jamuan makan siang itu pun menjadi ungkapan terima kasih yang tulus. Bukan dalam kemewahan, melainkan dalam kehangatan yang terasa setara, seperti keluarga yang saling menguatkan sebelum menempuh perjalanan panjang.
Lebih dari hubungan profesional, kedekatan Firman dengan para Polwan telah menjelma seperti badunsanak, ikatan persaudaraan khas Minangkabau yang menempatkan rasa saling menjaga di atas segalanya. Di situlah nilai kemanusiaan menemukan tempatnya: bahwa tugas menjaga keamanan sejatinya juga tentang merawat hubungan antarmanusia.
Di tengah tantangan zaman, termasuk ancaman penyalahgunaan narkotika yang terus membayangi generasi muda, kehadiran Polwan menjadi simbol harapan. Sentuhan empati perempuan diyakini mampu membuka ruang pendekatan yang lebih lembut, tanpa mengurangi ketegasan dalam penegakan hukum.
Siang perlahan bergerak menuju sore. Percakapan, tawa ringan, dan doa yang terucap diam-diam menyatu dalam ruang sederhana itu. Sebentar lagi, para Puti Singgalang akan melangkah menuju wilayah tugas masing-masing, membawa amanah negara sekaligus harapan masyarakat.
Dari Ranah Minang, langkah mereka mungkin tersebar ke berbagai penjuru. Namun satu hal tetap sama: semangat pengabdian yang tumbuh dari hati. Sebab menjadi Polwan bukan sekadar profesi, melainkan panggilan untuk menjaga, melindungi, dan mengayomi dengan ketulusan.
Dan dari meja makan siang yang hangat itu, perjalanan panjang pengabdian baru saja dimulai. (Firman Sikumbang)


0 Comments