Ranah Minang di Bawah Bayang-Bayang Pengkhianat

iklan adsense

Ranah Minang di Bawah Bayang-Bayang Pengkhianat

Oleh: Firman Sikumbang


Ada satu ungkapan yang terasa pahit namun relevan untuk menggambarkan kondisi sosial hari ini, banyak pengkhianat, tetapi minim pemberontak. Ungkapan ini mungkin terdengar keras, tetapi realitas di lapangan sering kali menunjukkan gambaran yang tidak jauh berbeda, terutama ketika berbicara tentang peredaran gelap narkotika di Sumatera Barat.

Pemerintah telah lama menyatakan perang terhadap narkotika. Operasi penindakan dilakukan, sosialisasi digelar, dan berbagai program pencegahan terus dijalankan. Namun di balik itu semua, peredaran narkotika tetap saja berlangsung. Bahkan, dari tahun ke tahun, kasus penyalahgunaan narkotika justru menunjukkan kecenderungan meningkat dan menyasar generasi muda sebagai target utama. 

Ironi inilah yang menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat. Jika perang terhadap narkotika benar-benar dijalankan secara serius, mengapa barang haram itu masih dengan mudah ditemukan? Mengapa jaringan peredarannya tetap hidup dan bergerak, bahkan sampai ke lingkungan masyarakat paling bawah?

Ketua Lembaga Anti Narkotika (LAN) Provinsi Sumatera Barat, Firman Sikumbang, pernah mengingatkan bahwa ancaman narkotika terhadap generasi muda bukan sekadar persoalan kriminal biasa, tetapi sudah menjadi ancaman serius bagi masa depan masyarakat. Menurutnya, jika narkotika terus dibiarkan berkembang, maka yang hancur bukan hanya generasi muda, tetapi juga tatanan sosial dan nilai-nilai budaya masyarakat Minangkabau. 

Firman Sikumbang bahkan menegaskan bahwa perang terhadap narkotika tidak boleh hanya menjadi slogan semata. Ia menyebut, “Perang candu ini nyata dan sedang berlangsung. Jika kita lengah, yang hilang bukan hanya anak-anak kita, tetapi juga nilai, adat, dan jati diri masyarakat Sumatera Barat.” 

Pernyataan itu menjadi pengingat keras bagi semua pihak bahwa narkotika bukan sekadar persoalan hukum, tetapi persoalan moral dan peradaban.

Yang membuat keadaan semakin memprihatinkan adalah munculnya berbagai dugaan tentang adanya oknum-oknum tertentu yang ikut bermain dalam pusaran bisnis gelap tersebut. Jika benar demikian, maka persoalan narkotika menjadi jauh lebih berbahaya. Bukan hanya merusak generasi muda, tetapi juga merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam penegakan hukum.

Namun masalah ini tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi. Ada persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni budaya diam di tengah masyarakat. Banyak orang mengetahui adanya aktivitas mencurigakan di lingkungannya, tetapi memilih untuk tidak bersuara. Ada yang takut, ada yang tidak peduli, dan ada pula yang merasa itu bukan urusannya.

Sikap diam inilah yang membuat jaringan narkotika tetap menemukan ruang untuk berkembang. Ketika pengkhianatan terhadap nilai-nilai moral terjadi di depan mata, tetapi tidak ada keberanian untuk melawannya, maka perlahan-lahan masyarakat justru menjadi bagian dari masalah itu sendiri.

Padahal Sumatera Barat dikenal sebagai daerah yang kuat memegang falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.” Nilai adat dan agama seharusnya menjadi benteng moral bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai bentuk kerusakan sosial, termasuk narkotika.

Firman Sikumbang juga mengingatkan bahwa perang melawan narkotika tidak bisa diserahkan semata kepada aparat penegak hukum. Ia harus menjadi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, alim ulama, cadiak pandai, pemuda, hingga keluarga sebagai benteng pertama dalam menjaga generasi dari bahaya narkoba.

Karena itu, sudah saatnya masyarakat berhenti menjadi penonton. Ketika narkotika mulai merusak masa depan anak-anak bangsa sikap diam bukan lagi pilihan yang bijak.

Sumatera Barat membutuhkan lebih banyak orang yang berani bersuara, lebih banyak orang yang berani melawan penyimpangan, dan lebih banyak orang yang berdiri di pihak kebenaran.

Jika tidak, maka ungkapan pahit itu akan terus menjadi kenyataan, pengkhianat semakin banyak, sementara pemberontak semakin sedikit.


iklan adsense

Post a Comment

0 Comments