Pionirnews.com//PADANG,– Kata-kata bukanlah sekadar goresan tinta yang mati di atas kertas. Di tangan budaya Minangkabau, kata-kata itu bernapas, berjalan tegak, dan berbicara langsung ke dalam sanubari.
Dalam sebuah perbincangan hangat yang penuh kearifan lokal, Prof.Dr.Fauzi Bahar, M.Si Dt.Sati, Ketua Umum Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat, bersama Firman Sikumbang, mengupas makna mendalam di balik petatah petitih yang menjadi cermin kehidupan, Selasa 7/4/2026.
Prof. Fauzi Bahar: "Teman-teman, mari kita renungi satu pepatah yang sangat tajam: 'Tunjuk Luruih Kalingkiang Bakaik, Papek di Lua Runciang Didalam'."
"Bayangkan, jari telunjuk tampak lurus menunjuk ke depan, begitu sopan dan indah dipandang mata. Namun, siapa yang menyangka bahwa jari-jari lain yang mengepal di belakang itu begitu keras dan kuat. Pepatah ini mengingatkan kita: Hati-hatilah dengan apa yang terlihat sempurna di permukaan."
"Seringkali kita jumpai, luarnya sehalus sutera, senyumnya semanis madu, tapi di balik punggung, niatnya setajam duri. Kepalsuan itu ibarat istana mewah yang dibangun di atas pasir; semakin tinggi didirikan, semakin cepat ia goyah dan runtuh ditelan waktu. Berbeda dengan ketulusan, ia bagai akar pohon yang menyelinap dalam ke bumi, tak terlihat megah, namun mampu menopang kehidupan selamanya."
Firman Sikumbang: "Betul sekali, Prof. Ada lagi perumpamaan yang begitu nyata menggambarkan watak yang licik, yaitu: 'Umpamo Jawi Balang Puntuang...'"
"Ini ibarat ular yang pura-pura jinak. Di depan, ia menyipak matanya, menyapa dengan ramah, seolah tak berbahaya. Tapi siapa sangka, di balik kelembutan itu, taringnya siap menerkam kapan saja. Sikap munafik ini adalah racun yang tak berbau. Ia diam-diam merusak kepercayaan, memutus tali silaturahmi, dan mengubah persaudaraan menjadi medan curiga."
"Padahal, menjatuhkan orang lain tidak akan pernah membuat kita menjadi lebih tinggi. Itu hanya bukti bahwa nilai diri kita sebenarnya begitu rendah, hingga harus menginjak orang lain agar terlihat berdiri."
Hikmah yang Menyatu dalam Jiwa
Keduanya sepakat, petatah petitih ini bukan sekadar cerita lama yang berdebu. Ia adalah guru bisu yang selalu berbicara. Ia mengajak kita untuk bertanya pada hati sendiri:
"Sudahkah kita menjadi cermin yang bening, yang memantulkan apa adanya? Atau kita masih menjadi air yang keruh, hanya menampilkan bayangan palsu?"ujar Firman Sikumbang.
Selanjutnya Fauzi Bahar Dt.Sati mengungkapkan,"Menjadi manusia yang sejati bukan soal seberapa indah topeng yang dipakai di panggung dunia, tapi seberapa selaras antara apa yang terucap di bibir dengan apa yang berdenyut di dada."
"Lebih baik sederhana namun jujur, daripada megah di luar namun rapuh dan kosong di dalam. Karena pada akhirnya, kejujuranlah yang akan menjadi kawan sejati saat kita tiada, sementara kepalsuan hanya akan menjadi musuh yang memakan diri sendiri. Salam Budaya, Salam Ketulusan." (Reporter : Tb Mhd Arief Hendrawan)


0 Comments