Potret Pilu Ibu Nova: Bertahan di Bawah Langit Rumah Bocor, Dihimpit Kemiskinan, dan Diabaikan Kepedulian
Di sinilah Ibu Nova, seorang ibu tunggal (single parent), merajut napas setiap harinya. Bukan sekadar bertahan hidup untuk dirinya sendiri, ia harus memanggul beban hidup sembilan nyawa lainnya: enam orang anak, seorang adik laki-laki beserta keponakan, hingga seorang tante yang sudah sepuh.
Tanpa penghasilan tetap dan status ekonomi yang jauh di bawah garis kemiskinan, Ibu Nova adalah potret nyata perjuangan tak kenal lelah di tengah ketidakpastian.
Rumah yang Tak Lagi Menjadi Pelindung
Kondisi hunian Ibu Nova sangat memprihatinkan. Atap seng yang menaungi mereka kini tak lebih dari lembaran karat yang lapuk dimakan usia.
Setiap kali mendung menggelayut, kecemasan hebat melanda. "Kalau hujan deras, kami tidak bisa tidur. Di dalam rumah, kami harus sibuk menampung air yang curahannya hampir sama derasnya dengan di luar rumah, karena atap yang berlubang di mana-mana," ungkap Ibu Nova dengan mata berkaca-kaca.
Keamanan Rumah yang Sirna, 5 Kali Disatroni Pencuri
Luka batin Ibu Nova tak berhenti pada atap rumah yang bocor. Pintu rumah yang lapuk dan tidak bisa dikunci rapat menjadikan rumah huni keluarganya sasaran empuk tindak kriminal. Tercatat, rumah sempit itu sudah lima kali disatroni pencuri.
Kehilangan terakhir adalah yang paling memukul batinnya. Satu unit sepeda motor, ponsel, laptop, hingga uang tunai sebesar Rp.3,7 juta raib digondol maling. Padahal, uang tersebut dikumpulkan dengan susah payah untuk melunasi tunggakan PDAM yang sudah menunggak selama 7 bulan agar aliran air di rumahnya tidak diputus.
Di Mana Peran Kepala Lingkungan?
Mirisnya, perjuangan berat Ibu Nova seolah luput dari pandangan mata mereka yang seharusnya peduli. Hingga saat ini, pihak Ketua RT maupun RW setempat terkesan menutup mata dan tidak memberikan perhatian atau bantuan yang berarti atas kondisi kemanusiaan yang terjadi di wilayahnya.
Ibu Nova kini hanya bisa berserah diri kepada Allah, menatap langit-langit rumahnya yang bolong, sambil bertanya-tanya dalam hati: "Kepada siapa lagi kami harus mengadu?." (Tb Mhd Arief Hendrawan)


0 Comments