Tarawih yang Terhenti, Ketika Api Mengusir Khusyuk Malam Ramadhan

iklan adsense

 
Kebakaran terjadi pada Jumat malam (13/3/2026) sekitar pukul 20.50 WIB, menimpa satu unit rumah kontrakan tiga pintu di Jalan M. Roem, RT 23, Kelurahan Guguk Malintang, Kecamatan Padang Panjang Timur.


Padang Panjang, Pionirnews.com,- Malam Ramadhan di Kota Padang Panjang yang biasanya dipenuhi lantunan ayat suci Al-Qur'an mendadak berubah menjadi kepanikan. Baru beberapa raka'at shalat tarawih berlangsung, tiba-tiba cahaya merah menyala di langit Tanah Bato. Asap membumbung, dan teriakan warga terdengar dari arah permukiman. Jama'ah yang berada di dalam masjid pun mulai gelisah.

Kebakaran terjadi pada Jumat malam (13/3/2026) sekitar pukul 20.50 WIB, menimpa satu unit rumah kontrakan tiga pintu di Jalan M. Roem, RT 23, Kelurahan Guguk Malintang, Kecamatan Padang Panjang Timur. Lokasinya hanya sekitar 20 meter dari masjid tempat warga sedang menunaikan shalat tarawih.

Tak lama setelah api membesar, lampu di sepanjang jalur sekitar lokasi padam. Gelap mendadak menyelimuti kawasan itu. Shalat tarawih pun terpaksa dihentikan.

Sebagian jama'ah berlarian keluar masjid untuk melihat apa yang terjadi. Sebagian lagi langsung menuju lokasi kebakaran untuk membantu warga yang panik menyelamatkan barang-barang dari dalam rumah.

Dalam hitungan menit, kobaran api membesar dan menjilat bagian bangunan kontrakan. Suasana malam yang biasanya dipenuhi do'a berubah menjadi hiruk pikuk, suara sirene mobil damkar, dan teriakan.

Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Satpol PP dan Damkar Kota Padang Panjang, Jon Eriko, mengatakan pihaknya menerima laporan kebakaran dari warga sekitar pukul 20.50 WIB.

“Begitu mendapat laporan, kami langsung menuju lokasi. Saat tiba di TKP api sudah membesar,” ujarnya.

Sebanyak lima unit mobil pemadam kebakaran bersama 24 personel langsung dikerahkan ke lokasi. Di tengah gelapnya kawasan yang listriknya padam, petugas berjibaku melawan kobaran api yang terus merambat.

Setelah hampir satu jam pemadaman, api akhirnya berhasil dijinakkan sekitar pukul 21.50 WIB. “Alhamdulillah api berhasil dipadamkan setelah satu jam pemadaman,” kata Jon Eriko.

Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa ini. Namun kerugian materi ditaksir mencapai sekitar Rp125 juta, sementara penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.

Peristiwa ini menambah daftar kebakaran yang terjadi dalam waktu berdekatan di Kota Padang Panjang. Sehari sebelumnya, Kamis siang (12/3/2026), api menghanguskan satu rumah dan satu warung di Jalan Bagindo Aziz Chan, Kelurahan Tanah Hitam, Kecamatan Padang Panjang Barat, dengan kerugian sekitar Rp200 juta.

Lalu pada Jumat dini hari (13/3/2026), kebakaran juga terjadi di Jalan Bahder Johan No.37, Kampung Jambak, Kelurahan Guguk Malintang, Kecamatan Padang Panjang Barat, dengan kerugian sekitar Rp180 juta.

Jika dihitung sejak awal Ramadhan, peristiwa ini menjadi kebakaran keempat, sementara tiga di antaranya terjadi hanya dalam dua hari terakhir.

Wakil Wali Kota Padang Panjang, Allex Saputra, yang meninjau langsung lokasi kebakaran menyampaikan keprihatinannya atas musibah yang berulang menimpa warga. 

“Dua hari tiga kebakaran menimpa rumah warga Kota Padang Panjang. Kita tentu sangat prihatin,” ujarnya.

Ia menghimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap potensi kebakaran, terutama yang disebabkan hubungan arus pendek listrik maupun kelalaian penggunaan kompor.

“Pastikan instalasi listrik aman dan jangan lupa mematikan kompor saat meninggalkan rumah,” himbaunya.

Tokoh agama Kota Padang Panjang, Buya Hamidi, juga mengingatkan masyarakat agar menjadikan peristiwa ini sebagai bahan renungan di bulan suci Ramadhan.

“Ramadhan adalah bulan muhasabah. Musibah seperti ini mengingatkan kita untuk lebih berhati-hati sekaligus lebih peduli kepada saudara yang sedang diuji,” ujarnya.

Menurutnya, shalat tarawih yang malam itu terhenti karena kebakaran menjadi gambaran betapa rapuhnya kehidupan manusia.

“Malam ini tarawih kita terhenti oleh musibah kobaran api. Mudah-mudahan ini menjadi pengingat, agar kita lebih dekat kepada Allah dan lebih kuat dalam kebersamaan,” katanya.

Di tengah udara dingin Padang Panjang malam itu, warga hanya bisa berdiri memandangi sisa asap yang masih mengepul.

Tarawih boleh terhenti malam itu. Namun doa-doa warga untuk keselamatan kota kecil ini justru terasa semakin panjang.(Tb Mhd Arief Hendrawan)




iklan adsense

Post a Comment

0 Comments