Hanya Karena Sayur, Seorang Nenek Dihukum Tanpa Belas Kasih

iklan adsense

Hanya Karena Sayur, Seorang Nenek Dihukum Tanpa Belas Kasih


Di sebuah sudut yang entah di mana, seorang nenek renta dipukuli hingga babak belur. Dosanya? Hanya satu, mengambil seikat sayur untuk bertahan hidup dan berbuka puasa.

Nilainya tak lebih dari Rp20 ribu. Tapi amarah pedaggang jauh lebih mahal, dibayar dengan hilangnya akal sehat dan runtuhnya rasa kemanusiaan.

Video berdurasi tiga menit itu kini viral. Disaksikan ramai-ramai. Dikomentari beramai-ramai. Dikutuk, lalu perlahan dilupakan, seperti biasa.

Kita hidup di tengah masyarakat yang lantang bicara adat, tapi sering gagap saat diuji rasa iba.

Respon cepat datang dari Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa tindakan main hakim sendiri tidak bisa dibenarkan dalam kondisi apa pun.

“Alhamdulillah pelakunya sudah tertangkap. Ini pelajaran bagi kita semua, jangan main hakim sendiri. Lihat dulu apa yang dicuri dan siapa yang mencuri. Anggap saja sedekah, hanya sayuran, nilainya kecil, untuk makan seorang ibu tua renta,” tegasnya.

Sebuah kalimat sederhana, tapi terasa lebih bernilai dibanding tindakan brutal yang terjadi.

Apresiasi pun datang dari Ketua Forum Anak Nagari sekaligus Ketua Lembaga Anti Narkotika Provinsi Sumatera Barat, Firman Sikumbang. Ia menilai langkah cepat Wakil Gubernur sebagai bentuk kepemimpinan yang masih berpihak pada nurani.

Menurutnya, Vasko Ruseimy bukan sekadar pejabat, tetapi sosok yang konsisten memperjuangkan nilai kemanusiaan.

“Beliau figur yang suka memperjuangkan kemanusiaan. Respons cepat ini penting agar masyarakat tidak kehilangan arah,” ujarnya.

Namun persoalannya bukan sekadar siapa yang cepat merespon. Persoalan utamanya: mengapa kekejaman seperti ini bisa terjadi tanpa ada yang menghentikan?

Di mana para “pandeka” yang selama ini bangga dengan identitas keberanian?

Mengapa keberanian itu justru muncul saat menghadapi yang lemah?

Jika seikat sayur saja bisa memicu amukan, lalu apa arti adat yang selama ini diagungkan?

Barangkali yang hilang bukan hukum. Bukan pula aturan. Yang hilang adalah rasa. Dan ketika rasa itu mati, maka yang tersisa hanyalah kerumunan,tanpa nurani. (tim)


iklan adsense

Post a Comment

0 Comments