Kisah Nyata Bunga, "Aku Tumbuh Bersama Luka," Kisah Anak Korban Narkotika

iklan adsense

Kisah Nyata Bunga, "Aku Tumbuh Bersama Luka," Kisah Anak Korban Narkotika

                                 (Foto Ilustrasi)

Namaku Bunga. Itu bukan nama sebenarnya. Aku memakai nama samaran karena ada begitu banyak luka yang masih sulit untuk diceritakan secara terbuka. Tapi kisah ini nyata. Kisah tentang seorang anak kecil yang tumbuh dalam keluarga yang dihancurkan oleh narkotika.

Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Aku lahir tahun 2003, dan hari ini usiaku sudah 23 tahun. Sekarang aku kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di Kota Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat. Aku sudah berada di semester 4 dan sedang bersiap menuju semester 5.

Kalau orang melihat aku hari ini, mungkin mereka akan mengira hidupku baik-baik saja. Mereka mungkin melihat aku sebagai mahasiswi biasa yang sedang mengejar cita-cita. Tapi tidak banyak yang tahu, di balik senyum yang aku tunjukkan, ada luka panjang yang aku simpan sejak kecil.

Semua bermula ketika umurku baru 9 tahun. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas 3 SD. Umur di mana seharusnya aku bermain, tertawa, meminta uang jajan kepada orang tua, dan tidur dengan tenang tanpa memikirkan apa pun.

Tapi hidupku berubah dalam satu hari.

Papa aku ditangkap karena kasus narkotika.

Aku masih ingat suasana hari itu. Rumah kami ramai, tapi bukan karena kebahagiaan. Orang-orang datang dengan tatapan berbeda. Tetangga mulai berbisik-bisik. Aku yang masih kecil belum benar-benar mengerti apa yang terjadi, tapi aku tahu satu hal… hidup kami tidak akan pernah sama lagi.

Sejak hari itu, aku mulai mengenal rasa malu.

Di sekolah aku jadi bahan pembicaraan. Ada teman yang menjauh. Ada yang mengejek. Ada juga yang memandangku seolah aku membawa aib besar. Aku sering pulang sekolah sambil menangis diam-diam. Bahkan aku pernah memohon kepada mama untuk berhenti sekolah karena aku tidak kuat lagi mendengar omongan orang.

Tapi mama memeluk aku sambil menangis.

Mama bilang,

“Kalau kamu berhenti sekolah, hidup kita akan benar-benar kalah.”

Akhirnya mama memutuskan membawa kami pindah dari kampung. Kami meninggalkan rumah, meninggalkan lingkungan, meninggalkan semua kenangan hanya untuk menghindari hinaan orang-orang.

Tapi ternyata pindah tempat tidak membuat penderitaan kami selesai.

Hidup kami menjadi sangat susah.

Papa dipenjara selama enam tahun dua bulan. Selama itu, mama menjadi tulang punggung keluarga. Aku melihat sendiri bagaimana mama berjuang sendirian membesarkan kami. Kadang mama pulang kerja dengan wajah lelah, tangan kasar, dan mata sembab karena terlalu sering menangis diam-diam.

Dan di umur 9 tahun, aku mulai belajar bekerja.

Aku mencari barang-barang rongsokan di pinggir jalan. Kaleng bekas, botol plastik, kardus, apa saja yang bisa dijual, aku kumpulkan. Uangnya memang sedikit, tapi setidaknya aku bisa membeli jajan sendiri tanpa membebani mama.

Aku juga pernah menjadi tukang angkut daun kelapa.

Beban daun itu lebih besar dari tubuhku sendiri. Bahuku sakit, tanganku lecet, kakiku sering gemetar karena kelelahan. Tapi aku memaksa diriku kuat. Karena aku tahu, mama tidak mungkin sanggup memikul semuanya sendirian.

Kadang malam hari aku menangis pelan sebelum tidur. Bukan karena capek bekerja, tapi karena iri melihat anak-anak lain.

Aku iri melihat mereka bisa bermain dengan ayahnya.

Aku iri melihat mereka tertawa tanpa rasa malu.

Aku iri melihat mereka hidup normal.

Sedangkan aku… bahkan untuk sekadar merasa tenang saja sulit.

Ada masa di mana rumah kami benar-benar sepi saat lebaran. Tidak ada saudara yang datang. Tidak ada yang mau mampir. Kami seperti keluarga yang dijauhkan dari lingkungan.

Kalau ada acara keluarga, mama hanya dianggap orang belakang. Mencuci piring. Membersihkan dapur. Kadang aku melihat mama tersenyum di depan orang lain, tapi malamnya aku mendengar mama menangis sendiri.

Dan yang paling menyakitkan, semua itu terjadi bukan karena kami mencuri, bukan karena kami menyakiti orang lain… tapi karena narkotika sudah menghancurkan nama baik keluarga kami.

Aku tumbuh menjadi anak yang terlalu cepat dewasa.

Di saat anak lain sibuk memikirkan mainan, aku sibuk memikirkan uang makan besok.

Di saat anak lain bermanja kepada ayahnya, aku justru tumbuh dengan luka dan rasa kecewa.

Aku belajar bahwa hidup kadang sangat kejam kepada anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

Banyak orang tidak sadar, ketika seseorang memakai narkotika, yang hancur bukan cuma dirinya sendiri.

Anaknya ikut hancur.

Istrinya ikut terluka.

Orang tuanya ikut menderita.

Bahkan masa depan satu keluarga bisa ikut rusak.

Aku adalah bukti nyata dari semua itu.

Sampai hari ini, luka itu masih ada. Bahkan setelah papa bebas dari penjara, semuanya tidak langsung membaik. Pemikiran seseorang yang sudah dirusak narkotika tidak akan pernah benar-benar sama lagi.

Kadang aku masih merasa lelah. Kadang aku masih menangis kalau mengingat masa kecilku yang hilang. Masa kecil yang seharusnya penuh kebahagiaan, tapi justru dipenuhi rasa takut, malu, dan perjuangan.

Tapi aku tidak mau menyerah.

Aku tidak mau selamanya hidup sebagai korban keadaan.

Dulu banyak orang meremehkanku. Mereka bilang aku tidak akan jadi apa-apa. Mereka menganggap aku hanyalah anak dari keluarga gagal.

Tapi hari ini aku berdiri sebagai seorang mahasiswi.

Aku berhasil sampai di titik yang dulu bahkan tidak pernah aku bayangkan. Karena jujur saja, dulu jangankan untuk kuliah… untuk makan saja kami sering kesulitan.

Aku kuliah bukan karena hidupku mudah. Aku kuliah karena aku tidak ingin selamanya hidup dalam penderitaan yang sama.

Dan itulah alasan terbesar kenapa aku memilih bergabung dengan LAN.

Aku tidak ingin ada anak kecil lain yang kehilangan masa kecilnya karena narkotika. Aku tidak ingin ada lagi anak yang dipaksa dewasa terlalu cepat hanya karena kesalahan orang tuanya.

Tidak semua anak sekuat diriku. Tidak semua anak mampu bertahan menghadapi hinaan, tekanan, dan luka batin yang panjang.

Karena itu aku ingin ikut berjuang.

Aku ingin menyampaikan kepada banyak orang bahwa narkotika bukan hanya menghancurkan satu orang, tetapi bisa membunuh kebahagiaan seluruh keluarga.

Aku ingin menjadi suara bagi anak-anak yang selama ini hanya bisa menangis diam-diam di balik kesalahan orang tuanya.

Dan kalau hari ini aku masih mampu berdiri, masih mampu kuliah, masih mampu tersenyum setelah semua yang terjadi… itu bukan karena hidupku mudah.

Tapi karena aku sudah terlalu sering dipaksa kuat oleh keadaan. (Bersambung)

Penulis : Firman Sikumbang

iklan adsense

Post a Comment

0 Comments