Al Quds, Pionirnews.com,- Di tanah yang tak pernah benar-benar sepi dari luka,
lahirlah seorang perempuan dengan hati yang tak pernah lelah mencintai Kalam-Nya.
Banyak orang memerlukan dua puluh hingga tiga puluh jam untuk menamatkan Al-Qur’an.
Para Qari dengan bacaan yang cepat dapat menyelesaikannya dalam sepuluh hingga dua belas jam.
Para penghafal dengan ingatan yang sangat kuat mampu mengulang hafalan dalam tujuh hingga sembilan jam.
Namun ada satu nama yang membuat hati bergetar lembut ketika disebut.
Khadijah Khweis.
Seorang perempuan. Seorang guru. Seorang aktivis dari Palestina.
Di negeri yang langitnya sering dipenuhi kabar duka,
ia justru memilih memenuhi hari-harinya dengan ayat-ayat cinta dari Rabb-nya.
Dalam keadaan yang tidak selalu mudah,
dalam suasana yang mungkin tak pernah benar-benar tenang,
ia menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dalam waktu enam jam.
Enam jam.
Bukan sekadar cepat.
Bukan hanya soal angka.
Itu adalah tanda kedekatan.
Tanda cinta.
Tanda bahwa di tengah keterbatasan,
ada jiwa yang tetap berpegang erat pada cahaya.
Ia membaca dengan cepat, hampir seperti aliran sungai yang deras.
Namun bukan kecepatannya yang membuat hati tersentuh.
Yang menyentuh adalah bagaimana hatinya begitu dekat dengan setiap ayat.
Al-Qur’an bukan hanya ia baca,
tetapi ia hidupkan dalam napas, doa, dan perjuangannya.
Ketika banyak orang menjadikan waktu sebagai alasan,
ia menjadikan waktu sebagai ladang ibadah.
Ketika sebagian hati goyah oleh keadaan,
ia justru semakin teguh bersama firman Tuhan.
Kisah ini bukan tentang seberapa cepat tiga puluh juz diselesaikan.
Kisah ini tentang seberapa dalam Al-Qur’an menjadi rumah bagi jiwanya.
Dan mungkin bagian yang paling menyentuh adalah ini:
Di tanah yang terus diuji,
masih ada hati yang tetap bersyukur.
Membaca kisahnya membuat kita diam sejenak,
lalu bertanya pada diri sendiri
—
Sejauh mana kita mencintai Al-Qur’an,
padahal hidup kita jauh lebih lapang daripada hidupnya?
Tak Goyah Menghadapi Tekanan Otoritas Israel
Khadijah Khweis adalah seorang aktivis, pendidik, dan Murabithah (penjaga perempuan) terkemuka asal Yerusalem, Palestina, yang dikenal teguh menjaga Masjid Al-Aqsa. Ia terkenal karena keteguhannya menghadapi penangkapan dan larangan masuk oleh otoritas Israel, serta kemampuannya mengkhatamkan hafalan 30 juz Al-Qur'an dalam satu kali duduk selama kurang lebih 6 jam.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai Khadijah Khweis:
>1. Penjaga Al-Aqsa (Murabithah): Khadijah mendedikasikan dirinya untuk mengajar dan menjaga di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa.
>2. Penangkapan dan Kriminalisasi: Ia telah ditangkap lebih dari 30 kali dan sering menerima larangan masuk ke Masjid Al-Aqsa selama berbulan-bulan hingga tahunan.
>3. Prestasi Melantukan Al-Qur'an: Khadijah dikenal memiliki hafalan yang kuat, mampu melantunkan seluruh Al-Qur'an dalam waktu sekitar 6,25 jam.
>4. Aktivisme: Selain menjadi guru, ia aktif mengedukasi masyarakat, terutama perempuan, tentang pentingnya mempertahankan kehadiran di Al-Aqsa.
Meskipun menghadapi berbagai tekanan, termasuk pelarangan bepergian dan intimidasi, Khadijah tetap konsisten dengan perannya sebagai penjaga Al-Aqsa.
(Tb Mhd Arief Hendrawan)


0 Comments