Fauzi Bahar Berdiri di Depan Ketika Padang Diguncang Gempa
Oleh : Firman Sikumbang
Ada pemimpin yang hebat ketika keadaan baik-baik saja. Ada pemimpin yang terlihat kuat ketika berada di belakang meja. Tetapi ada pemimpin yang baru benar-benar terlihat kualitasnya ketika rakyatnya sedang ketakutan.
30 September 2009 adalah panggung yang memperlihatkan siapa Fauzi Bahar sebenarnya. Saya mengenal Fauzi Bahar bukan sebagai sosok yang selalu lembut. Sebaliknya. Saya mengenalnya sebagai orang yang keras. Orang Minang mungkin menyebutnya “pamberang”.
Kalau tidak berkenan di hati, ia bisa marah. Kalau melihat sesuatu yang dianggap tidak benar, ia tidak selalu memilih diam. Kalau sudah mengambil sikap, sulit baginya untuk mundur begitu saja.
Bagi sebagian orang, karakter seperti itu mungkin terasa tidak nyaman. Tetapi setelah melihat bagaimana ia menghadapi gempa 30 September 2009, saya mulai memahami bahwa di balik karakter keras itu ada sesuatu yang jauh lebih besar. "keberanian."
Dan keberanian itulah yang di butuhkan sebuah kota ketika kepanikan sudah menguasai hampir semua orang. Ketika Bumi Berguncang, Pemimpin Tidak Boleh Ikut Guncang
Sore 30 September 2009. Kota Padang diguncang gempa dahsyat. Dalam hitungan menit, ketenangan berubah menjadi kepanikan. Orang berlari. Keluarga saling mencari. Informasi simpang siur. Ancaman tsunami menjadi ketakutan berikutnya.
Dalam situasi seperti itu, seorang pemimpin mempunyai dua pilihan.Ikut larut dalam kepanikan atau berdiri di depan kepanikan itu.
Fauzi Bahar memilih yang kedua.
Dari Balai Kota Padang di kawasan Jalan M. Yamin, ia bergerak menuju kawasan pantai. Ia tidak memilih menunggu laporan dari bawahan. Ia melihat sendiri. Ia ingin memastikan sendiri.
Dan ketika masyarakat membutuhkan kepastian, keluar pernyataan yang sampai hari ini masih saya ingat.
“Tidak ada tsunami.”
Bagi saya, kalimat itu bukan sekadar pernyataan. Itu adalah keberanian.
Sebab ketika ribuan orang sedang takut, siapa pun yang berdiri paling depan harus siap menanggung konsekuensi dari setiap kalimat yang diucapkannya.
“Pasukan Saya Ambil Alih”
Dari pantai, Fauzi Bahar kemudian menuju RRI di Jalan Sudirman. Radio menjadi salah satu media penting untuk menjangkau masyarakat. Ia berbicara langsung. Ia meminta masyarakat tetap tenang. Ia mencoba mengembalikan rasionalitas di tengah kepanikan. Lalu muncul kalimat yang menggambarkan karakter Fauzi Bahar. “Bapak Gubernur, Bapak Kapolda, Bapak Danrem, Danlanal, Danlanud, serta seluruh Kasat Pol PP se-Sumatera Barat, pasukan saya ambil alih.”
Saya membaca kalimat itu bukan sebagai kesombongan seorang pejabat. Saya melihatnya sebagai bahasa seorang komandan ketika keadaan membutuhkan keputusan. Ada waktunya pemimpin bermusyawarah. Ada waktunya pemimpin mendengar. Tetapi ada pula saat ketika pemimpin harus berkata.
“Saya bertanggung jawab.” Dan Fauzi Bahar mengambil posisi itu.
Di tengah kota yang sedang kacau, ia tidak ingin menjadi bagian dari kepanikan. Ia ingin menjadi bagian dari solusi. Pamberang yang Justru dibutuhkan Saat Krisis. Di sinilah saya mulai melihat Fauzi Bahar dari sudut yang berbeda. Selama ini karakter kerasnya bisa saja dibaca sebagai kelemahan.
Tetapi dalam keadaan tertentu, karakter yang sama dapat berubah menjadi kekuatan. Orang yang tegas ketika keadaan normal mungkin di anggap keras. Namun ketika keadaan genting, ketegasan dibutuhkan. Orang yang berani mengambil keputusan mungkin dianggap terlalu berani.
Namun ketika semua orang ragu, keputusan harus diambil. Orang yang tidak suka berputar-putar mungkin dianggap kasar.
Namun ketika waktu sangat berharga, tindakan tidak boleh terlalu lama menunggu. Itulah Fauzi Bahar yang saya lihat pada 30 September 2009.
“Pamberang”-nya tidak hilang.
Justru karakter itulah yang tampil dalam bentuk berbeda. Ia menjadi keberanian. Ia menjadi ketegasan. Ia menjadi keberanian untuk mengambil tanggung jawab. Antara Ikhtiar dan Tawakal
Ada satu sisi Fauzi Bahar yang menurut saya tidak boleh di lupakan, keyakinan agamanya.
Di tengah ketakutan menghadapi bencana, ia mengingatkan. “Tidak akan jatuh daun sehelai pun tanpa izin dari Allah.”
Kalimat itu memperlihatkan bagaimana agama menjadi sumber kekuatan batinnya.
Bukan berarti manusia tidak perlu berusaha. Justru sebaliknya. Manusia harus bergerak. Harus menyelamatkan sesama. Harus mengambil keputusan. Harus bekerja.
Tetapi setelah semua ikhtiar dilakukan, manusia menyadari bahwa kehidupan tetap berada dalam kekuasaan Allah SWT.
Di situlah keberanian dan tawakal bertemu.
Pemimpin Tidak Diukur dari Suara yang Lembut
Saya percaya, ukuran seorang pemimpin tidak selalu terletak pada seberapa lembut suaranya.
Pemimpin juga tidak selalu harus tampil dengan wajah yang menyenangkan semua orang.
Yang lebih penting adalah apakah ia hadir ketika rakyat membutuhkan.
Apakah ia berani mengambil keputusan?
Apakah ia bersedia memikul akibat dari keputusan tersebut?
Dan apakah ia tetap berdiri ketika keadaan menjadi sulit?
Pada 30 September 2009, Fauzi Bahar memberikan jawabannya dengan cara yang ia miliki. Ia turun.Ia bergerak. Ia berbicara. Ia mengambil tanggung jawab.
Karena itu, bagi saya, gempa 30 September bukan hanya cerita tentang bangunan yang runtuh. Ia juga menjadi semacam cermin yang memperlihatkan karakter manusia. Dan dalam cermin itu, saya melihat Fauzi Bahar sebagai sosok yang berbeda dari kesan awal saya. Tujuh Belas Tahun Kemudian
Hari ini, 30 September 2026.
Tujuh belas tahun telah berlalu.
Padang telah bangkit.
Kota ini kembali hidup.
Pembangunan berjalan.
Generasi berganti.
Tetapi sejarah tidak boleh hanya ditulis dari jumlah bangunan yang roboh dan berapa banyak yang dibangun kembali.
Sejarah juga harus mencatat manusia-manusia yang berada di tengah keadaan itu.
Fauzi Bahar adalah salah satunya.
Saya tidak mengatakan beliau manusia tanpa kekurangan.
Tidak ada manusia seperti itu.
Tetapi sejarah juga tidak adil jika seorang tokoh hanya dilihat dari kekurangannya tanpa melihat apa yang pernah dilakukannya ketika masyarakat membutuhkan.
Bagi saya, 30 September 2009 menjadi titik penting dalam melihat Fauzi Bahar.
Dulu saya mengenalnya sebagai “pamberang”.
Hari itu saya melihat seorang panglima.
Bukan panglima dengan pasukan bersenjata.
Tetapi panglima yang berdiri di tengah kepanikan rakyatnya.
Panglima yang mencoba menenangkan.
Panglima yang berani mengambil keputusan.
Panglima yang membawa keyakinan agama sebagai pegangan.
Dan panglima yang memahami bahwa jabatan bukan sekadar kehormatan, melainkan tanggung jawab.
Itulah mengapa 30 September 2009 bagi saya bukan hanya tentang gempa.
Ia adalah tentang karakter kepemimpinan.
Sebab ketika bumi berguncang, jabatan bisa kehilangan makna.
Yang tersisa hanyalah keberanian seseorang untuk berdiri.
Dan Fauzi Bahar memilih berdiri.
Warisan yang Lebih Panjang dari Sebuah Jabatan
Kini, mungkin banyak orang sudah lupa bagaimana suasana Kota Padang pada hari itu.
Anak-anak muda yang sekarang berusia belasan dan dua puluhan tahun mungkin hanya mengenal 30 September dari cerita orang tua, foto, berita dan catatan sejarah.
Karena itu, pengalaman tersebut harus terus diceritakan.
Bukan untuk mengkultuskan seseorang.
Tetapi untuk mengambil pelajaran.
Bahwa daerah ini pernah memiliki pemimpin yang ketika menghadapi keadaan genting memilih turun ke tengah masyarakat.
Bahwa keberanian bukan berarti tidak takut.
Keberanian adalah tetap menjalankan tanggung jawab ketika ketakutan ada di sekeliling kita.
Dan bahwa seorang pemimpin boleh saja dikenal keras, tetapi yang paling penting adalah bagaimana ia menggunakan kekerasan karakter itu untuk menghadapi persoalan, bukan untuk menindas orang lain.
Bagi saya, itulah sisi Fauzi Bahar yang layak dikenang.
Seorang “pamberang” yang pada suatu sore yang kelam justru memperlihatkan dirinya sebagai panglima.
Semoga Allah SWT memberikan kesehatan, kekuatan dan umur panjang kepada Fauzi Bahar.
Semoga nilai agama, adat, keberanian dan kecintaannya kepada Kota Padang dan Sumatera Barat dapat menjadi bagian dari warisan moral bagi generasi muda.
Sebab Padang tidak hanya membutuhkan gedung yang kokoh.
Padang juga membutuhkan manusia yang kokoh.
Tidak hanya membutuhkan orang pintar.
Tetapi juga membutuhkan orang yang berani bertanggung jawab.
Dan tidak hanya membutuhkan pemimpin ketika keadaan tenang.
Kita membutuhkan pemimpin yang tetap berdiri ketika bumi berguncang.
Karena pada akhirnya, sebuah kalimat yang pernah menjadi napas kepemimpinan Fauzi Bahar masih terasa relevan untuk direnungkan.
Penulis :
Ketua Lembaga Anti Narkotika (LAN) Provinsi Sumatera Barat
Ketua Forum Anak Nagari (FKAN) Sumatera Barat.
