YP. Sefdi Roentoe Menyentuh Kesadaran Pelajar soal Bahaya Narkotika
Dengan mikrofon di tangan dan bahasa yang mengalir lugas, ia mengajak anak-anak sekolah menyelami satu persoalan serius yang kerap tersembunyi di balik bahaya laten narkotika.
Sefdi Roentoe tidak memulai dengan ancaman atau data yang rumit. Ia membuka pembicaraan lewat cerita-cerita sederhana tentang pergaulan, tentang pilihan hidup, tentang masa depan yang bisa runtuh hanya karena satu kesalahan.
Cara bertuturnya ringan, sesekali diselingi humor kecil yang membuat para pelajar tersenyum, namun di balik itu tersimpan pesan yang dalam. Setiap kata seolah mengetuk kesadaran, bahwa narkotika bukan sekadar barang terlarang, melainkan pintu menuju kehancuran.
Deretan siswa duduk bersila rapi, sebagian menyimak dengan wajah serius, sebagian lain menunduk merenung. Dari barisan depan hingga belakang, perhatian tertuju pada sosok di tengah halaman itu. Suasana hening sesekali pecah oleh respons spontan para pelajar, tanda bahwa materi yang disampaikan benar-benar sampai dan dipahami.
Di sinilah letak kekuatan Sefdi Roentoe, ia menjembatani pesan besar dengan bahasa anak-anak, menjadikan isu berat terasa dekat dan nyata.
Ia menegaskan bahwa narkotika sering datang dengan wajah ramah, melalui bujuk rayu, pertemanan, atau rasa ingin tahu. Namun di baliknya tersimpan dampak panjang, rusaknya kesehatan, terputusnya pendidikan, hilangnya kepercayaan orang tua, dan runtuhnya cita-cita. Pesan itu disampaikan tanpa menghakimi, melainkan sebagai ajakan untuk berpikir dan memilih dengan sadar.
Di akhir penyampaian, semangat pun terasa menguat. Para pelajar tidak hanya mendengar, tetapi diajak menjadi bagian dari solusi. Menjaga diri, saling mengingatkan, dan berani berkata tidak pada narkotika menjadi komitmen moral yang ditanamkan sejak dini.
Halaman sekolah itu pun menjadi saksi tumbuhnya kesadaran kolektif generasi muda. Begitulah gaya YP Sefdi Roentoe menyampaikan bahaya narkotika: sederhana namun mengena, santai namun sarat makna. Dari ruang terbuka sekolah, ia menyalakan api kesadaran bahwa masa depan anak bangsa terlalu berharga untuk dikorbankan oleh narkotika. (Firman Sikumbang)


0 Comments