KAPOLRES MENTAWAI PERHATIKAN DESA "MISKIN" DI BUMI SIKEREI

Kapolres Mentawai Perhatikan Desa "Miskin" di Bumi Sikerei

Deskripsi




Sebuah realita yang “terpampang” di daerah yang subur, namun belum membuat masyarakatnya makmur.

MENTAWAI, Pionir—Kapolres Mentawai AKBP Dody Prawiranegara, SH, MH, S.IK menaruh perhatian khusus pada desa Taikako yang berada di kecamatan Sikakap. Dody Prawiranegara sengaja menyediakan 400 masker untuk dibagikan di desa dengan luas 166,06 kilometer persegi dan berpenduduk 3.186 jiwa lebih, yang terdiri dari 1.678 laki-laki dan 1.508 perempuan itu.

Pada Rabu 22 April 2020 rombongan personel Polres Sikakap pun bergerak menuju desa Taikako yang terdiri dari 19 dusun itu untuk membagikan masker yang berasal dari bantuan Kapolres Mentawai AKBP Dody Prawiranegara.

Rombongan dari Polsek Sikakap ini dipimpin Waka Polsek Ipda Yanuar mewakili Kapolsek Sikakap Iptu Hendri SH didampinggi oleh Bhabin Desa Taikako Briptu Azriardu, Bhabin Matobe Briptu Ade. S dan Bhabin Saumangganyak Briptu Firmansyahputra. Kata Ipda Yanuar kepada Pionir, Kamis 23 April 2020, desa Taikako ini dipilih karna di desa yang berjarak 11 kilometer dari dari ibukota kecamatan dan 123 kilometer dari ibukota kabupaten ini memang banyak masyarakatnya yang berkehidupan kurang mampu.

Padahal kata Yanuar, desa ini berada dalam konsesi HPH PT. Minas Pagai Lumber, yang beroperasi sejak 1970-an, namun tak membuat desa Taikako ini lepas dari ketertinggalan. Dari pantauan Pionir di desa Taikako ini akses jalan masih buruk, rumah-rumah panggung kayu tanpa dilengkapi listrik dan air juga masih ditemukan di desa ini.

Padahal bertahun-tahun hasil kayu di Pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan, terambil buat kepentingan perusahaan PT. Minas Pagai Lumber itu, namun kehidupan masyarakat miris.

Ketika Pionir beberapa tahun lalu mendatangi desa ini, di salah satu gubuk di pinggir hutan terlihat seorang nenek duduk di teras rumah. Perempuan itu tampak kaget saat rombongan wartawan ditemani Satriman Sababalat, Kepala Dusun Taikako Hulu Timur, dan beberapa warga mendekati rumahnya. 

Dia tinggal di pondok pinggir hutan sedirian. Tanpa penerangan dan kamar mandi dan kakus (MCK). Sehari-hari bertahan hidup dari pisang dan talas. 

Nenek Rinjani Sabelau berusia 78 tahun. Dia menempati rumah kayu berukuran 4×3 meter persegi. Rumah terbagi dua, satu jadi kamar tidur dan sebagian lagi beranda rumah untuk duduk-duduk dan memasak.

Sementara itu disampingnya disua perkakas berupa periuk, kuali dan beberapa alat dapur seadanya tersusun sejajar tak jauh dari Rinjani duduk.

Sementara dinding rumahnya yang terbuat dari papan terlihat berlubang-lubang dan mulai keropos termakan rayap. Inilah potret penduduk yang pernah ditemui wartawan Pionir sekitar dua tahun lalu di Taikako, kecamatan Sikakap, kabupaten Kepulauan Mentawai.

Sebuah realita yang “terpampang” di daerah yang subur, namun belum membuat masyarakatnya makmur. (Firman Sikumbang)

Post a Comment

[facebook]

Author Name

{picture#YOUR_PROFILE_PICTURE_URL} YOUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.