Ranah Minang di Persimpangan Nilai
Oleh: Uda Firman
Ranah Minang di Persimpangan Nilai
Firman Sikumbang
Di balik ramahnya alam Ranah Minang, terselip persoalan sosial yang kian hari terasa semakin besar dan mengkhawatirkan. Tanah yang dahulu dikenal sebagai benteng nilai, tempat bertautnya adat dan syarak dalam satu tarikan napas kehidupan, kini menghadapi ujian yang tidak ringan. Perubahan zaman yang datang begitu cepat tidak selalu diiringi dengan kesiapan moral dan keteguhan prinsip masyarakat nya.
Syarak yang semestinya menjadi pegangan utama dalam menuntun arah hidup perlahan mulai di tinggalkan. Nilai-nilai agama yang dahulu hidup dalam keseharian, dari cara bertutur, bergaul, hingga mengambil keputusan, kini kerap tergeser oleh gaya hidup instan dan pengaruh luar yang tidak selalu sejalan dengan jati diri Minangkabau. Ketika syarak melemah, maka arah kehidupan pun menjadi kabur, dan masyarakat kehilangan kompas moralnya.
Di sisi lain, adat yang selama ini menjadi pagar sosial juga tampak kehilangan daya. Bukan karena adat itu lemah, tetapi karena peran penjaganya tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya. Tungku tigo sajarangan, ninik mamak, alim ulama, dan cadiak pandai, yang dahulu berdiri seiring, saling menguatkan dalam membina masyarakat, kini seakan berjalan sendiri-sendiri. Ketika salah satu melemah, keseimbangan pun terganggu, ketika semuanya tidak lagi sejalan, maka ruang kosong nilai akan diisi oleh persoalan sosial yang kian kompleks.
Lebih memprihatinkan lagi, upaya untuk mengembalikan semangat adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah justru belum terlihat sungguh-sungguh. Pemerintah dinilai masih abai dalam menghadirkan kebijakan yang benar-benar berpihak pada penguatan nilai ABS-SBK sebagai ruh kehidupan masyarakat Minangkabau. Program pembangunan sering kali lebih menitikberatkan pada aspek fisik dan seremonial, sementara pembangunan karakter, moral, dan penguatan peran lembaga adat belum menjadi arus utama. Akibatnya, nilai yang seharusnya menjadi fondasi bersama kian terpinggirkan oleh hiruk-pikuk kepentingan jangka pendek.
Gejala ini tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang biasa. Meningkatnya berbagai persoalan moral, renggangnya kepedulian sosial, hingga pudarnya rasa malu dalam melanggar norma adalah tanda bahwa fondasi kehidupan bersama sedang retak. Jika dibiarkan, bukan hanya generasi hari ini yang terdampak, tetapi juga masa depan Ranah Minang secara keseluruhan.
Karena itu, yang dibutuhkan hari ini bukan sekadar keluhan, melainkan kesadaran bersama untuk kembali meneguhkan nilai. Menghidupkan kembali semangat ABS-SBK bukan berarti menolak perubahan zaman, tetapi memastikan bahwa setiap perubahan tetap berpijak pada jati diri. Ninik mamak harus kembali menjadi pelindung kaum, alim ulama menyalakan cahaya tuntunan, dan cadiak pandai menghadirkan solusi yang bijak bagi tantangan zaman, dengan dukungan nyata dari pemerintah yang berpihak pada penguatan nilai, bukan sekadar retorika.
Ranah Minang tidak kekurangan sejarah kebesaran. Dari rahimnya lahir tokoh-tokoh besar, pemikir, ulama, dan pemimpin bangsa. Semua itu menjadi bukti bahwa kekuatan nilai pernah menjadi fondasi yang kokoh. Maka harapan untuk bangkit kembali bukanlah sesuatu yang mustahil, selama ada kemauan untuk bersatu, memperbaiki diri, dan menempatkan nilai sebagai arah utama kehidupan.
Kini pilihan ada di tangan kita, membiarkan retak itu melebar, atau bersama-sama meneguhkan kembali tungku yang mulai meredup. Jika kesadaran itu tumbuh, maka Ranah Minang tidak hanya akan dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kemuliaan nilai yang kembali hidup di tengah masyarakatnya.


0 Comments