Pandeka Minang Hanya Sebagai Simbol Kebudayaan
Oleh : Firman Sikumbang
Tak kuasa menghadapi perang candu, madat/narkotika. Pandeka Minang menghilang bagaikan ditelan bumi. Fenomena Ini bukan lagi sekadar ungkapan puitis, tetapi potret nyata dari kegelisahan yang kini menyelimuti Sumatera Barat. Di saat narkotika merangsek masuk hingga ke jantung nagari, keberanian yang dahulu menjadi kebanggaan justru hilang bagaikan di telan bumi.
Menyikapi hal itu, Ketua Lembaga Anti Narkotika Provinsi Sumatera Barat, Firman Sikumbang, menyuarakan kegelisahan itu dengan lantang, sebuah pertanyaan yang terasa seperti tamparan keras bagi semua.
“Kemana perginya Pandeka Minang?”
Pertanyaan itu tidak menuntut jawaban, melainkan menggugah kesadaran. Sebab yang hilang hari ini bukan orangnya, tetapi nyalinya. Bukan karena Minangkabau kehabisan sosok berani, tetapi karena keberanian itu perlahan digantikan oleh kompromi, ketakutan, dan pembiaran.
Lebih tajam lagi, Firman Sikumbang mengingatkan bahwa keberanian tidak boleh berhenti di simbol dan seremoni.
“Pandeka Minang jangan hanya gagah di acara adat atau di panggung. Yang bernyali, mari bertarung bersama kami di Lembaga Anti Narkotika Provinsi Sumatera Barat.”
Seruan ini menegaskan satu hal, gelanggang hari ini bukan lagi panggung adat, melainkan realitas pahit di tengah masyarakat. Perang candu tidak terjadi di ruang kosong. Ia tumbuh di sekitar kita, di nagari, di lingkungan, bahkan di balik kokoh nya rumah gadang.
Ironisnya, musuh tidak selalu tampak. Ia bisa bersembunyi di balik kekuasaan, berlindung dalam relasi, bahkan diduga mendapat ruang dari pembiaran. Ketika narkoba beredar begitu leluasa, publik wajar bertanya, apakah ini semata kelemahan, atau ada yang sengaja membiarkan?
Di sinilah luka itu semakin terasa. Budaya diam perlahan menjadi kebiasaan. Banyak yang tahu, tetapi memilih bungkam. Banyak yang melihat, tetapi enggan bertindak. Dalam kondisi seperti ini, kekalahan tidak lagi ditentukan oleh kuatnya musuh, tetapi oleh lemahnya sikap.
Minangkabau yang dikenal dengan falsafah adat dan agama kini dihadapkan pada ujian paling nyata, apakah nilai itu masih hidup, atau hanya tinggal slogan? Ketika generasi muda digerogoti candu, dan perlawanan tak kunjung menguat, maka yang terancam bukan hanya masa depan, tetapi juga marwah.
Jika Pandeka Minang masih ada, maka saatnya membuktikan. Bukan dengan pakaian kebesaran, bukan dengan retorika di atas panggung, tetapi dengan keberanian nyata di tengah persoalan.
Sebab sejarah akan mencatat dengan jujur, "Minangkabau tidak akan runtuh karena narkoba semata, tetapi bisa hancur karena diam dan pembiaran."


0 Comments